Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal
Mitos dan Klenik

‘Berburu’ Dua Malam Ketemu Dua Kukang

22 Oktober 2017, 15: 07: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

ILUSTRASI: NAKULA AGI S

ILUSTRASI: NAKULA AGI S

Share this          

Menembus senyap dan gelap. Melintasi semak belukar di antara pepohonan. Udara malam itu di Desa Jugo, Kecamatan Mojo, yang dingin, melengkapi upaya mencari salah satu primata lindung yang banyak dicari oleh para pemburu, kukang.

Penunjuk jalan Jawa Pos Radar Kediri, Ki, menyorotkan lampu senter. Menjulang kea rah dahan pepohonan. Kemudian, lelaki yang dulu pernah menjadi pemburu kukang ini melihat dengan telilit setiap pergerakan batang dan daun.

"Ada yang lambat jalannya, tokang," ujar Ki, yang masih belum berani disebut nama lengkapnya karena mantan pemburu ini.

Tokang, yang disebut Ki itu adalah nama panggilan kukang oleh warga desa di lereng Gunung Wilis itu. Menurutnya perburuan satwa lindung itu menjadi hal yang lumrah bagi warga desa. Sebab, sebagian mata pencaharian warga adalah sebagai pemburu.

Memang, tidak semua berburu kukang. Mereka juga mencari musang, babi hutan, atau bahkan anjing hutan. Tapi, tokang alias kukang tetap menjadi daya tarik besar bagi pemburu.

Banyaknya pemesan kukang menjadi salah satu faktornya. Harganya yang lebih mahal di antara hewan-hewan buruan lain merupakan faktor lainnya. Hanya, setelah sempat heboh di media kasus penangkapan penjual kukang, para pemburu memilih ‘tiarap’.

“Dulu biasa ada yang cari. Tapi sekarang sudah sangat jarang,” kata pria yang sengaja diminta Jawa Pos Radar Kediri untuk memandu mencari kukang pada Agustus lalu itu.

Satu lagi faktor mulai sedikitnya orang yang berburu kukang. Warga sudah jarang melihat primata ini berkeliaran di sekitar ladang atau perkebunan. Padahal, sebelumnya masih sering terlihat.

Sayang, semalaman itu upaya menemukan kukang tak berhasil. Tak ada tanda-tanda munculnya hewan itu.

Untuk menemukan kukang ini memang gampang-gampang susah. Ukuran tubuhnya yang kecil membuat pemburu harus teliti. Namun, cara yang paling ampuh adalah dengan menggunakan senter. Sebab, setiap terkena sinar senter mata kukang akan menyala merah.

Baru pada hari kedua perburuan, tanda-tanda kukang mulai terasa. Kali ini penunjuk jalannya berganti. Namanya Ko, juga mantan pemburu. Namun, terlihat dia lebih lihai dalam mengendus keberadaan kukang. Lelaki 34 tahun ini dengan lincah mengarahkan Jawa Pos Radar Kediri ke tempat-tempat yang biasanya jadi lokasi kukang Jawa muncul.

Malam kedua itu, penjelajahan mencari kukang ini harus menempuh jarak lebih dari enam kilometer. Itupun harus dengan jalan kaki.

Sama seperti hari sebelumnya, modalnya adalah senter. Kepala kami juga selalu menengadah ke atas pohon. Melihat satu per satu dahan pohon.

Perjalanan yang dimulai sekitar pukul 20.00 itu baru membuahkan hasil setelah dua jam melakukan penelusuran. Ditandai dengan sorotan cahaya merah dari atas pohon. Sorotan mata itu dipastikan kukang oleh Ko yang mengantar kami.

“Itu tokang yang biasa diburu warga,” tunjuk Ko.

Namun, karena jarak yang terlalu jauh dari pantulan cahaya mata kukang itu tidak bisa dilihat terlalu lama. Sebab, kukang langsung terlihat bersembunyi di balik daun pohon. Meskipun pergerakan kukang juga sangat lambat.

Menurut Ko, perburuan kukang di Desa Jugo itu malah didominasi orang dari Desa Blimbing. Sebab, pemburu Desa Jugo lebih banyak mencari anjing liar dan babi hutan.

Sepengetahuannya, dalam semalam pemburu kukang bisa mendapatkan sekitar tiga ekor. Namun, Ko tidak mengetahui secara pasti dijual ke mana kukang buruan di lereng Pegunungan Wilis tersebut.

Sekitar pukul 23.00, pencarian kukang tersebut pun selesai. Dan hanya berhasil melihat dua kukang yang ada pada pepohonan hutan tersebut.

(rk/noe/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia