Jumat, 05 Jun 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Harisma Hamim, Perajin Lukisan dari Benang

Dari Iseng Mengutak-atik Lukisan Logo Persik

24 Desember 2017, 18: 18: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

pelukis benang - radar kediri

TELATEN: Harisma Hamim dengan beberapa lukisan dari benang hasil karyanya. (RIZAL ARI ANDANI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Saat memanfaatkan waktu libur, Harisma Hamim berusaha menciptakan karya yang unik. Ternyata, lukisan dari benang karyanya menarik minat orang. Jadilah kegiatan iseng itu menjadi usaha sampingan yang menggiurkan.

RIZAL ARI ANDANI

Jumat siang (22/12) Jawa Pos Radar Kediri tiba di rumah Harisma Hamim, 23. Di rumah warga Desa Ngreco, Kandat itu tertempel banyak lukisan di dinding ruang tamunya. Seperti kaligrafi dan sejumlah logo klub sepak bola lokal. Salah satunya adalah logo Persebaya.

Tapi jika diperhatikan dari dekat,  gambar-gambar itu bukanlah lukisan yang dibuat di kertas. Melainkan di papan triplek. Warna-warna yang ada juga bukan berasal dari cat. Melainkan dari benang.

Lukisan benang itu merupakan sebagian dari karya Harisma. "Sejak Oktober lalu saya mulai membuat ini," ujar pemuda yang juga karyawan di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Kediri tersebut.

Awalnya, ide membuat lukisan itu bermula saat ia membeli karya serupa dari kawannya yang juga suporter Persik Kediri. "Karena itu saya beli lukisan benang berbentuk logo Persik Kediri," ujar Harisma.

Sesampainya di rumah, ternyata ia kurang puas dengan hasil karya tersebut. Masih banyak celah atau rongga di antara benang-benangnya. Ia pun berinisiatif membuat sendiri.

Untuk mengerjakannya ia memilih memanfaatkan waktu libur. Awalnya menggunakan papan kayu sebagai media. Lalu dia pun membeli satu kilogram paku. "Saat itu terbersit di benak saya untuk membuat logo Golden Swalayan tempat saya bekerja," ujar Harisma.

Ternyata hasil eksperimen pertamanya itu berhasil. Logo itu ia buat tanpa cacat. Karya tersebut kemudian ia berikan secara cuma-cuma kepada atasannya.

Sukses dengan karya pertamanya, barulah ia membuat lukisan-lukisan yang lain. Misalkan seperti logo komunitas motor Honda CB dan lain sebagainya.

Logo klub motor itulah yang menurutnya paling sulit pembuatannya. Logo tulisan "CB" dengan sayap di kanan dan kirinya itu membutuhkan lebih banyak bahan di banding karyanya yang lain. "Untuk paku saya butuh satu kilo lebih. Sedangkan benang, butuh lebih dari lima rol," terangnya.

Waktu pembuatannya juga tidak sebentar. Jika karyanya yang lain hanya butuh waktu sekitar 30 menit sampai satu jam, logo klub motor yang diikuti adik kandungnya itu memakan waktu hingga dua hari. "Yang paling sulit bikin garis sayapnya. Untuk menancapkan paku dan merajut benang, butuh ketelitian ekstra," ujar Harisma.

Sebelum menancapkan paku di papan tersebut ia mencari logo yang ingin ia jiplak dari internet. Logo tersebut lalu ia unduh dan dipotong menggunakan aplikasi edit foto. Setelah itu, potongan-potongan gambar itu pun langsung dia cetak dan dia tempelkan ke papan yang terbuat dari kayu atau triplek tebal. "Tergantung ukuran papan dan logo yang akan kita buat," ujar Harisma.

Setelah itu, baru papan itu ditancapi paku. Itu pun tidak bisa sembarangan. Kondisi paku harus baik dan memiliki mata. Mata paku itu yang nantinya digunakan sebagai penahan agar rajutan benang tidak lepas. Selain itu, penancapannya harus rata dan sesuai dengan garis dan pola pada gambar yang ditempel di papan tersebut.

Setelah itu, barulah gambar hasil cetakan dilepas dari papan.

"Kalau sudah dilepas kertasnya, baru kemudian saya mulai melilitkan benang di paku-paku itu," ujar Harisma. Warna benang yang dipakai itu sama dengan warna yang dicetak di kertas. Benang itu terus dililitkan hingga jadilah sebuah lukisan.

Karena bahan lukisan dari benang, warna yang bisa dia ciptakan terbatas. Pernah ia mendapat pesanan lukisan wajah beberapa orang dengan latar pemandangan di belakangnya. Meski bisa melukis wajah seseorang, pesanan itu terpaksa ia tolak. "Mintanya yang realistis. Padahal gradasi warnanya banyak. Kita tidak mungkin menggambarnya. Sementara pilihan warna benang terbatas," ujar Harisma.

Selama ini, ada satu jenis benang yang biasa ia gunakan. "Saya biasa memakai benang jenis ciyet," ujar Harisma.

Harga benang itu cukup terjangkau. Mulai dari Rp 1.000 untuk satu roll kecil hingga Rp 5 ribu untuk rol besar. Selain karena harganya yang murah, benang itu dipilih karena konstruksinya yang tebal dan berserabut. Hal itu bisa menimbulkan kesan padat. Sehingga bisa mengisi rongga di antara benang-benang rajutan.

Selama ini, karya ciptaannya masih terjual di kawasan Kota dan Kabupaten Kediri saja. Harganya berbeda-beda. Tergantung tingkat kerumitan dan jumlah bahan yang digunakan. "Kemarin kita baru menjual tulisan Persebaya dan laku seharga Rp 100 ribu," ujarnya. Namun itu termasuk karya yang simpel dan mudah pembuatannya. Yang rumit seperti logo klub motor Honda CB itu bisa terjual hingga Rp 200 ribu.

(rk/rzl/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia