Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 63

Jayanagara Tunggangi Gajah Perang

25 September 2017, 22: 23: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

Jayanagara Tunggangi Gajah Perang

Share this          

“Pasukan Wilwatikta yang dipimpin Sri Baginda Maharaja Jayanagara bergerak laksana kawanan beribu-ribu singa menyurutkan nyali semua makhluk”

Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, dan Jaran Bangkal terdiam. Mereka tidak menolak dan tidak meng-iya-kan kata-kata Mahapatih Mangkubhumi. Mereka membayangkan saat itu adalah saat yang menegangkan, di mana mereka sejatinya sedang menunggu kedatangan sang Maut.

Dengan membayangkan datangnya kematian, melangkah ke dalam ruangan tengah rumah Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. Panji Samara dan Panji Wiranagari mengikuti dari belakang. Hanya Jaran Bangkal yang setia mengawani Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi di pendapa.

Tanah bergetar dan debu beterbangan ke udara ketika derap kaki gajah dan kuda serta manusia saling berpacu dahulu-mendahului menghentak-hentak bumi Lamajang. Dalam beberapa helaan nafas, bala pasukan Wilwatikta yang dipimpin sendiri oleh Sri Baginda Maharaja Jayanagara itu bergerak laksana kawanan beribu-ribu singa yang menyurutkan nyali semua makhluk, bahkan pohon-pohon pun yang gemetar ketakutan meruntuhkan dedaunan kering ke permukaan tanah.

Barisan terdepan bala pasukan Wilwatikta tampak dipenuhi pasukan gajah perang yang ditunggangi Sri Baginda Maharaja Jayanagara, didampingi Rakyan Menteri  i  Hino Dyah Pamasi, Rakyan Menteri i Halu Dyah Singlar, Rakyan Menteri i  Sirikan Dyah Palisir, Dyah Rangganata, Dyah Kameswara, Dyah Wiswanata,  Rakryan Demung Pu Renteng, Rakryan Rangga Pu Sasi, Rakryan Kanuruhan Mapanji  Elam, Rakryan Tumenggung Pu Wahana, Pu Samaya, Pu Jalu, Sang Arya Dewaraja Pu Aditya.

Di samping kanan pasukan gajah, berbaris kesatuan prajurit penabuh genderang perang dan sangkakala. Di belakang pasukan gajah yang menakutkan itu, berbaris pasukan Magalah disambung pasukan Magandi, pasukan Mamedang, pasukan Maparasu, dan pasukan berkuda yang bergerak tak kalah menakutkan, yang bergerak gagah lima deret ke samping dengan limapuluh baris berbanjar ke belakang diikuti pasukan perbekalan.

          Pasukan besar Majapahit yang bergerak menggetarkan bumi Lamajang itu sampai memasuki tengah kutaraja tidak mendapati satu pun bayangan prajurit Lamajang. Raungan keras gajah-gajah perang menggema tanpa sedikit pun memperoleh jawaban dari pohon-pohon dan rumah-rumah kosong yang membisu.

          Sejauh bala pasukan Majapahit yang luar biasa mengerikan itu memasuki kota, hanya kesunyian dan kelengangan yang didapati sampai para perwira dan manggalayudha mengungkapkan kecurigaan bahwa mereka sejatinya sedang memasuki perangkap yang disusun Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi.

          Atas alasan kecurigaan itu, pasukan gajah yang bergerak di depan tiba-tiba menghentikan langkah. Semua berhenti menunggu sesuatu kemungkinan terjadi jika mereka sedang memasuki perangkap musuh.(bersambung)   

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia