Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Kisah-Kisah di Pecinan Kota Kediri (2)

Dibagi Dua Lotia dan Dimpimpin Kapiten

09 Maret 2018, 00: 50: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

kawasan pecinan - radar kediri

PENANDA: Gerbang berarsitektur tiongkok di kawasan Pecinan Kediri. (M FIKRI ZULFIKAR - JawaPos.com/RadarKediri)

Share this          

Seiring berjalannya waktu, kawasan Pecinan di Kota Kediri pun ikut berkembang. Kawasan yang dulunya tidak ada struktur administratif, kemudian dibagi menjadi dua Lotia. Kawasan itupun dipimpin oleh seorang pejabat.

Perlahan, kawasan Pecinan yang ada di sekitar Kelenteng Tjoe Hwie Kiong pada zaman kolonial Belanda terus berkembang. Akhirnya, dilakukanlah pembagian wilayah. Nama wilayah tersebut adalah Lotia atau saat ini setara dengan kelurahan.

Ada dua Lotia pada masa itu, yakni di wilayah utara yang disebut dengan Lotia Khing Siang dan wilayah selatan adalah Lotia Liong Gwan.

Untuk memimpin kawasan yang sudah dibagi itulah, pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengangkat seseorang. Lalu, dipilihlah Djie Ting Hian yang diberi gelar Kapiten. “Tapi gelar Kapiten di sini bukan merupakan militer,” kata Ishak S. Dharma Putra kepada wartawan koran ini.

Djie Ting Hian

Djie Ting Hian

Sosok Djie Ting Hian sendiri dipilih karena dia memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi di antara komunitas keturunan Tionghoa saat itu. Tak hanya itu, Djie Ting Hian juga dikenal sebagai warga yang cukup kaya. Dia banyak memiliki tanah yang luas di kawasan Pecinan. “Lalu tanahnya banyak yang dihibahkan,” sambung Ishak.

Salah satu tanah dan rumah yang dihibahkan ada di Jalan Yos Sudarso, atau tepatnya sekarang ini menjadi lokasi Gereja Kristen Indonesia (GKI). Sayang, rumah sang Kapiten itu kini tidak bisa dilihat lagi secara utuh seperti aslinya.

Sosok Djie Ting Hian sendiri pada masa itu sangat dihormati oleh warga. Karena itulah, Djie Ting Hian disebut-sebut menjadi sosok yang mampu menjaga keharmonisan warga pada saat itu. “Secara fisik, badannya juga tinggi-besar,” sambung Ishak yang pada masa mudanya menjadi fotografer.

Sementara itu, ternyata pengelompokan etnis Tionghoa pada masa itu merupakan taktik politik kolonial Belanda. Saat itu, pemerintah kolonial selalu mengelompokkan masyarakat sesuai dengan golongan atau etnis tertentu. “Di Jawa, penanggung jawab kawasan Pecinan selalu seorang Kapiten,” kata Achmad Zainal Fahris, sejarawan Kediri sekaligus penggiat budaya ini.

Tidak sekadar memimpin wilayah, kata Fachris, tugas dari seorang Kapiten ini juga sekaligus bertanggung jawab atas warga yang dipimpinnya. Mulai dari meminimalisasi kerusuhan warga hingga pemberontakan. “Hingga dia (Kapiten Djie Ting Hian, Red) juga sebagai tempat keluh kesah warga Tionghoa di Kota Kediri saat itu,” tegasnya.

(rk/fiz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia