Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Balita Tewas Terseret Arus

Masuk Sungai saat Ditinggal Ayah Ambil Minum

12 Oktober 2017, 12: 40: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

SAKSI BISU:Tubuh Dirgan Prasetyo yang dalam kondisi lemah ditemukan sang ayah tersangkut di pintu air sungai ini. Nyawanya tak tertolong meski sudah dibawa ke puskesmas untuk mendapat perawatan. Dirgan semasa hidup (insert).

SAKSI BISU:Tubuh Dirgan Prasetyo yang dalam kondisi lemah ditemukan sang ayah tersangkut di pintu air sungai ini. Nyawanya tak tertolong meski sudah dibawa ke puskesmas untuk mendapat perawatan. Dirgan semasa hidup (insert). (Rekian - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

NGANJUK - Warga Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon Minggu (08/10) sore lalu geger. Pasalnya, Dirgan Prasetyo, 1,5 tahun didapati meregang nyawa setelah tenggelam di sungai irigasi di depan rumahnya.

          Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 17.00. Dirgan awalnya bermain dengan Heru Prasetyo, 23, sang ayah di teras rumah. Beberapa saat kemudian, Dirgan ditinggal masuk ke dalam rumah untuk mengambil air minum. “Hanya sebentar masuk ke dalam rumah. Mungkin lima menit,” tutur Masrukin, kakek Dirgan.

          Tak dinyana, saat Heru kembali ke teras anak semata wayangnya itu sudah tidak ada. Melihat hal itu, Heru langsung panik. Dia langsung mencari anaknya ke rumah tetangga. Sebab, biasanya Dirgan memang mendatangi rumah tetangganya.

          Tetapi, setelah mendatangi rumah beberapa tetangganya, semua mengatakan jika bocah lucu itu tak bermain ke sana. Saat itu, Heru baru menduga jika anaknya masuk ke sungai irigasi yang ada di depan rumah.

          Bersama beberapa warga Heru langsung menelusuri sungai. Benar saja, di pintu air sungai yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya, Heru berhasil menemukan tubuh Dirgan di sana. “Kalau saja sejak awal langsung kepikiran mencari ke sungai, mungkin anak itu bisa selamat. Tuhan berkehendak lain,” kata pria berusia 52 tahun itu sambil tertunduk sedih.

          Saat diangkat oleh Heru, menurut Masrukin cucunya masih bernafas. Hanya saja, kondisinya sudah sangat lemah. Heru bergegas membawa anaknya ke Puskesmas Prambon untuk mendapatkan perawatan.

          Rupanya, meski sudah ditangani petugas medis nyawa Dirgan tidak bisa diselamatkan. Dia meninggal beberapa saat kemudian. “Dia meninggal di puskesmas,” terang Masrukin dengan mata memerah.

          Musibah tewasnya Dirgan itu lantas dilaporkan ke Polsek Prambon. Berdasar pemeriksaan saksi dan pengecekan tempat kejadian perkara, polisi tidak menemukan indikasi tindak kriminal.

          Penemuan tubuh Dirgan di pintu air yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya, diduga menguatkan musibah tersebut. Meski kedalaman sungai hanya 0,5 meter dan lebarnya dua meter, tubuh Dirgan yang mungil bisa terseret arus yang deras. “Untuk ukuran balita, seusia korban sangat mungkin terseret arus,” kata Paur Subbag Humas Polres Nganjuk Ipda Trubus.

          Sementara itu, setelah memastikan tidak ada unsur kriminal dari kejadian tewasnya Dirgan, polisi langsung menyerahkan jenazah Dirgan kepada pihak keluarga. “Sesuai permintaan keluarga, tidak divisum,” kata Trubus.

          Belajar dari musibah meninggalnya Dirgan, Trubus mengimbau agar para orang tua yang memiliki balita untuk meningkatkan pengawasan anaknya. “Jangan sampai lengah. Karena dalam hitungan menit saja bisa berakibat fatal,” lanjutnya mengingatkan.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia