Kamis, 13 Aug 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Sindikat Curanmor Antardaerah

Wow, Sudah Beraksi di Sembilan TKP

15 September 2017, 19: 54: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

BAWA SAJAM: Polisi menunjukkan celurit yang selalu dibawa Sukaji dan Samsul (baju oranye) saat beraksi mencuri motor.

BAWA SAJAM: Polisi menunjukkan celurit yang selalu dibawa Sukaji dan Samsul (baju oranye) saat beraksi mencuri motor. (REKIAN - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

NGANJUK - Polres Nganjuk bertindak cepat pascamenangkap Sukaji, 47, pelaku pencurian motor (curanmor) di perempatan Kertosono pada Selasa (12/9) lalu. Sehari berselang (13/9), mereka berhasil menangkap Samsul, 42, satu pelaku lain yang kabur ke Pasuruan. Pria yang ditangkap di rumahnya itu dihadiahi timah panas karena tetap berusaha melakukan perlawanan.

          Pengungkapan kasus curanmor yang menghebohkan warga Nganjuk itu kemarin digelar di halaman Polres Nganjuk. Memakai balaclava, Sukaji dan Samsul digiring menuju halaman mapolres.

          Tidak hanya menunjukkan dua pelaku, Kapolres Nganjuk AKBP Joko Sadono juga menunjukkan sejumlah barang bukti yang diamankan dari keduanya. Yaitu, lima kunci T, dua celurit, ponsel merk Samsung dan Nokia.

          Kemudian, empat plat nomor kendaraan palsu, empat kartu ATM, helm hitam dan dua unit motor. Yaitu, Honda CBR dan Honda Beat. “Dua pelaku ini sangat berbahaya karena saat beraksi selalu membawa sajam (senjata tajam, Red),” kata Joko, sapaan akrab Joko Sadono.      

Berdasar pemeriksaan yang dilakukan oleh polisi, Sukaji, asal Desa Tambakrejo, Kecamatan Krembung, Sidoarjo dan Samsul yang tinggal di Desa Rowogempol, Kecamatan Lekok, Pasuruan adalah pemain lama. Keduanya merupakan sindikat antardaerah yang biasa beraksi di sejumlah lokasi.

          Menurut pengakuan keduanya, selama 2017 ini mereka sudah beraksi di sembilan tempat kejadian perkara (TKP). Tujuh di antaranya di Nganjuk. “Dua lainnya di Jombang,” lanjut Joko sembari menyebut bisa saja aksi yang dilakukan Sukaji dan Samsul lebih banyak lagi.

          Apa peran para tersangka? Ditanya demikian, perwira menengah dengan pangkat dua melati di pundak ini mengatakan, Sukaji bertugas sebagai pemetik atau orang yang mencuri motor. Sedangkan Samsul hanya mengawasi kondisi sekitar sembari bersiap di atas motor.

          Berbekal kunci T, Sukaji biasa beraksi dalam hitungan menit sebelum membawa kabur motor incarannya. Saking lihainya, dia biasa beraksi di tempat ramai. Termasuk saat Sukaji mengambil motor Honda Beat warna putih di area parkir Pasar Baron Selasa (12/9) lalu. “Jika tepergok warga mereka sudah menyiapkan celurit untuk membela diri dan mengancam,” terang Joko.

          Berdasar pengakuan Sukaji, di wilayah Baron mereka sudah mencuri tujuh motor. Masing-masing, satu unit motor Honda Vario, Honda Supra X 125, dua unit Honda Beat hitam. Kemudian, satu unit motor Honda Beat putih, Honda Mega Pro hitam, dan Honda Beat biru. Adapun dua motor lain, yaitu satu unit Honda Beat warna hitam dan motor Honda Tiger diambil di Jombang.

          Hingga kemarin, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut. Termasuk, mencari oknum penadah yang menerima barang curian dari keduanya. Meski berhasil mencuri banyak motor, mereka mengaku tidak mendapatkan banyak uang.

          Samsul mengaku hanya mendapat uang antara Rp 700 ribu hingga Rp 1,8 juta setiap kali berhasil menjual motor curian. Uang haram itu pun langsung habis untuk berfoya-foya.  “Sukaji pernah ditangkap sebagai penadah motor di Malang dan pelaku pencurian di beberapa lokasi. Dia sudah dua kali masuk penjara,” urai perwira asal Surabaya itu.

          Kasatreskrim Polres Nganjuk AKP Gatot Setyo Budi menambahkan, tidak hanya lihai beraksi, Sukaji dan Samsul juga pandai menyamarkan motor hasil curiannya. Setiap kali selesai beraksi, mereka selalu mengganti plat nomor kendaraan dengan yang palsu.

          Hal inilah yang membuat polisi sempat kesulitan melacak keduanya. “Sukaji bisa sangat tenang saat beraksi karena menggunakan jimat perlindungan,” kata Gatot tentang pria yang pernah divonis enam bulan dan empat bulan penjara karena kasus curanmor itu.

          Atas aksinya yang nekat, Sukaji dan Samsul diancam dengan pasal

363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan (curat). Ancaman hukumannya maksimal 7 tahun penjara. Mereka juga dijerat pasal 2 ayat 1 UU Darurat nomor 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. “Mereka dikenakan pasal komulatif,” terang Gatot.

          Seperti diberitakan, pencurian yang dilakukan Sukaji dan Samsul bisa terungkap akibat kejelian anggota tim buser Satreskrim Polres Nganjuk yang curiga melihat motor Honda CBR tanpa plat nomor yang dikendarai keduanya. Setelah dibuntuti, ternyata mereka sempat mencuri motor Honda Beat di Pasar Baron.

          Sukaji dan Samsul pun dihadang empat anggota buser saat melintas di Perempatan Kertosono Selasa (12/9) lalu. Dalam pergumulan untuk menangkap keduanya, Bripda Ilham sempat terkena sabetan celurit di jari tangannya. Sedangkan Brigadir Endro yang juga terkena sabetan celurit selamat karena hanya mengenai helm dan bajunya yang sobek.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia