Selasa, 12 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 57

Perintah Pasukan Serang Serempak

18 September 2017, 13: 31: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Perintah Pasukan Serang Serempak

Share this          

“Laksana kawanan hewan buas menyerang mangsa, bala Magalah dan Mamedang menerjang ke arah gerbang sambil berteriak-teriak mencaci-maki”

Namun perwira pengawal memberi jawaban, bahwa para prajurit penjaga gerbang hanya menjalankan tugas dari Sang Jurupati Lamajang untuk menjaga gerbang dan benteng. Mereka membolehkan siapa pun memasuki kutaraja tanpa seijin Sang Jurupati Lamajang. Itu sebab, bala pasukan itu harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan ijin dari Sang Jurupati untuk memasuki kutaraja Lamajang.

“Tidakkah kalian tahu, bahwa kami dari Wilwatikta bersama Sri Baginda Maharaja?” seru Pu Sama berang.

“Kami hanya prajurit! Kami hanya menjalankan tugas!” sergah perwira Lamajang tidak gentar, “Kami sedang mengirim prajurit untuk meminta perkenan Sang Jurupati. Mohon bersabar!”

Pu Samaya marah sekali mendengar jawaban perwira Lamajang yang dianggapnya tidak menghormati maharaja. Sambil mengkertak gigi, ia menggeram dengan tanpa sadar menoleh ke arah Sri Baginda Maharaja

Melihat nayaka kepercayaannya mengalami hambatan untuk memasuki gerbang Lamajang, Sri Baginda Maharaja Jayanagara merasakan aliran darahnya menyembur ke ubun-ubun. Dengan nafas naik turun menahan amarah, ia berteriak lantang, “Seraaang!”

Seperti kawanan raksasa mengamuk, gajah-gajah perang yang berjejer di samping kanan dan samping kiri gajah Surawiti tunggangan maharaja meraung-raung dan menerjang dinding benteng.

Terdengar suara benturan keras sewaktu gajah-gajah perang itu menabrak dinding benteng. Namun tidak sedikit pun dinding benteng yang runtuh. Sebaliknya gajah-gajah perang itu terhempas goyah dan meraung-raung kesakitan.

Rupanya, para penunggang gajah itu belum mengetahui bahwa dinding benteng Lamajang setinggi enam dpa itu tebalnya empat dpa sehingga ditabrak gajah pun tidak goyah apalagi runtuh.

Menyaksikan serangan pasukan gajahnya tidak berhasil, Sri Maharaja Jayanagara berteriak marah memerintahkan pasukan penombak dan pasukan pedang menyerang serempak ke gerbang benteng,”Seraaang!”

Laksana kawanan hewan buas menyerang mangsa, bala Magalah dan Mamedang menerjang ke arah gerbang sambil berteriak-teriak mencaci-maki. Mereka yang tergabung dalam pasukan bala Magalah dan Mamedang Majapahit adalah pasukan yang terlatih baik. Mereka menyerang serentak, bergerak cepat, menikam dan menebas musuh dengan garang. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia