Jumat, 05 Jun 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Sawah Kebanjiran, Waswas Gagal Panen

26 Desember 2017, 14: 24: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

sawah tergenang - radar kediri

MASIH TERENDAM: Lahan sawah padinya yang masih tergenang air banjir akibat hujan deras di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo. (M FIKRI ZULFIKAR - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

KEDIRI KABUPATEN– Kerugian petani akibat areal lahan pertaniannya terendam banjir di Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo semakin terlihat. Padi yang baru ditanam dan siap mengeluarkan bulir bijinya terancam rusak. Bahkan bisa mengalami gagal panen akibat banjir yang melanda sejak Kamis (21/12) lalu.

Beberapa usulan solusi pun disampaikan para petani setempat. Namun mereka perlu dukungan pemerintah untuk merealisasikannya agar area lahannya yang langganan banjir setiap tahun bisa berhenti.

Kerugian yang sudah bisa terlihat adalah pada dua petak sawah milik Wildan, 35, petani asal Desa Putih. Satu petak sawah yang tanaman padinya baru berumur satu bulan terancam rusak akibat terendam banjir.

Namun, menurutnya, dengan perawatan ekstra dan penambahan biaya perawatan dia optimis bisa memanen padinya hingga tiga bulan ke depan. “Tapi kemungkinan itu memang sedikit untuk pemulihannya. Tapi kemungkinan bisa pulih ada,” terang pria berambut gondrong itu.

Untuk satu petak sawahnya yang satu setengah bulan lagi bisa dipanen itu. Dia pesimistis, bisa memanen padinya dengan maksimal. Karena setelah terendam banjir itu, dari pengalaman setiap tahun tanaman itu akan jebul bulir-bulir gabah padinya.

Tetapi gabahnya lebih cerah dan saat diperhatikan. Gabah itu kosong atau tidak ada berasnya alias kopong dan tidak ada hasilnya. “Kerugian yang bisa terlihat ini ya Rp 10 juta habis Mas. Yang saya sayangkan satu petak yang sebentar lagi panen itu jadi rusak,” ungkapnya.

Wildan pun memperkirakan sawahnya dan warga lain seluas 60 hektare (ha) itu terendam dikarenakan ada dua aliran sungai yang saat hujan deras selalu airnya mengarah kea real sawah tersebut.

Satu aliran Sungai Kresek dan satu adalah irigasi yang berada di timur rel kereta api (KA) yang berbelok ke barat mengarah ke areal sawah mereka. “Kalau saja sungai kecil di timur rel itu dibablaskan ke utara sampai bermuara ke Sungai Turi. Banjir setiap tahun tidak akan terjadi,” terangnya.

Menurut Wildan, potensi luberan Sungai Kresek dengan irigasi timur rel KA itu lebih banyak menyumbang air banjir adalah irigasi tersebut. Sehingga jika irigasi tersebut bisa diarahkan ke utara banjir tidak akan terjadi lagi.

Adapun Sungai Kresek jika tanggulnya jebol pun kerusakan tidak sebesar banjir seperti yang terjadi mulai Kamis lalu itu. “Itulah solusi yang setiap kali kita suguhkan. Tapi bertahun-tahun tidak ada realisasinya,” tegas Wildan.

Untuk diketahui, akibat hujan lebat yang terjadi Rabu malam (20/12) menyebabkan 60 hektare sawah di Desa Putih mengalami kebanjiran dan tanamannya diprediksi bakal gagal panen. Keadaan ini pun sudah bertahun-tahun berlangsung dan minim sekali solusinya. Hingga saat ini para petani di Desa Putih pun menunggu solusi terbaik agar setiap musim hujan mereka tidak lagi waswas bila menghadapi banjir.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia