Sabtu, 22 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
Maraknya Perkara Perceraian di Kediri

Suami Nganggur, Istri Ajukan Cerai

24 Oktober 2017, 15: 38: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

Suami Nganggur, Istri Ajukan Cerai

Share this          

KEDIRI KOTA– Angka perceraian di Kota Kediri terus meningkat. Hingga September lalu, ada 154 yang mengajukan cerai talak dan 432 cerai gugat. Penyebab utamanya tetap masalah ekonomi yang paling mendominasi.

Angka ini cukup tinggi dibandingkan tahun lalu. Dengan rentang waktu yang sama, ada peningkatan pengaju cerai talak sebanyak 14 persen dan cerai gugat sebanyak 11 persen.

“Jumlahnya terus naik dibandingkan tahun lalu,” terang Katimun, wakil ketua panitera Pengadilan Agama Kota Kediri, kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Jumlah perceraian tersebut bisa digambarkan setiap bulannya rata-rata ada 17 orang mengajukan cerai talak dan 48 orang mengajukan cerai gugat. Mengapa bisa demikian?

Menurut Katimun, faktor utamanya karena kondisi ekonomi. “Biasanya istri bekerja, suami menganggur atau hasil nafkahnya dipakai sendiri tidak untuk keluarga,” tambahnya saat ditemui di ruangan kerjanya, Jumat lalu (20/10).

Akibat tidak terpenuhinya kebutuhan rumah tangga tersebut, menjadi pemicu terjadinya konflik di dalam rumah tangga. Kondisi ini berujung pada perselisihan yang terus menerus hingga berujung pada pisah ranjang di mana salah satu pihak memutuskan untuk tidak satu rumah.

“Dari temuan kami, penyebab faktor ekonomi ini mencapai 44 persen,” tandasnya.

Apa latar belakang pekerjaan mereka? Menurut Katimun, cukup bervariasi. Rata-rata istrinya bekerja di tempat swasta, sedangkan suaminya serabutan. Sebagian yang lain memiliki pekerjaan sebagai pedagang.

“Intinya pendapatan istri lebih tinggi dari suami, namun tetap tidak mencukupi kebutuhan keluarga,” tambah pria asli Tulungagung tersebut.

Lebih lanjut, Katimun menyebut, penyebab terjadinya perselisihan bisa jadi beragam. Tidak hanya masalah ekonomi, ada berbagai faktor mengapa perselisihan sampai terjadi. Bisa jadi pasangan tersebut merasa sudah tidak ada kecocokan, bisa pula karena ada orang ketiga diantara mereka. “Perselisihan ini mencapai 26 persen,” bebernya.

Melihat dari jumlah pengajuan cerai gugat, biasanya angkanya melonjak pasca Lebaran atau Idul Fitri. Diketahui Juli lalu, laporan yang masuk sekitar 71 berkas. Apa yang menjadi penyebabnya? Menurut Katimun, rata-rata pihak istri menahan kesabaran ketika Lebaran. “Biasanya orang bisa luluh dan bermaafan ketika momentum Lebaran datang,” katanya.

Namun ketika sang suami yang ditunggu tidak juga datang pascalebaran, itu yang menjadikan istri akhirnya memutuskan mengajukan cerai. “Bisa dititeni. Di mana-mana pengajuan cerai gugat pascalebaran selalu tinggi,” katanya.

Atas kondisi ini, Katimun mengatakan, PA terus melakukan upaya mediasi. Namun memang ada yang berhasil ada yang tidak. Dia berharap, ke depannya angka perceraian bisa turun. “Perlu kerja sama semua pihak untuk menekan angka perceraian ini,” pungkasnya.

Perkara di Pengadilan Agama Kota Kediri 

Jenis Urusan            2017 (Jan-Sept)    2016  (Jan-Sept)

Talak                        154                       132

Gugat                       432                       384

Dispensasi nikah      26                         30              

(rk/dna/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia