Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom

Tak Menggelitik di Tahun Politik

14 Januari 2018, 16: 43: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

SRI UTAMI

SRI UTAMI

Share this          

Tahun 2018 ini disebut banyak kalangan sebagai tahun politik. Bukan hanya karena hajatan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak Juni nanti. Tetapi juga hajatan yang lebih besar tahun depan. Pemilihan legislatif (pilleg) dan pemilihan presiden (pilpres).

Di Nganjuk, tahun ini merupakan tahun supersibuk bagi partai politik (parpol). Selain harus menyiapkan mesin untuk pilkada yang tinggal lima bulan lagi, mereka juga harus menyiapkan diri untuk pilleg.

Beberapa partai bahkan sudah membuka pendaftaran calon anggota legislatif (caleg). Di saat yang sama, parpol juga harus mengorganisir struktural dan kader untuk memenangkan pasangan bakal calon bupati yang diusung.

Karenanya, bisa jadi, tahun ini memang benar-benar tahun politik. Politik yang biasanya hanya menjadi urusan partai, tahun ini jadi urusan banyak orang. Semua warga Nganjuk ikut berpolitik. Masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai yang mengaku pedagang, yang mengaku pengamat, yang mengaku pengusaha sampai yang mengaku petani ikut-ikutan membahas politik.

Menurut teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dari teori Aristoteles itu, politik memang bukan monopoli parpol yang memang merupakan organisasi politik.

Sesuai teori klasik Aristoteles, masyarakat memiliki peranan penting. Bahkan jadi penentu apakah suatu usaha bisa mewujudkan kebaikan bersama atau justru sebaliknya.

Sebelum era teknologi, peranan masyarakat dalam politik hanya sebatas memberikan suara saat pemungutan suara. Di era teknologi dan berkembangnya media sosial (medsos) seperti sekarang, peran masyarakat lebih luas lagi.

Tak sekadar menyalurkan hak suara, melalui medsos mereka bisa beropini. Menyampaikan pemikiran masing-masing terkait calon kepala daerah yang maju di pilkada.

Berusaha memengaruhi pengguna medsos lainnya untuk mengikuti pemikiran mereka. Bahkan, belakangan banyak yang berusaha menjadi buzzer politik. Tak ubahnya fungsi kentongan yang di era lama dibunyikan untuk mengumpulkan warga di satu tempat, buzzer, melalui opini-opininya, berusaha menggiring persepsi pemilih untuk mengikuti pilihannya.

Jika dulu buzzer merupakan orang-orang yang memiliki pengikut atau teman banyak di medsos, siapapun sekarang bisa atau memaksakan diri menjadi buzzer. Caranya beragam. Mulai membuat akun-akun fiktif hingga membuat grup-grup medsos yang bisa digunakan untuk menggiring opini.

Tak heran, belakangan marak akun-akun fiktif atau biasa disebut akun ternak yang bermunculan. Akun setan (sebutan untuk akun yang tidak jelas identitasnya) inilah yang meresahkan. Penggiringan opini dilakukan tidak dengan cara-cara yang baik. Hate speech atau ujaran kebencian menjadi hal yang lumrah.

Fitnah dan umpatan-umpatan menjadi hal yang biasa. Medsos yang seharusnya jadi ajang untuk mencari simpati, jadi ajang saling menjelekkan yang tak jarang berujung pada putusnya pertemanan di dunia nyata.

Seberapa efektif aktivitas para buzzer itu? Jika member grup medsos merupakan akun-akun riil, bisa jadi, mereka bisa memengaruhi persepsi pemilih untuk mengikuti kemauan mereka. Terutama jika para buzzer bisa memaparkan data-data yang akurat dan melakukannya dengan cara yang simpatik.

Meski pengguna internet di Nganjuk belum sebanyak kota besar lainnya, setidaknya mereka bisa menggunakan medsos untuk mengampanyekan kandidat yang mereka dukung. Tetapi, yang menjadi tren belakangan ini justru sebaliknya.

Akun-akun fiktif menebar kebencian di berbagai forum yang akhirnya mengundang perdebatan panjang tak berujung. Mereka lupa tujuan utamanya, mengajak pengguna medsos lain untuk mengikuti kemauan mereka.

Jika hal serupa terus terjadi, tujuan penggunaan medsos sebagai alternatif kampanye murah melawan money politic tidak akan tercapai. Saat para pengguna medsos sibuk dengan peperangannya sendiri, tim sukses pasangan calon sudah bergerilya hingga ke pelosok Nganjuk.

Memengaruhi pemilih lewat forum-forum cangkruk di warung, sawah hingga door to door. Menyosialisasikan janji-janji kandidat untuk perbaikan Nganjuk. Setelah itu, beberapa hari kemudian sang kandidat akan mendatangi lingkungan warga sembari membawa sejumlah ‘bantuan’.

Jika sudah demikian, mana yang lebih efektif? Perang status di medsos hingga memunculkan komentar ratusan tanpa hasil atau turun langsung ke masyarakat yang menjadi sasarannya? Jawabannya, adalah tergantung cara yang ditempuh.

Masyarakat Nganjuk sudah bisa memilah dan memilih. Menghitung keuntungan instan yang didapat dari pesta lima tahunan dibanding dampak yang mereka rasakan lima tahun ke depan. Saya yakin masyarakat tidak akan mudah lupa kesengsaraan yang mereka rasakan saat harus melewati jalan berlumpur karena aspal yang mengelupas saat hujan.

Mereka pasti belum lupa nelangsanya baju kotor saat berangkat ke kantor atau ke sekolah karena terkena cipratan kendaraan lain. Belum lagi warga yang harus membelah hutan karena akses jalan satu-satunya rusak parah dan tak bisa dilewati.

Masa kampanye dimulai sebentar lagi, saatnya warga Nganjuk mencermati visi dan misi pasangan calon untuk memajukan Nganjuk. Menimbang mana program kerja calon bupati yang benar-benar bisa terealisasi dan bermanfaat untuk masyarakat.

Tak perlu lagi menggelitik jika dampaknya hanya akan membuat orang tertawa geli. Apalagi melakukan black campaign yang hasilnya justru akan kontraproduktif. Gunakan medsos untuk hal-hal yang positif karena jejak digital tidak akan bisa dihapus sampai kapanpun. Kontribusi positif atau negatif kita akan terus tersimpan sampai kapanpun. (Penulis adalah Wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia