Jumat, 05 Jun 2020
radarkediri
icon-featured
Events
Jelang Awarding Anugerah Desa 2017 (2)

Harus Inisiatif dan Kreatif demi Kemajuan

11 Desember 2017, 17: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

INOVASI: Salah satu inovasi irigasi dalam Anugerah Desa 2017.

INOVASI: Salah satu inovasi irigasi dalam Anugerah Desa 2017. (PUSPITORINI DIAN - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Banyak pemerintah desa punya program di sektor pendidikan dan pertanian. Tak heran dua kategori yang dilombakan dalam Anugerah Desa itu banyak dipilih.

Dalam Anugerah Desa tahun ini kategori inovasi terbaik bidang pendidikan masih dikompetisikan. Banyak desa yang meminati dan akhirnya memilihnya untuk mengajukan program inovatif andalannya di bidang ini. Banyak desa yang menjadi peserta baru. Namun, tak sedikit yang tahun lalu telah mengikuti kategori tersebut, menjajal kembali peruntungannya.

Tentu saja, mereka tidak sekadar mengandalkan keberuntungan tanpa ada perubahan atau kemajuan. Apalagi, penilaian tim dewan juri Anugerah Desa kali ini pun kian selektif. Para peserta yang dahulu sudah pernah mengikuti kategori yang sama, tahun ini akan dinilai mulai dari perkembangan program tersebut.

Apakah ada kemajuan atau tidak? Apakah ada kreativitas atau inovasi baru dalam pelaksanaan programnya? Jika masih tetap sama, tidak ada kemajuan, tentu nilainya pun minim.

Karena itu, pemerintah desa (pemdes) berjuang keras untuk membuat terobosan dan inovasi. Mereka merealisasi program yang dibutuhhkan warga desa. Tak kalah penting, program inovatif tersebut dapat mengurai persoalan di bidang pendidikan yang selama ini menjadi masalah desa.  

Program-program pendidikan inovatif itulah yang beberapa waktu lalu sempat menarik tim juri. Kendati sederhana, namun terobosan program yang dilaksanakan pemerintah desa mampu memberikan dampak besar bagi masyarakatnya.

Desa-desa peserta kategori ini, kebanyakan memang mengambil jalur program pendidikan non formal Itu di luar formal, tetapi dilakukan terstruktur dan berjenjang. Rata-rata yang banyak ditemui adalah pendidikan anak usia dini (PAUD), taman pendidikan Alquran (TPQ), taman posyandu.

Kegiatan pendidikannya biasa dilakukan di dekat balai desa, pondok pesantren, di masjid, musala, gereja. Namun ada pula yang berinisiatif membangun tempat sendiri sehingga mandiri. Dalam hal ini desa mengubah tempat penampungan sampah menjadi gedung taman posyandu. Karena tempatnya berdekatan dengan masjid, murid-murid juga mendapat tambahan pelajaran agama.

Selain itu, ada pula desa yang fokus pada pembinaan anak muda untuk menekan kenakalan remaja. Mereka memberikan bantuan dana operasional pada TPQ dan sekolah minggu melalui gereja. Dana tersebut digunakan untuk melancarkan proses belajar mengajar. Selain itu, desa juga menggelar Festival Anak Sholeh yang digelar tiap tahun.

Di beberapa desa lain, ada program pemberian insentif untuk guru PAUD maupun TPQ. Tak hanya pada guru, ada juga tambahan berupa bantuan beasiswa untuk siswa berprestasi di sekolah. Program-program unggulan ini tentu layak diapresiasi.

Sementara itu, untuk kategori inovasi terbaik bidang pengelolaan pertanian pun banyak desa memilihnya. Tampaknya, pemerintah desa sudah mempersiapkan. Bahkan, inovasi muncul saat kepepet dan nekat untuk mengurai masalah yang dihadapi desanya.

Seperti lahan pertanian yang terkendala air untuk mengairi sawah misalnya. Warga petani desa itu pun nekat menggunakan air dari PDAM. Bahkan, nekat menanam komoditas tanaman yang bukan pada musimnya. Mereka memprediksi waktu perubahan cuaca untuk memulai musim tanam.

Untuk itu, petani desa ini bikin terobosan dalam menanam dengan melakukan inovasi pengairan. Sehingga bisa menanam sepanjang tahun tanpa tergantung musim. Makanya, saat harga tanaman mereka langka di pasaran dan harga melambung tinggi, petaninya dapat mereguk keuntungan.

Ada lagi desa lain yang pemerintah desanya berinovasi dengan menggerakkan ibu-ibu. Mereka mengembangkan pertanian tanaman sayur dalam polybag-polybag. Tak hanya berhenti di situ, para petaninya yang mayoritas perempuan sekaligus mengolahnya menjadi produk yang dapat langsung dikonsumsi. Sehingga aneka produk olahan makanan berbahan dasar komoditas pertanian itu mampu meningkatkan harga dan menambah pendapatan petani.

Kemudian, ada desa yang mengembangkan budidaya tanaman organik. Komoditas pertanian non penggunaan bahan kimiawi ini tak hanya langsung dipasarkan pascapanen. Namun, juga diolah menjadi beragam produk makanan dan minuman. Di sinilah inovasinya. Sebab, produknya benar-benar khas. Ada minuman segar, makanan ringan seperti keripik, hingga es krim.

Dewan juri pun memberi apresiasi terhadap desa-desa yang mampu mempunyai produktivitas pertanian terbaik. Pemerintah desanya memberikan dukungan besar terhadap kreativitas petani. Sebab hal ini menjadi salah satu pertahanan atas konversi lahan sekaligus upaya swasembada pangan. 

Lantas desa mana yang bakal meraih anugerah inovasi terbaik bidang pendidikan dan pertanian ini? Jawabannya akan segera diketahui pada malam Awarding Anugerah Desa 2017 yang dijadwalkan digelar pada Selasa, 12 Desember nanti.

(rk/die/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia