Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom

Ontran-Ontran Ojek Online

21 Oktober 2017, 17: 44: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

Citra Orwela

Citra Orwela

Share this          

“Ini pada nunggu apaan?” tanya saya ke beberapa gadis muda usia pelajar di depan rumah. “Nganu Mbak, nunggu makanan. Pesen makanan lewat ojek.” Saya hanya melongo sambil membatin, remaja zaman now...

***

Tidak dapat dipungkiri, internet dan medianya sudah mengubah culture dalam hidup kita. Berinteraksi, berkomunikasi, cara kita memberi komentar, berbelanja, membeli makanan bahkan cara mencari jodoh pun sudah bergeser. Lihat saja berjamurnya aplikasi belanja online sampai aplikasi mencari pasangan. Bahkan, aplikasi khusus untuk yang ingin berpoligami. Lengkap sekali bukan?

Dulu, mau bertemu dengan teman masa sekolah dasar saja susahnya minta ampun. Sekarang? Tinggal klik namanya di mesin pencarian Google, dan yess, kita akan menemukannya. Bukan hanya profilnya bahkan mungkin foto-foto pasangan dan anaknya.

Mari kita ingat kembali, bagaimana riuhnya hari-hari kita sekarang dengan adanya sebuah aplikasi pesan di handphone yang mampu memuat grup alumni dari SD sampai kuliah. Tidak hanya itu, semua komunitas yang kita miliki sekarang juga membuat grup pesan juga. Bahkan, untuk sekadar mengirimkan undangan rapat, sudah tidak berbentuk undangan. Cukup difoto lalu di-upload di grup pesan. Beres!

Dalam ilmu komunikasi, dunia yang ‘tidak berbatas’ ini sudah menjadi kajian tersendiri. Marshall McLuhan menggunakan istilah Global Village, suatu masa di mana dunia dilipat oleh teknologi komunikasi. Akibatnya, dunia ‘terasa’ semakin sempit, tidak berjarak, tidak berbatas.

Kita lebih cepat mengetahui berita seorang ayah rela menjual ginjalnya demi menyambung hidup biaya sekolah anaknya daripada berita tentang tetangga sebelah yang setiap hari tidak mampu makan dengan lauk. Menyedihkan memang, tapi begitulah faktanya.

Pertanyaannya, apa dunia semacam ini bisa kita tolak atau hindari? Jawabnya adalah tidak. Ya, pahit memang, tapi kita tidak bisa menolak ataupun menghindari perubahan dunia yang dulu serba-konvensional dan sekarang menjadi serba-digital.

***

Beberapa waktu lalu, saya memberikan sebuah pertanyaan sederhana ke rekan-rekan mahasiswa di kelas. Saya bertanya kepada mereka, “ Bagaimana Kecerdasan Buatan atau yang biasa kita sebut dengan AI (Artificial Intellegence) dipandang dari estetika dan etika?”. Saya menyodorkan sebuah video tentang beroperasinya taksi Tesla di Dubai. Taksi yang tidak membutuhkan sopir, bisa berjalan sendiri seperti di film-film superhero buatan DC dan Marvells.

Dari situ, saya menangkap memang ada pro-kontra yang sangat mendasar mengenai perkembangan teknologi ini. “ Nanti bagaimana dong kalau tenaga manusia sudah tidak terpakai lagi?” tanya seorang teman. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari mereka, semisal: “Tukang-tukang ojek bagaimana dong nasibnya kalau semua kendaraan yang nyopirin komputer?”

Ketika menulis artikel ini, saya membaca berita mengenai demo sebagian pengemudi becak di Kota Kediri. Mereka menuntut untuk dicabutnya izin operasi ojek online yang beberapa bulan ini memang sudah masuk ke wilayah Kediri. Sebenarnya, kemajuan teknologi dalam layanan tranportasi itu menguntungkan konsumen. Dengan banyaknya alternatif pilihan transportasi, masyarakat jadi bisa memilih mana yang paling pas dan cocok dengan kebutuhan mereka.

Lagi pula, persaingan teknologi komunikasi terus berjalan. Bisa jadi, hari ini becak, ojek konvensional, maupun angkutan umum lain merasa ‘kalah’. Mereka tidak bisa bersaing dengan ojek online baik secara tenaga maupun tarif. Namun, yang perlu dicatat, mungkin juga, beberapa tahun lagi, ojek pun merasa ‘kalah’ jika  banyak beredar kendaraan-kendaraan canggih yang tidak membutuhkan sopir sebagai pengemudinya. Pada akhirnya, segala kegaduhan yang terjadi saat ini adalah bentuk ketidaksiapan kita dengan banyak perubahan.

Banyak dari kita yang gagal beradaptasi. Sebagian dari kita gagal untuk menyesuaikan diri dengan bergesernya budaya. Padahal, satu-satunya yang bisa kita lakukan di era dunia yang serbadigital ini adalah beradaptasi. Hanya itu. Selebihnya, yang kita alami saat ini adalah salah satu bentuk seleksi alam. Siapa yang bisa beradaptasi dengan perubahan zaman, maka dia yang akan bertahan. (Penulis adalah dosen komunikasi di STAIN Kediri. Freelance content writer di news portal video)

 

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia