Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Iman Budi Hernandi, Gelandang Persik Kediri

Uang Buwuhan Sunat Diam-Diam Dipakai Daftar SSB

15 September 2017, 13: 07: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

TANGKAS: Iman Budi Hernandi menggiring bola hindari lawan ketika skuad Persik bertanding di Stadion Brawijaya, Kota Kediri (16/5)

TANGKAS: Iman Budi Hernandi menggiring bola hindari lawan ketika skuad Persik bertanding di Stadion Brawijaya, Kota Kediri (16/5) (RINO HAYYU SETYO – RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Di tengah persaingan ketat di sektor gelandang musim ini, Iman Budi Hernandi tampil cukup menonjol. Determinasi mantan kapten tim PON Jatim ini membuat lini tengah Persik lebih bertenaga. 

ADI NUGROHO

Hari sudah mulai gelap. Namun pemain Persik masih serius berlatih di Stadion Brawijaya Kediri, Kamis sore kemarin (14/9). Di bawah arahan Coach Bejo Sugiantoro dkk, para pemain seperti tak kenal lelah.

Training ball possession hingga mini game mereka lakoni. Para penggawa Macan Putih ini seolah sudah melupakan kegagalan mereka menembus 16 besar Liga 2 Indonesia musim ini.

Kegagalan yang membuat Persik tak mampu merengkuh mimpi lolos ke kasta teratas tampaknya sudah dipendam dalam-dalam. Para pemain sepertinya justru terlecut untuk memberikan yang terbaik untuk bertahan di Liga 2. Peluh dan napas mereka seperti hanya untuk Persik Kediri. 

Salah satunya adalah Iman Budi Hernandi. Meski hanya latihan dan menghadapi rekan-rekannya sendiri, Iman – seperti biasanya –tampak bermain dengan gayanya yang berani. Tak jarang, pemain kelahiran 13 Juli 1993 ini berlari kencang hingga ke pinggir lapangan untuk merebut bola.

Gesekan dan benturan dengan pemain lain pun tak terhindarkan. Umpan dan heading-nya juga mewarnai latihan yang berlangsung sekitar 2 jam itu. “Tetap semangat,” ungkapnya seusai latihan.

Permain berpostur 171 sentimeter dengan berat 60 kilogram ini memang kadung jatuh cinta dengan Persik. Makanya, tak heran jika semua waktu dan tenaganya ia curahkan di sini. Bukan hanya karena ia kini bermain di tim, tetapi baginya bergabung Persik merupakan mimpi yang terwujud.

Di matanya, Persik adalah tim besar yang punya sejarah panjang di dunia persepakbolaan Indonesia. Makanya, Iman tak ingin tampil mengecewakan. Baik latihan maupun ketika dipercaya pelatih untuk turun ke lapangan saat liga. “Kami terus berjuang. Sebenarnya melihat komposisi pemain, tim ini harusnya lolos (ke 16 besar, Red). Tapi ya, ada faktor selain faktor teknis,” ungkap pemain bernomor punggung 19 ini.

Meski masih berusia 24 tahun, Iman terlihat bepengalaman. Maklum, curriculum vitae-nya cukup panjang. Besar di tim Arema junior hingga senior, pengidola mantan gelandang Barcelona Xavi Hernandez ini juga pernah memperkuat Perseba Bangkalan, Laga FC, serta Persela Lamongan.

Bersama tim yang ia bela, tak jarang Iman menorehkan prestasi. Seperti saat membawa Perseba juara Divisi 3 serta Laga FC lolos Divisi Utama. Baginya, sepak bola sudah menjadi pilihan hidup. Sejak kecil, ia memang menyukai. Bahkan, hasratnya bermain kerap mengalahkan aktivitasnya yang lain.

Padahal orang tuanya kerap melarang. Alhasil, putra kedua pasangan Budi Prayitno dan Wiji Wahyuni ini curi-curi waktu hanya untuk bermain bola. “Bapak-ibu melarang. Karena waktu itu, sore kan harus ngaji,” kenangnya.

Larangan orang tuanya tak membuatnya jera. Iman kecil justru semakin serius bermain bola dan ingin masuk sekolah sepak bola (SSB). Tapi selain kondisi ortunya yang pas-pasan karena hanya bekerja sebagai buruh tani di Karangploso, Malang, Iman juga tak punya cukup uang saku untuk mendaftar ke SSB. Harapannya baru terwujud saat ia sunat.

Memanfaatkan uang buwuh tetangganya yang terkumpul sekitar Rp 100 ribu, Iman lantas memberanikan diri masuk SSB Unibraw 82. “Waktu itu saya pakai Rp 50 ribu untuk daftar. Ya dari buwuhan tetangga,” ujarnya lantas tertawa lepas.

Tapi saat itu, ia mengaku, masih sembunyi-sembunyi. Bapak dan ibunya belum tahu. Karenanya, jangankan minta diantar ke tempat latihan, Iman bahkan tak berani bilang sudah mendaftar. “Berangkat latihan ya harus ngontel. Pakai sepeda sendiri. Jaraknya sekitar 5-7 kilometer dari rumah,” bebernya.

Berawal dari SSB itu, bakat Iman terasah. Hingga ia akhirnya masuk ke akademi Arema. Moncer di tim junior, ia pun terpanggil masuk salah satu skuad PON Jatim dan jenjang usia Arema di atasnya. Dari sanalah karirnya terus menanjak. Banyak pelatih yang melirik. Termasuk masuk ke tim profesional dan mendapat bayaran.

Setelah tahu prestasi putranya di bola, orang tua Iman akhirnya tak lagi melarang. Mereka hanya berpesan, agar Iman bisa membagi waktu. Termasuk rajin beribadah dan ngaji. Kini, dengan karirnya di bola, Iman menjadi tulang punggung keluarga. Ia pun membantu biaya sekolah dua adik perempuannya. “Bantu orang tua, karena adik-adik masih sekolah,” paparnya.

Dunia sepak bola sendiri sudah menjadi jalan hidup Iman. Bahkan, alumnus SMA Islam Al Ma’arif Malang ini memilih tak melanjutkan kuliah, karena ingin serius di bola dan membantu ekonomi keluarganya. “Sebenarnya sempat ditawari tiga perguruan tinggi di Malang karena prestasi di bola. Tak saya tolak. Saya ingin serius di bola saja,” ujar pemilik akun Instagram (IG) Iman_hernandezz ini.

Di Persik, Iman tinggal di mes. Ia baru pulang seminggu sekali atau saat libur latihan. Karenanya, waktunya pun kerap dihabiskan di Kota Tahu. Selain ngopi bersama pemain Persik lain di sekitar mes, ia juga punya ‘hobi’ sambang pondok. Sejumlah pondok pesantren (ponpes) sudah ia datangi. Bukan hanya di Kediri, tetapi juga daerah lain. “Kalau lagi libur ya salawatan di pondok. Di sini, biasanya di Lirboyo. Pernah juga ke Tambakberas (Ponpes Bahrul Ulum, Jombang), dan Al Kautsar (Pandaan, Red),” ungkapnya.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia