Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 78

Tetapkan Kebijakan yang Tak Patut

14 Oktober 2017, 16: 17: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Tetapkan Kebijakan yang Tak Patut

Share this          

“Tersebar kabar burung tentang keinginan Sri Baginda Maharaja Jayanagara untuk mengawini sendiri kedua adik tirinya agar tahta utuh dalam genggamannya”

*        *        *        *        *

Para setiawan pendukung mendiang Sri Prabhu Kertarajasa Jayawardhana usianya rata-rata limapuluh tahun lebih tidaklah kehilangan harapan meski sebagian besar sudah tersingkir dari jabatan pemerintahan semenjak Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi beserta sahabat-sahabatnya sudah ditumpas.

Kesetiaan mereka sangat kuat karena didasari semangat untuk menjalankan dharma secara benar. Itu sebab, mereka diam-diam menggalang kekuatan untuk melindungi dua orang puteri mendiang Sri Prabhu Kertarajasa Jayawarddhana,   Dyah Gitarja Nararya Tribhuwana dan Dyah Wiyat Nararya Rajadewi, dari ancaman bahaya Sri Baginda Maharaja Jayanagara yang sudah dipengaruhi Dyah Halayudha.

          Sebagaimana sudah diketahui banyak orang, semenjak menduduki tahta Wilwatikta, Sri Baginda Maharaja Jayanagara yang ketakutan kedua orang adik tirinya itu akan merampas tahta darinya karena keduanya adalah cucu Sri Prabhu Kertanagara telah menetapkan kebijakan yang sangat tidak patut.

Kedua orang puteri yang baru menginjak usia tigabelas dan sebelas tahun itu dipingit ketat seolah-olah mereka berdua adalah tawanan yang tidak dapat bertemu dengan siapa saja. Tidak satu pun laki-laki dapat mendekati mereka berdua bahkan setelah usia mereka tujuhbelas dan limabelas tahun.

Bahkan belakangan tersebar kabar burung tentang keinginan Sri Baginda Maharaja Jayanagara untuk mengawini sendiri kedua orang adik tirinya itu agar tahta utuh berada di dalam genggamannya.

          Kebijakan dan tindakan tidak patut yang dijalankan Sri Baginda Maharaja Jayanagara, diam-diam memperoleh perlawanan tidak langsung dari kalangan pendukung Sri Prabhu Kertarajasa, baik dalam bentuk kerusuhan-kerusuhan di daerah-daerah yang ditimbulkan para begal, perampokan-perampokan di desa-desa dekat kutaraja, perselisihan antar desa, bahkan kabar angin tentang kemunculan kerajaan sakawat-bhumi yang akan memisahkan diri dari Wilwatikta.

Kemunculan begal, perampok, maling, dan penjarah  dalam berbagai aksi kerusuhan yang meresahkan masyarakat, ternyata dimanfaatkan oleh Dyah Halayudha untuk memperkuat kedudukan sebagai Mahapatih Wilwatikta.

Dengan alasan melindungi maharaja dari ancaman orang jahat yang ingin merebut kekuasaan, Dyah Halayudha membangun kekuatan militer secara besar-besaran, yang sebagian dikirim ke berbagai kerajaan sakawat-bhumi seperti Wirabhumi, Bayu, Wengker, Daha, Pamwatan, Pawanuhan, dan Pajang. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia