Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Kolom

Tentang Setia Kawan

17 September 2017, 07: 52: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

ADI NUGROHO

ADI NUGROHO

Share this          

“Mungkin cara pandang yang berbeda. Atau, ada alasan lain. Karena jika menolak mereka ada di kerumunan minoritas, bahkan mungkin sendirian”

Pernahkan Anda merasa dikucilkan, bahkan di tempat yang menurut Anda paling bersahabat? Jika ya, maka kita sama. Bahkan, mungkin sebagian besar dari kita memang pernah atau sedang mengalaminya.

Dari sebab sepele seperti soal selera makanan atau gosip artis idola hingga apa-apa saja yang menyangkut prinsip hidup. Manusia memang kadang sulit untuk menyatukan atau sekadar memahami perbedaan-perbedaan itu.

Dulu, saat kali pertama masuk kampus, nuansa pengucilan itu, sedikit banyak saya alami. Menjadi berbeda di tengah kumpulan komunitas yang sepaham memang sulit.

Waktu itu, saya menolak ikut apa yang mereka sebut sebagai ‘Malam Keakraban’. Yang menggelar adalah kakak-kakak tingkat di jurusan. Digelar beberapa hari setelah ospek, acaranya di luar kota, jauh dari kampus. Tempatnya di wilayah pegunungan yang cukup dingin.

Dari yang saya dengar sebelumnya, acara itu mirip kegiatan pecinta alam. Kita akan berada di tempat yang jauh dari keramaian. Ya penjelajahan, ya aneka permainan, api unggun, dan lain sebagainya. Menyenangkan dan akrab?

Tentu tidak dalam pikiran saya. Bukan karena saya termasuk anak gendut waktu itu, sehingga pasti akan sulit naik-turun bukit apalagi gunung. Tetapi saya takut. Ketakutan yang datang dari semilirnya kabar. Bahwa bukan hanya mengenali teman-teman baru, tapi di sana juga ada kegiatan bully-mem-bully. Benar tidaknya saya tidak bisa memastikan waktu itu. Tapi saya putuskan tidak ikut.

Yang pertama, ya karena takut itu. Yang kedua, saya memang tidak suka. Buat apa menghabiskan waktu tiga hari dibentak-bentak dan dikerjai, pikir saya.

Di tahun pertama, hal itu tampaknya oke-oke saja. Saya masih bisa berteman dengan yang lain, karena sama-sama mahasiswa baru. Namun saat tahun berganti dan teman satu angkatan berubah jadi kakak tingkat bagi juniornya, keputusan saya itu jadi bermasalah.

Entah ini kesepakatan satu komunitas angkatan atau pribadi orang-orang yang datang dan berbicara dengan saya, saya kembali ditawari untuk ikut kegiatan serupa bersama mahasiswa angkatan baru. Sekali lagi, saya kembali menolak. “Kalau kamu tidak ikut, kamu tidak punya kawan,” ancam seorang teman.

Tidak punya teman di jurusan? Biar saja, kata saya dalam hati. Saya masih bisa berteman di luar jurusan, di luar kampus, bahkan di warung kopi, warung sego sambel, warung Bu Eni, dan warung-warung lainnya.

Ketakutan saya di-bully mengalahkan ketakutan saya tidak punya teman. Meski tidak ikut, saya tetap memutuskan membayar uang pendaftaran ikut kegiatan itu, Rp 100 ribu. Demi kebersamaan. Hehehe...

Ketakutan itu mungkin bisa terjadi kepada siapa saja. Namun para mahasiswa baru, tampaknya lebih baik menurut. Mungkin cara pandang yang berbeda. Atau, ada alasan lain. Karena jika menolak mereka ada di kerumunan minoritas, bahkan mungkin sendirian.

Makanya mereka lebih baik bersetia kawan. Yang lain ikut, teman-teman seangkatan ikut, mengapa saya tidak? Mungkin saja begitu, saya menebak-nebak. Karena kalau tidak ikut bisa dicap pengkhianat, pembelot, tidak setia kawan, tidak punya nyali, dan sebutan-sebutan lainnya. Tapi saya tetap tidak sepaham dengan kesetiakawanan semacam itu, sampai sekarang. Bolehlah berbeda.

***

Beberapa waktu ini, pertunjukan rasa kesetiakawanan itu kembali bermunculan. Mereka yang merasa benar, membela rekannya habis-habisan. Segala cara dilakukan. Tanpa belas kasihan, apalagi perikemanusiaan.

Mohon maaf, saya tidak sedang bicara tentang sejumlah oknum wakil rakyat yang disebut-sebut sedang ‘mengerjai’ lembaga antikorupsi negeri ini. Tetapi tentang sejumlah anak punk yang menghajar anak punk lainnya hingga tak bernyawa.

Gara-gara mencolek teman perempuan pengeroyok, si korban dihajar. Bukan hanya memukul pakai kepalan tangan, para pengeroyok juga memakai batu-bata hingga gir motor. Setelah babak belur, korban masih dipaksa telanjang dan dikencingi, lalu dipukuli lagi sampai tewas. Sadis dan biadab.

Kesetiakawanankah? Bisa jadi. Karena dalam pengertiannya, kesetiakawanan berarti sikap solidaritas dan tenggang rasa. Bagaimana kita bersikap saling membantu, menjulurkan tangan dalam satu kepentingan.

Tapi itu, tentu saja itu belum cukup. Karena saling membantu saja, tidak bisa disebut sebagai kesetikawanan yang baik. Setia kawan, harusnya juga diwujudkan dengan menghargai dan berempati pada kepentingan orang lain. Karenanya, jika sudah berada dalam prinsip-prinsip yang kita tidak bisa menoleransinya, beranilah berbeda. Karena berbeda itu tidak apa-apa.

Bukankah Soe Hok Gie pernah berkata: “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia