Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik
Jembatan Ngadijo

Kebut Dinding Penahan Longsor

14 Januari 2018, 21: 00: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

jembatan ngadijo - radar kediri

KEBUT PROYEK: Pekerja mengoperasikan alat berat untuk membangun dinding penahan longsor Jembatan Ngadijo yang belum selesai. (M FIKRI ZULFIKAR - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN– Hampir setengah bulan pembangunan jembatan penghubung Kecamatan Ngadiluwih dengan Mojo (Ngadijo) molor. Proyek yang dijadwalkan harus selesai 31 Desember 2017 lalu itu masih terus dikerjakan hingga kemarin.

          Pelaksana proyek mengebut pekerjaan agar pembangunan jembatan di atas Sungai Brantas tersebut tidak terlalu lama. Terlebih pekerjaan pembuatan dinding penahan longsor yang belum selesai sampai kemarin. Akibat kemoloran itu, fasilitas infrastruktur ini belum siap dibuka untuk umum.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri di lokasi proyek kemarin, terlihat pengerjaan penahan longsor bagian barat, sisi Desa Tambibendo, Kecamatan Mojo terus di kebut. Dari dua sab yang diperlukan untuk menutup dinding penahan longsor. Hanya satu sab di utara jembatan yang sudah hampir selesai dan ditutup batu bangunanya, untuk satu sab dan dua sab di selatan jembatan masih proses pemadatan tahan.

“Terus dikebut oleh kontraktor agar segera selesai pembangunannya,” terang Pengawas Jembatan Badan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) 8 PPK 13 Harsono.

Tidak hanya itu, terlihat selain para pekerja terus menata batu di bagian utara jembatan dan menyemen dinding penahan longsor. Dua alat berat ekskavator juga membantu untuk memadatkan dinding. Juga mobil molen juga tidak henti-hentinya silih berganti mengirim semen untuk membeton dinding itu.

Namun masih sangat banyak pekerjaan yang harus diselesaikan agar bulan ini bisa selesai dan segera bisa diresmikan. “Memang positif molor. Tapi diusahakan agar tidak molor sampai satu bulan,” ungkap pria berkumis tebal ini.

Terlebih setelah dinding dihantam debit air sungai berantas yang meninggi membuat longsoran dinding semakin panjang dan lebar. Membuat pembangunan dinding penahan longsor bertambah dati 80 meter menjadi 145 meter panjangnya.

Hal ini membuat kemoloran pekerjaan jembatan ini diprediksi semakin panjang. “Karena molor jelas rekanan (PT Dwi Mulyo Lestari, Red) yang membangun jembatan ini akan kena denda. Tapi teknis denda saya tidak bisa menjelaskannya. Karena bukan kewenangan saya,” ujar Harsono.

Karena terjadi kemoloran hingga lebih dari setengah bulan ini. Target awal bahwa mulai tahun baru atau tanggal 1 Januari jembatan itu sudah bisa dilewati kendaraan, kini menjadi belum bisa digunakan.

Masih banyak pekerja dan alat-alat berat yang melewati jembatan itu. Dan akan berbahaya jika jembatan nekat dibuka untuk umum. “Tapi secara fisik jembatan sudah bisa digunakan sebenarnya. Tapi tidak ingin ada risiko kalau tetap dibuka kalau belum 100 persen selesai,” tegasnya.

Untuk diketahui, proyek pembangunan Jembatan Ngadijo ini mulai dikerjakan pada Mei 2017 lalu. Dengan ditandai groundbreaking yang dilakukan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Jembatan yang memiliki bentang panjang sekitar 184 meter dan lebar 9 meter itu pun ditargetkan Kementerian PUPR bisa selesai 31 Desember 2017 lalu. Setelah jembatan ini selesai dibangun, informasi yang dihimpun koran ini akan kembali diresmikan oleh Menteri PUPR tersebut.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia