Sabtu, 21 Sep 2019
radarkediri
icon featured
Features

Fantasi untuk Merawat Harapan

24 Desember 2017, 18: 21: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

buku fantasi - radar kediri

Share this          

Judul Buku      : Fantasi

Penulis             : M. Fikri Zulfikar

Penerbit           : Aksara Rentaka Siar

Terbit               : Oktober 2017

Tebal               : 120 halaman

ISBN               : 978-602-72648-9-2

 

Di zaman yang seringkali disebut dengan era kids zaman now ini, manusia akan dihadapkan dengan beragam realitas yang tak semua sesuai dengan harapannya. Beragam inovasi serta penemuan baru, mampu menggusur panji-panji yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun. Banyak perusahaan besar mulai tumbang bahkan beralih fungsi akibat ketidakmampuanya menghadapi realitas zaman. Prof. Rhenald Kasali dari Universitas Indonesia menyebut kondisi ini dengan istilah Disruption. Ketika orang tak bisa menghadapi kenyataan yang semakin terdisrupsi, maka dampak yang ditimbulkan beragam.  Ada yang bunuh diri, gila, stres, putus asa, bahkan bertindak di luar akal sehat. Oleh sebab itu dibutuhkan para perawat harapan untuk menghadapi realitas kehidupan yang semakin berloncatan satu sam lain.

Salah satu cara jitu untuk merawat harapan adalah dengan berfantasi. Melalui proses fantasi, manusia sesungguhnya sedang memperpanjang asa untuk hidup menghadapi realitas-realitas yang dialaminya. Paulo Freire bahkan mengatakan bahwa tanpa pengharapan, manusia akan hidup dalam keputusasaan yang tragis. Manusia tidak akan bisa menunjukkan eksistensinya apabila tidak memiliki harapan. Itulah sebabnya Freire mencetuskan konsep pedagogi harapan guna menjaga agar harapan tidak sirnah apalagi salah arah. Buku kumpulan cerpen (kumcer) berjudul Fantasi yang disajikan oleh M. Fikri Zulfikar ini merupakan salah satu perwujudan dari pedagogi harapan itu.

Kumcer  Fantasi berisi tiga belas cerita yang penuh dengan harapan dalam setiap kisahnya. Tokoh yang disajikan merupakan masyarakat awam yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan serta tema yang dipilih pun juga tentang masalah sehari hari seperti perselingkuhan, harta, iri hati, dan beragam masalah yang mewujud menjadi realitas hidup. Tokoh-tokoh dalam kumcer Fantasi memiliki beragam cara untuk menyelesaikan masalah, tapi satu benang merah yang dapat ditarik adalah kemampuan tokoh untuk mengolah harapan. Harapan tersebut diolah dengan berbagai fantasi yang sesungguhnya diciptakan oleh manusia itu sendiri.

Cerpen berjudul Fantasi merupakan contoh realitas pahit yang sering ditemui oleh anak zaman sekarang. Ketidakmampuan tokoh utama untuk menerima dirinya sebagai seorang jomblo membuatnya berharap ingin punya pacar. Realitas yang ditemuinya seperti melihat orang boncengan, melihat orang bermesraan, membuat tokoh utama semakin merasa terdiskreditkan keberadaan asmaranya. Oleh sebab itu, dia berfantasi melakukan hubungan intim dengan wanita pujaannya. Upaya untuk berfantasi ini sesungguhnya merupakan upaya untuk bertahan hidup melalui harapan. Ketika tokoh tersebut tidak berfantasi atau berharap, bisa jadi dia malah frustasi dan terjerumus dalam alam sesat pikir yang perlahan membunuhnya.

Harapan dalam Kumcer Fantasi juga disajikan secara metafisik seperti yang terdapat pada cerpen bertajuk Demit, Jimat, dan Hamba. Melalui cerpen Demit, penulis memiliki harapan agar para koruptor di negeri ini disantap oleh iblis. Jumlah yang ditargetkan pun tidak main-main yaitu seribu koruptor, agar iblis menjadi semakin sakti. Terlihat bahwa penulis sangat menginginkan kematian koruptor atau kematian kebatilan dalam negerinya sendiri. Tokoh metafisik berupa Jin merupakan harapan penulis untuk menghabisi para koruptor. Cerpen Jimat pun juga menggunakan tokoh metafisik berupa kera putih yang dipercaya memiliki kesaktian untuk mengawetkan usia pengikutnya. Dalam cerpen ini ada sudut pandang berbeda pada lintas generasi dalam menanggapi harapan. Sudut pandang pertama adalah sudut pandang seorang kakek yang tak juga mati karena memiliki Jimat berupa kera putih, sedangkan sudut pandang kedua adalah sudut pandang cucunya yang  justru ingin cepat mati ketika kera putih itu mengikutinya.

Kedua sudut pandang ini menunjukkan cara pandang dua generasi yang terpaut usia cukup jauh dalam menanggapi harapan. Generasi tokoh kakek memiliki keyakinan bahwa memelihara kera putih sebagai jimat merupakan salah satu upaya dalam merawat harapan. Di sisi lain, generasi cucunya sangat risih ketika diikuti oleh kera putih itu sehingga ia ingin melawanya dengan harapan yang lebih logis yaitu bunuh diri. Kematian yang dikehendaki oleh tokoh cucu, merupakan upaya sadar untuk menghancurkan simbol metafisik yang selama ini dijadikan sumber pengharapan bagi kakeknya. Apabila merujuk filsafat Nietzche maka harapan jenis Jimat ini bisa dikategorikan sebagai pusat kendali eksternal. Seseorang merasa percaya diri apabila memiliki pusat kendali eksternal yang mampu memberi rasa nyaman bagi dirinya agar tetap terus hidup.

Harapan dalam bentuk pusat kendali eksternal secara metafisik juga tampak dalam cerpen Hamba. Dalam cerpen tersebut diceritakan rasa iri hati seorang kakak yang melihat adiknya menikah. Si kakak merasa tersaingi dan ‘kalah cepat’ dengan adiknya sehingga dia berdoa pada malaikat Jibril agar rumah tangga adiknya hancur. Rasa sakit hati yang dimiliki oleh tokoh kakak semakin menjadi-jadi tatkala melihat sang adik dan istrinya begitu mesra saat di rumah. Doa dan harapan pun semakin gencar dilakukan oleh kakak untuk merusak rumah tangga adiknya. Cerpen ini menunjukkan bahwa harapan yang pupus merupakan sumber rasa sakit dalam diri manusia. Rasa sakit tersebut akan menjadi semakin dalam apabila harapan dalam diri manusia tidak terwujud, oleh sebab itu diperlukan kecerdasan dalam mengelola harapan. Tokoh kakak merupakan contoh pengelolaan harapan yang tidak cerdas dan tidak bijak. Sekali lagi ia mengandalkan pusat kendali eksternalnya yang dalam cerpen ini berbentuk Malaikat Jibril. Di akhir cerita, malaikat Jibril malah berubah menjadi setan ganas dan membuat kakak yang iri tadi mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.  Kematian tokoh kakak sesungguhnya bukan karena dibunuh oleh malaikat Jibril, tapi karena dibunuh oleh ketidakmampuanya dalam mengelola harapan pada dirinya sendiri.

Cerita berjudul Hamba bukanlah satu-satunya cerita yang menjadikan kematian sebagai harapan terakhir. Masih ada beberapa cerita dengan mengangkat tema kematian sebagai jawaban atas segala bentuk penderitaan menghadapi realitas duniawi. Penulis seolah ingin mengatkan bahwa masih banyak masyarakat yang percaya tentang kekalan hidup setelah mati. Bukan hanya itu, penulis juga kerap kali menghadirkan moral literer dalam setiap naskahnya. Gunawan Tri Atmodjo mengatakan bahwa moral literer itu merupakan dikotomi antara hitam dan putih. Perilaku hitam akan menjadi hitam dan harus mendapatkan hukuman sedangkan perilaku putih akan memperoleh nikmat baik dunia maupun akhirat. Moral literer memang sering kali dijumpai dalam masyarakat terlebih masyarakat yang akrab bersentuhan dengan hal-hal bersifat metafisik. Namun, perlu kejelian dalam memandang realitas saat ini bahwa yang hitam tak selamanya hitam dan yang putih tak selamanya putih. Ada warna abu-abu, jingga, kuning telur, hijau toska, dan segala perpaduan warna. Itulah realitas. Ada siang ada malam, bukan berarti tak ada magrib dan tak ada subuh. Itu juga realitas. Ketika dihadapkan dengan realitas yang bersifat abu-abu serta magrib ini, penulis sering kali menawarkan kematian sebagai alternatif solusi. Kepercayaan untuk memiliki harapan setelah hidup merupakan salah satu upaya penulis untuk memperpanjang daftar panjang moral literer yang sudah tertancap dalam diri manusia pada umunya.

Meskipun demikian, cerita ini telah menjadi salah satu upaya positif yang dilakukan oleh penulis dalam menghibur sekaligus mendidik pembaca. Dalam kata pengantar, penulis mengatakan ingin menghibur sekaligus mendidik pembaca (dulce et utile). Akhir ceita yang humoris dan mampu membuat nyengir merupakan hiburan tersendiri buat pebaca, sedangkahan cerita yang berakhir sendu serta melankolis merupakan katarsis bagi pembaca untuk sejenak lari dari realitas kehidupanya. Sisi edukatifnya pun jelas, penulis telah menjadi perpanjangan tangan Paulo Freire dalam memasyarakatkan teori pedagogi harapan. Penulis merawat harapan pembaca sekaligus memberikan alternatif harapan baru bagi pembaca agar pembaca tetap mampu bertahan hidup melalui fantasi yang dimilikinya. (Peresensi oleh Ardi Wina Saputra-Komunitas Pelangi Sastra Malang)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia