Senin, 16 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Prejengan

21 September 2017, 21: 35: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Prejengan

Share this          

Daya. Itu beda dengan gaya. Beda juga dengan nggaya. Sebab, orang yang nggaya, bisa jadi sebenarnya tak punya daya apa-apa di dalamnya. Berbeda dengan mereka yang penampilannya tidak ndayani. Padahal, sebenarnya, justru memiliki segalanya.

Itulah yang membuat orang-orang di warung sego tumpang sering salah sangka. Seperti waktu Matnecis pulang kampung pertama kali. Usai merantau ke ibukota sekian lama, penampilannya memang berubah. Seratus delapan puluh derajat. Semua serbakinclong. Mulai dari ujung rambut hingga ujung sepatu.

Bukan hanya itu. Semua juga serbawangi. “Kowe saiki wis dadi bos!,” seru orang-orang penuh kekaguman. Yang mau ngemplok mendoan, ote-ote, atau gedang goreng langsung ditaruh lagi. Mengerubuti pemuda necis itu.

Yang dikerubuti pun mekrok hidungnya. Dadanya juga penuh. Oleh kebanggaan. Lalu ganti bercerita ini-itu kepada mereka. Hingga bikin ngowoh satu per satu. “Dadi, saiki duitmu mesti akeh…,” komentar mereka. Matnecis klencam-klencem. Bangga.

Cuma, itu tidak berlangsung lama. Dia langsung mati gaya waktu Matusil datang. Lalu, mengusilinya, “Kalau begitu, ngebosi orang sewarung ini pasti bukan apa-apa buatmu. Keciiiill…”

Tanpa dikomando, orang-orang langsung berebut semua gorengan yang tersedia di meja. Makannya juga imbuh. Sak lauk-pauknya. Kalau sudah begitu, Matnecis segera mlipir-mlipir. Pergi. “Dompetku keri…”

Don’t judge a book by its cover. Begitu orang Londo bilang. Jangan menilai sesuatu hanya dari penampilan luarnya. Dari bungkus atau casing-nya. Dari prejengan-nya. Sebab, hal itu tidak otentik.

Cuma, nggaya memang tidak selalu menyulap penampilan menjadi wah. Melainkan bisa sebaliknya. Menyulap penampilan menjadi seolah-olah biasa-biasa saja. Sederhana. Gak ndayani. Itulah yang dinamakan macak. Kalau Matnecis macak wong sugih, ini macak wong ra nduwe.

Ini biasanya diterapkan oleh siapa saja –termasuk kita—yang wedi konangan. Tentang apa saja yang hendak disembunyikannya. Mulai kukul dan trathak yang bisa mengganggu estetika wajah hingga harta yang diperoleh dengan cara-cara yang nggak bener. Makanya, yang terlihat oleh orang lain menjadi tidak otentik. Bukan yang sebenarnya. Karena memang dibuat-buat.

“Lha tapi, kemasan kan perlu? Produk UMKM kita sering kalah hanya gara-gara packaging-nya yang ndak bagus,” tanya Dulglembos gundah. Nah, itu beda lagi. Sama-sama macak, tapi beda esensi. Packaging dalam strategi pemasaran produk UMKM bukanlah nggaya. Bukan pula seolah-olah. Karena justru mengangkat otentisitas yang sudah ada.

Barangnya sudah bagus. Produknya sudah bisa diandalkan. Nah, karena orang sering judge a book by its cover, maka cover itulah yang harus dibenahi. Sebab, book yang bagus sulit untuk membuat orang tertarik jika cover-nya tidak bagus. Tidak menarik.

Yang agak membingungkan adalah menganalisis perubahan-perubahan sosial yang terjadi di kulon kali. Orang-orang ndeso yang baru mendapat limpahan duit. Bukan cuma ratusan juta. Akan tetapi, miliaran. Dari tanah-tanahnya yang mendadak laku.

Prejengan-nya tetap saja wong ndesa. Tapi, duitnya sak hohah. Dan, keduanya sama-sama otentik: prejengan-nya otentik, duitnya juga otentik. Tidak ada yang dibuat-buat. Cuma, ndak matching dengan persepsi yang sudah biasa terbangun di benak orang umum.

Lazimnya, prejengan ndesa itu ya duitnya sedikit. Yang duitnya banyak, prejengan-nya mesti kutha. Itulah yang belakangan banyak membikin orang-orang di showroom mobil pada melongo. Bukan hanya ketika mengetahui keseriusan mereka untuk membeli mobil yang tersedia. Akan tetapi, juga dari seri yang dipilih. Mesti yang paling tinggi. Jumlahnya pun tak cukup satu. Karena juga untuk anak serta menantu. Semua cash. Bukan kredit.

Lalu, ketika ditanya, “Bayarnya mau transfer lewat rekening bank mana?” wong-wong ndesa itu ndak bisa njawab. Maklum, memang ndak punya rekening di bank mana pun. Mereka hanya bisa mengeluarkan buntelan kresek. Isinya duit semua. Dan, itu membuat yang melihatnya ndak bisa lagi berkata-kata.

Duit otentik. Prejengan otentik. Cara berpikir pun masih otentik-konsumtif. Otentisitas yang disebut terakhir itulah, sepertinya, yang masih perlu untuk diubah. Agar hidupnya tidak sekadar bergaya. Tapi, juga benar-benar berdaya.

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia