Senin, 18 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Cerbung
Mpu Gama 68

Selalu Lolos dari Usaha Pembunuhan

01 Oktober 2017, 09: 43: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

Share this          

“Sebagai keturunan bangsawan tinggi, Dyah Halayudha merasa sangat tertampar dengan kemenangan Pu Mada dalam mempengaruhi maharaja”

Di tengah kasak-kusuk yang menyebar di antara para nayaka sepuh yang diarahkan kepada Dyah Halayudha sebagai iblis berlidah ular, Dyah Halayudha justru memperkuat cengkeramannya kepada Sri Baginda Maharaja yang sudah sangat mempercayainya.

Itu sebab sewaktu putera Sang Jurupati Lamajang Tigang Juru Arya Adikara Wiraraja, Arya Wangbang Menak Koncar menghadap Sri Baginda Maharaja untuk melaporkan kepergiannya ke Tumapel guna melakukan siddhayatra.

Sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi di Lamajang, dianggap sebagai dusta oleh Dyah Halayudha yang memohon agar putera Sang Jurupati Lamajang Tigang Juru beserta keluarga itu dijatuhi hukuman mati.

Hanya dikarenakan alasan-alasan yang diajukan oleh Sang Citralekhadanda i Tumapel Pu Mada yang mendampingi, Sri Baginda Maharaja Jayanagara berkenan memberikan pengampunan dan menganggap keluarga Sang Jurupati Lamajang Tigang Juru Arya Adikara Wiraraja tidak bersalah dan tidak tersangkut paut dengan pemberontakan yang dilakukan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi.

Dyah Halayudha tidak suka dengan ketetapan Sri Baginda Maharaja Jayanagara memberikan ampunan kepada putera Sang Jurupati Lamajang Tigang Juru beserta keluarga, terutama atas kemenangan Sang Citralekhadanda i Tumapel Pu Mada yang mementahkan alasan-alasannya di hadapan Sri Baginda Maharaja.

Sebagai keturunan bangsawan tinggi, Dyah Halayudha merasa sangat tertampar dengan kemenangan Pu Mada dalam mempengaruhi maharaja, Mada, anak bau kencur yang selama ini selalu lolos dari usaha pembunuhan yang direncanakannya.

Tidak ingin kalah telak dan dipermalukan, Dyah Halayudha tanpa terduga menghaturkan sebuah rencana yang sangat bermanfaat bagi penguatan kekuasaan Wilwatikta dari kemungkinan rongrongan dan gerakan ketidak-setiaan dari kerajaan-kerajaan sakawat-bhumi.

Pertama-tama, menurut Dyah Halayudha, kekuasaan Jurupati Lamajang Tigang Juru harus dikurangi dengan memecah Tiga Wilayah Kajuruhan – Lamajang, Bayu dan Wirabhumi – menjadi wilayah yang berdiri sendiri. Maksudnya, Kajuruan Lamajang dipimpin oleh Jurupati Lamajang dengan kutaraja di Kutarenon, di mana wilayah kekuasaannya hanya sebatas wilayah Kajuruan Lamajang. 

Wilayah kajuruan Bayu dengan kutaraja di Sadeng, dipimpin oleh Jurupati Bayu yang berkuasa atas wilayah Bayu. Wilayah kajuruan Wirabhumi dengan kutaraja Ketah, dipimpin oleh Jurupati Wirabhumi yang berkuasa atas wilayah Wirabhumi. Ketiga wilayah Juru itu, adalah bawahan Wilwatikta.(bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia