Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 62

Menunggu Kedatangan sang Maut

23 September 2017, 11: 43: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Menunggu Kedatangan sang Maut

Share this          

“Kau harus tetap hidup untuk menjadi saksi kejahatan Mahapati ini, Ra Semi. Kami menunggumu di Kahyangan bersama para pahlawan yang lain”

“Ra Semi,” kata Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dengan suara ditekan tinggi, ”Kau pergilah ke Tumapel menemui Mada. Ceritakan kepada anak itu apa yang sejatinya terjadi di sini. Ceritakan kepada dia atas apa yang dilakukan Si Lidah Bercabang itu.

Ceritakan bahwa semua yang dilakukan ular beludak itu adalah semata-mata untuk melemahkan Sri Baginda Maharaja karena makhluk terkutuk itu ingin mewujudkan cita-citanya menjadi Maharaja Wilwatikta.”

“Yang Mulia, mohon ampun seribu ampun,” tukas Ra Semi menyembah hingga keningnya menyentuh lantai,

”Bagaimana hamba bisa hidup sendiri dengan membiarkan paduka dan para setiawan Majapahit menghadapi malapetaka? Bagaimana mungkin hamba bisa meninggalkan para pahlawan gagah perkasa menghadapi musibah besar ini?”

“Kau harus tetap hidup untuk menjadi saksi kejahatan Mahapati ini, Ra Semi. Kami menunggumu di Kahyangan bersama para pahlawan yang lain. Pergilah cepat untuk mempersaksikan siapa kami sebenarnya,” kata Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi penuh harap.

Ra Semi menyembah dan setelah itu berdiri membalikkan badan dengan airmata membasahi kedua pipinya. Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi menarik nafas berat. Setelah itu, dengan suara bergetar ia berkata,

”Kiranya tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali memberikan penjelasan kepada Sri Baginda Maharaja tentang apa yang sebenarnya terjadi.”

Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, dan Jaran Bangkal terdiam. Mereka tidak menolak dan tidak meng-iya-kan kata-kata Mahapatih Mangkubhumi. Mereka membayangkan saat itu adalah saat yang menegangkan, di mana mereka sejatinya sedang menunggu kedatangan sang Maut.

Dengan membayangkan datangnya kematian, melangkah ke dalam ruangan tengah rumah Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. Panji Samara dan Panji Wiranagari mengikuti dari belakang. Hanya Jaran Bangkal yang setia mengawani Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi di pendapa.

         Tanah bergetar dan debu beterbangan ke udara ketika derap kaki gajah dan kuda serta manusia saling berpacu dahulu-mendahului menghentak-hentak bumi Lamajang. Dalam beberapa helaan nafas, bala pasukan Wilwatikta yang dipimpin sendiri oleh Sri Baginda Maharaja Jayanagara itu bergerak laksana kawanan beribu-ribu singa yang menyurutkan nyali semua makhluk, bahkan pohon-pohon pun yang gemetar ketakutan meruntuhkan dedaunan kering ke permukaan tanah. (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia