Rabu, 26 Sep 2018
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 61

Dijebak si Lidah Beracun Mahapati

Jumat, 22 Sep 2017 11:57 | editor : Adi Nugroho

Dijebak si Lidah Beracun Mahapati

“Pahlawan-pahlawan setia Majapahit seperti  Pamandana, Mahisa Pawagal, Ra Jangkung, Ra Teguh, dan Jaran Lejong gugur bersama seluruh prajurit”

*       *             *        *

Kabar serbuan bala pasukan Wilwatika dan jatuhnya benteng Lamajang yang tidak tersangka-sangka itu diterima oleh Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dengan kekagetan luar biasa.

Bagaimana mungkin bala pasukan Wilwatikta menyerang Lamajang tanpa alasan yang jelas? Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi yang termangu-mangu kebingungan merasakan tubuhnya seperti disambar petir sewaktu prajurit pengawal benteng Pajarakan dengan nafas terengah-engah melaporkan bahwa benteng Pajarakan sudah jatuh diserang bala prajurit Majapahit yang dipimpin Dyah Halayudha.

Sebentar kemudian, ia merasakan tubuhnya lemas dan lututnya bergetar lemah manakala mendapati Ra Semi dengan nafas tersengal-sengal melaporkan bahwa dalam usaha mempertahankan diri dari serangan bala prajurit Majapahit yang dipimpin Dyah Halayudha ke benteng Pajarakan, pahlawan-pahlawan setia Majapahit seperti  Pamandana, Mahisa Pawagal, Ra Jangkung, Ra Teguh, dan Jaran Lejong gugur bersama seluruh prajurit yang mengawal benteng Pajarakan.  

“Pengkhianat!” geram Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dengan tubuh menggigil saat mendengar nama Dyah Halayudha disebut oleh Ra Semi,

”Seharusnya aku waspada. Seharusnya sudah bisa kubaca kata-kata beracun ular beludak itu.”

 “Yang Mulia,” dari halaman pendapa menghambur Panji Anengah dengan wajah pucat dan kata-kata bergetar. Di belakang Panji Anengah bergegas Panji Samara, Panji Wiranagari, dan Jaran Bangkal  yang dicekam kebingungan.

“Kita dijebak oleh si lidah beracun Mahapati,” kata Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dengan nada putus asa.

“Apa yang akan kita lakukan, wahai setiawan agung Majapahit?” tukas Panji Wiranagari, sahabat karib Mahapatih Arya Nambi semenjak mengabdi kepada Sri Prabhu Kertanegara.

“Ra Semi,” kata Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dengan suara ditekan tinggi,”Kau pergilah ke Tumapel menemui Mada. Ceritakan kepada anak itu apa yang sejatinya terjadi di sini. Ceritakan kepada dia atas apa yang dilakukan Si Lidah Bercabang itu.

Ceritakan bahwa semua yang dilakukan ular beludak itu adalah semata-mata untuk melemahkan Sri Baginda Maharaja karena makhluk terkutuk itu ingin mewujudkan cita-citanya menjadi Maharaja Wilwatikta.”(bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia