Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features
Inovasi M Yazid

Sukses Bikin Stik setelah Praktik Berulang

Kembangkan Buah Naga Jadi Beragam Olahan

17 Februari 2018, 09: 12: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

HASIL KREASI: M Yasid menunjukkan stik buah naga olahannya. Produk stik buah itu sudah dipasarkan hingga ke luar Nganjuk.

HASIL KREASI: M Yasid menunjukkan stik buah naga olahannya. Produk stik buah itu sudah dipasarkan hingga ke luar Nganjuk. (Anwar Bahar Basalamah - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Inovasi bisa muncul dari mana saja. Seperti yang dialami M.Yazid, pelaku UMKM asal Desa Bagorkulon, Kecamatan Bagor. Berangkat dari keresahan petani buah naga saat harga anjlok, dia justru mampu menciptakan berbagai olahan makanan dari buah itu.

ANWAR BAHAR BASALAMAH

Rumah di sebelah utara MTs Negeri 1 Bagor itu, terlihat sederhana. Di terasnya ada sebuah lemari kaca berisi produk-produk makanan olahan. Di sana, M.Yazid, sang tuan rumah, biasanya menaruh barang dagangannya. Mulai dari stik bawang, bawang goreng, kerupuk ikan.

Ya, pria yang beralamat di Desa Bagorkulon, Kecamatan Bagor itu memang pelaku usaha miko kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Nganjuk. Saat ditemui di rumahnya, Senin sore lalu (12/2), Yazid baru saja tiba dari Surabaya. “Tadi pagi masih ngantar pesanan ke Surabaya,” kata Yazid.

Sambil bersantai di ruang tamu, Yazid banyak bercerita soal produk makanan olahan yang dikelolanya. Termasuk stik dari olahan buah naga. Dari rasanya, stik berwarna kemerahan itu memang tidak berbeda jauh dari buah naga. “Sama bentuknya dengan stik-stik yang lain. Cuma warnanya merah dan agak manis,” lanjut pria 46 tahun ini.

Dibanding makanan olahan lain, produk stik buah naga tergolong baru. Dia baru memasarkannya pada 2016. Ide membuat stik itu berawal dari keresahan petani buah naga di Kecamatan Tanjunganom.

Sekitar dua tahun lalu, harga buah naga anjlok hingga hanya Rp 5 ribu per kilogram. Padahal, biasanya harga buah naga di tingkat petani antara Rp 10 ribu hingga 12 ribu per kilogram.

Melihat keresahan petani, Yazid memikirkan bagaimana cara mengolah buah naga agar memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dibantu Titin Supriatin, sang istri, pria kelahiran Gresik, 14 Agustus ini menciptakan stik buah naga.

Di awal, Yazid mengaku mengalami banyak kegagalan. Sedikitnya, dia lima kali gagal saat mencoba membuat stik  buah naga. Rupanya, kandungan air buah naga berbeda dengan mangga dan bawang. Buah yang juga dikenal dengan nama dragon fruit itu memiliki kandungan air lebih banyak.

Karenanya, Yazid baru berhasil membuat komposisi yang pas setelah dia tidak menambahkan air di adonan. “Hasilnya bisa seperti stik yang sekarang. Halus dan tidak gampang patah,” kenangnya.

Sebenarnya, cara membuat stik buah naga sama dengan stik-stik yang lain. Pertama, Yazid akan memilih buah naga yang matang. Setelah diambil daging buahnya, kemudian diblender. Untuk memberikan rasa, dia menambahkan bumbu seperti bawang merah dan bawang putih. Setelah itu, olahan diblender lagi sebelum dicetak dan digoreng.

Setiap satu plastik stik seberat 175 gram dijual Rp 12 ribu. Setiap hari dia menghabiskan sekitar 2 kilogram (kg) buah naga dan menghasilkan 25 bungkus stik. Selain dipasarkan di beberapa minimarket di Kabupaten Nganjuk, dia juga memiliki pelanggan dari luar kota. Mulai dari Surabaya dan Kediri. “Kota-kota lain juga minta. Sesuai pesanan,” urainya.

Semakin lama, stik buah naga buatannya semakin dikenal. Kini, dia bisa meraup omzet sekitar Rp 3 juta per bulan. Tak hanya mengolah buah naga menjadi stik, Yazid berencana mengolah buah naga menjadi beberapa produk makanan ringan.

Dalam waktu dekat, dia ingin berinovasi membuat keripik dari buah naga. Sebelumnya, Yazid juga sudah pernah praktik membuat puding dari buah naga. “Kulitnya bisa dioseng-oseng setelah diproses diberi air garam agar lembek,” terangnya.

 Apakah puding buah naga buatannya juga akan dipasarkan? Ditanya demikian, Yazid mengaku memiliki pekerjaan rumah (PR) khusus untuk memasarkan  puding. Yaitu, dia harus bisa membuat produk dalam kemasan yang awet. Tujuannya agar bisa dipasarkan ke luar kota.

                 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia