Rabu, 24 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 77

Hidup sebagai Buronan Berbahaya

13 Oktober 2017, 06: 48: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

cerbung gajah mada 2 - radar kediri

KARYA: AGUS SUNYOTO (ILUSTRASI: NAKULA AGI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

“Kebinasaan yang diakibatkan fitnah, ternyata jauh lebih mengerikan dalam kenyataan daripada gambaran yang pernah diceritakan manusia”

          Di antara pejabat tua yang masih bertahan dalam keadaan yang menegangkan itu hanyalah Ra Kuti, yang tetap dipertahankan sebagai Bekel dari Pengalasan Wineh Sukha, yang sudah kehilangan sebagian anggotanya yang digantikan dengan wajah-wajah baru yang masih muda usia.

Akibat keadaan yang menekan, dalam waktu beberapa bulan setelah peristiwa Lamajang pecah, hampir separuh rambut Ra Kuti berubah putih dan abu-abu.

Meski tiga-empat kali berkesempatan menemui Ra Kuti, Ra Semi menahan diri untuk tidak buru-buru menemuinya. Ra Semi masih menunggu waktu untuk mengetahui perubahan-perubahan apa saja yang telah terjadi pada Ra Kuti setelah peristiwa Lamajang yang mengerikan itu.

Semakin lama mengikuti rombongan Ambarang Menmen pimpinan Kaki Dyantur yang terus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, Ra Semi merasakan matanya lebih banyak melihat telinganya lebih banyak mendengar dan hatinya lebih banyak mengalirkan darah dan airmata.

Kebinasaan yang diakibatkan fitnah, ternyata jauh lebih mengerikan dalam kenyataan daripada gambaran yang pernah diceritakan manusia karena derita kesengsaraan tidak hanya dipikul oleh yang tertimpa fitnah, melainkan  berlanjut dan sambung-menyambung dari bapak, anak hingga cucu cicit. Sungguh kebinasaan yang sulit ditanggung oleh mereka yang tersisa hidup sebagai buronan berbahaya.

          Selama berbulan-bulan hingga memasuki tahun kedua hidup sebagai buronan dalam penyamaran, Ra Semi diam-diam mendapati kenyataan bahwa di tengah kebinasaan para pejabat malang yang tewas dalam peristiwa Lamajang, terdapat tiga orang keluarga yang masih hidup.

Pertama, Mapanji Srigna, cucu buyut laki-laki  dari Sang Panji Wiranagari yang berusia empat tahun, yang diasuh  Pu Putut, seorang nayaka di Katumenggungan Daha. 

Yang kedua, Mapanji Munindra, cucu laki-laki dari Sang Panji Anengah yang berusia tujuh tahun, diasuh oleh Pu Gasti, nayaka di Kademungan Daha. Yang ketiga, Mapanji Agreswara, cucu Sang Panji Samara yang berusia lima tahun, diasuh oleh Pu Baya Latu, nayaka di Karanggan Daha. 

          Dalam kegembiraan, keharuan dan kelegaan yang dirasakannya, Ra Semi merasakan kepedihan yang nyaris tidak dapat ditahannya. Karena semua kabar yang sampai kepadanya, selalu menunjukkan bukti yang menyedihkan: seluruh keluarganya tidak tersisa satu orang  pun oleh keganasan bala pasukan Majapahit yang dipimpin Dyah Halayudha. (bersambung)    

(rk/die/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia