Jumat, 05 Jun 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Vita Wahyu Ratih, sang Perintis Rumah Labu

Kreasikan Labu Jadi Mi dan Dawet

15 November 2017, 18: 31: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

rumah labu kediri - radar kediri

KREATIF: Vita Wahyu menunjukkan labu yang dia pamerkan di Rumah Labu di Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem. (M. FIKRI ZULFIKAR – RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Bila hanya kenal olahan labu menjadi isi kolak,ada baiknya berkunjung ke Rumah Labu. Karena di tempat ini labu bisa jadi kreasi masakan beraneka ragam. Hebatnya, di Rumah Labu, yang impor pun bisa dibudidayakan di kebun sederhana.

MOH. FIKRI ZULFIKAR

Bila ingin menggambarkan suasana yang ada di belakang Rumah Labu ini, mungkin hanya satu kata. Nyaman. Duduk di bale. Tubuh diterpa angin sepoi-sepoi.

Sedangkan mata mendapat santapan menarik. Memandang hamparan ladang labu. Yang mulai ditanam dan baru disiram air. Semakin membuat segar suasana di sekitar rumah tersebut.

Itulah gambaran Rumah Labu. Di Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Di Rumah Labu, milik Vita Wahyu Ratih ini, juga ada aneka buah labu. Sekaligus dengan kreasi olahannya.

Wanita ini usianya masih 27 tahun. Namun sudah terbilang berhasil dalam mengelola kebun-kebunnya. Lahan  yang awalnya mangkrak menjadi kebun labu yang menguntungkan.

Bagaimana tidak menguntungkan. Kini dia menjadi supplier dari beberapa super market di Jakarta dan Jawa Barat. Itu semua karena buah-buah labunya tersebut.

“Alhamdulillah Mas per bulan kami dipatok kirim sekitar lima ton. Selain kami produksi buahnya, juga ada olahannya yang dibuat sendiri. Hingga buah dan olahannya juga kami pasarkan sendiri,” terang perempuan kelahiran 4 Oktober 1990 ini.

Menurut perempuan yang kini masih menyelesaikan studi S-2 Agribisnis di Universitas Islam Kadiri (Uniska) ini, dia mengawali segalanya dengan kebetulan. Baik itu Rumah Labu ataupun perkebunannya. Usahanya bermula setahun lalu. Tepat di bulan November. Saat itu ada petugas penyuluh lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) datang ke desanya. Memperkenalkan buah labu tersebut.

“Kami mendapat sosialisasi buah labu ini. Tapi sayangnya banyak yang tidak tertarik karena warga tidak tahu pemasarannya ke mana,” kisahnya.

Bila yang laing bingung, tidak demikian dengan Vita. Dia tertarik menanam labu. Akhirnya, di antara warga satu desa hanya dia yang melakukan. Mulai menanam di pekarangan kosongnya.

Awalnya Vita juga tidak tahu akan dijual ke mana setelah labu ini berbuah. Namun dia tetap optimistis. Pasti nanti akan laku. Walaupun banyak tetangganya yang mencibir. Yang yakin Vita akan kesulitan memasarkan buah labu bila panen.

“Hingga akhirnya keyakinan saya muncul saat tahu dari internet (labu) harganya lumayan tinggi. Juga peminatnya banyak dari Jawa Barat,” terang perempuan yang setiap harinya bekerja sebagai staf IT di Pemerintah Desa Nambaan ini.

Awal berbuah, Vita mengaku masih blank. Tak tahu akan dia jual ke mana. Hingga akhirnya dia coba posting foto labunya. Dijual melalui akun Facebook-nya. Ternyata postingannya dibalas oleh supplier labu asal Kota Kediri yang menyetok labu ke Hypermart Kediri. Mulai saat itulah dia menyetok labu ke Hypermart.

“Mulai saat itulah keuntungan saya dapat. Warga sekitar pun mulai tertarik dan saat ini mulai menanam labu. Juga para tetangga saya,” terangnya.

Kini, produknya dikenal oleh supplier dari Jawa Barat.  Suplier Vita itu adalah penyetok buah-buahan untuk 25 supermarket di Jakarta. Karena permintaan yang banyak, per bulan dia harus kirim 5 ton. Dia pun terpaksa tak lagi menyetok ke supplier Kediri.

Kuota 5 ton per bulan tak mampu dipenuhi oleh lahannya yang berukuran 15x50 meter dan 14x30 meter. Vita mulai hunting labu di daerah Ngancar dan Mojo. Dengan harga per kilogramnya kini sekitar Rp 12 ribu. Bisa dibayangkan omzet Vita  per bulannya yang harus menyetok 5 ton labu ke Jawa Barat. Kadang, Vita juga mengambil labu dari Ponorogo.

Dua bulan lalu, Vita mulai mengembangkan rumah labu. Selain untuk menikmati enaknya buah labu secara langsung, pengunjung bisa menikmati berbagai olahan labu hasil karyanya. Memang, agar olahan labu lebih menarik, dia terus berkreasi. Mengubah stigma bahwa labu hanya bisa jadi isi kolak. “Saya sampai pernah buat benner bertuliskan labu tidak hanya bisa jadi kolak saja, untuk memopulerkan labu,” terang Vita.

Di antara kreasi olahan itu adalah stik labu, emping labu, pasta labu, hingga nastar labu. Yang agak nyleneh adalah mi labu, minuman sari labu, dawet labu, hingga dodol labu. Termasuk permen labu. “Sebagian masih kami rahasiakan. Karena banyak yang mulai meniru. Sebelum launching masih kami rahasiakan dulu,” ujarnya.

Kini, dia tak hanya menanam labu lokal. Dia juga mulai membudidayakan labu impor. Khususnya dari Taiwan. Seperti jenis labu torsten, peacock, dan kaboca orange.

Juga ada dari Belanda. Jenis jacqueline dan hanna. Sedangkan yang dari Amerika, spaghetti squash, masih sebatas rencana.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia