Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 67

Iblis yang Gila Kekuasaan

30 September 2017, 20: 23: 52 WIB | editor : Adi Nugroho

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

ILUSTRASI: NAKULA AGI SADA

Share this          

“Sebagian yang tidak yakin Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi berkhianat, dengan sedih meratapi nasib malang pahlawan setia itu”

*        *        *        *        *

Cerita kehancur-binasaan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi beserta sekutunya yang memberontak dengan cepat menerobos semua telinga penduduk Lamajang, Bayu, Wirabhumi, Tumapel, kutaraja Wilwatikta bahkan jauh hingga ke Wengker, Pajang, dan Mataram.

Di pasar-pasar, kedai-kedai, gardu-gardu penjagaan, bengkel-bengkel hingga dangau-dangau di tengah sawah orang membicarakan dengan cemas, sedih, ragu-ragu, dan takut peristiwa mengerikan itu.

Meski tindakan memberontak kepada maharaja yang berkuasa adalah kesalahan besar tidak terampunkan, tetapi kesetiaan dan kebaik-hatian Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dalam mengabdikan diri semenjak masa Sri Prabhu Kertanegara telah menimbulkan kepedihan bagi mereka yang mengenalnya.

Sebagian yang tidak yakin Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi berkhianat, dengan sedih meratapi nasib malang pahlawan setia itu. Sementara yang mendengar kabar bahwa malapetaka besar yang menimpah Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi adalah hasil fitnah dari Dyah Halayudha, tidak habis-habisnya mengutuk manusia jahat itu sebagai iblis yang gila kekuasaan.

Cerita tentang jatuhnya Ganding disusul Pajarakan dan kutaraja Lamajang yang sangat singkat – terutama benteng Kutarenon yang dikawal kurang dari seratus prajurit – menimbulkan kecurigaan dari banyak pihak bahwa Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi benar-benar memberontak, apalagi dari kesaksian para perwira yang memimpin penyerangan menuturkan bagaimana ragu-ragu dan bingungnya para prajurit Lamajang sewaktu diserang bala pasukan Majapahit.

Bahkan sewaktu Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi beserta kawan-kawannya seperti  Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, dan Jaran Bangkal melakukan perlawanan sebagai pembelaan diri karena diserang mendadak, tidak didampingi oleh satu orang pun prajurit pengawal.

Namun cerita yang disebarkan di sekitar maharaja bertubi-tubi menghalau semua keraguan tentang pemberontakan tersebut, di mana dengan puja dan puji serta sanjungan yang sambung-menyambung maharaja sangat yakin bahwa Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dan kawan-kawannya memang melakukan pemberontakan.

Di tengah kasak-kusuk yang menyebar di antara para nayaka sepuh yang diarahkan kepada Dyah Halayudha sebagai iblis berlidah ular, Dyah Halayudha justru memperkuat cengkeramannya kepada Sri Baginda Maharaja yang sudah sangat mempercayainya. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia