Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

TPA Kedungdowo Terancam Overload

Dampak Penundaan Pembangunan TPA

28 November 2017, 13: 10: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

SIAPKAN TEMPAT BARU: Satu unit ekskavator membuat tempat penampungan sampah baru di TPA Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk. Penundaan pembangunan TPA Joho membuat TPA lama terancam overload.

SIAPKAN TEMPAT BARU: Satu unit ekskavator membuat tempat penampungan sampah baru di TPA Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk. Penundaan pembangunan TPA Joho membuat TPA lama terancam overload. (Sri Utami - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

NGANJUK - Pembangunan TPA Joho yang rencananya dimulai tahun depan, ditunda 2019 nanti. Sebab, pemerintah pusat mendahulukan pembangunan TPA di tiga daerah lainnya di Jatim. Penundaan itu terancam membuat TPA Kedungdowo overload karena daya tampungnya diprediksi hanya hingga 2020 nanti.

Kasi Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Nganjuk Sumadi yang dikonfirmasi tentang penundaan pembangunan TPA, membenarkannya. Sumadi mengatakan, penundaan itu dilakukan karena pemerintah mendahulukan proyek pembangunan TPA serupa di Jombang, Sidoarjo dan Gresik. “Nganjuk akhirnya ditunda 2019 nanti,” kata Sumadi.

Seperti sebelumnya, Sumadi menyebut pembangunan TPA Joho memang menggunakan dana dari pemerintah pusat. Adapun Pemkab Nganjuk mendapat tugas membebaskan tanah dan menyediakan sebagian dana pendamping.

Karena menggunakan dana dari pusat, Sumadi menyebut pihaknya mengikuti jadwal yang ditetapkan pemerintah. “Otomatis menunggu tahun 2019,” terang Sumadi.

Apakah lahan untuk pembangunan TPA sudah siap? Ditanya demikian Sumadi mengatakan, dari total 12 hektare lahan yang diminta, pemkab sudah membebaskan 10,8 hektare lahan.

Meski belum mencapai 12 hektare lahan, Sumadi menyebut pemkab tidak akan lagi membebaskan tanah. Luas lahan tersebut menurutnya sudah cukup untuk membangun TPA terpadu. “Itu nanti sudah termasuk lokasi wisata dan TPA terpadu dengan sistem sanitary landfill,” terangnya.

Ditanya tentang dana yang dibutuhkan untuk membangun TPA terpadu, Sumadi menyebutkan, jumlah pastinya belum diketahui. Meski demikian, pemerintah pusat menyiapkan dana antara Rp 17 miliar hingga Rp 30 miliar untuk pembangunan TPA modern itu.

Untuk diketahui, penundaan pembangunan TPA Joho terancam membuat TPA Kedungdowo overload. Sebab, TPA terbesar di Nganjuk itu diperkirakan memiliki usia aktif paling lama hingga 2020 nanti. Karenanya, jika pembangunan TPA Joho nanti molor, Nganjuk akan menghadapi masalah persampahan.

Apa yang dilakukan dinas lingkungan hidup untuk mengantisipasinya? Ditanya demikian, Sumadi menyebut pihaknya akan memaksimalkan fungsi tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang ada di kecamatan. “Jika pengelolaan sampah di TPST dimaksimalkan, TPA tidak akan overload,” imbuh Sumadi.

Lebih jauh Sumadi mengatakan, selama ini volume sampah di Kabupaten Nganjuk setiap harinya sekitar 30 ton hingga 35 ton. Dari jumlah tersebut, yang bisa diolah sehingga mengurangi beban TPA sekitar empat ton.

Diakui Sumadi, jumlah sampah yang masuk ke TPA Kedungdowo belum mencerminkan jumlah sampah warga Nganjuk secara keseluruhan. Sebab, banyak warga yang masih mengolah sampah di lingkungan masing-masing.

Dari puluhan kecamatan di Nganjuk, menurut Sumadi hanya daerah perkotaan saja yang membuang sampah ke TPA. Selebihnya, dibuang di lingkungan masing-masing. Karenanya, keberadaan TPA Joho sangat diperlukan. Sebab, ke depan volume sampah di Nganjuk dipastikan akan meningkat terus.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia