Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung

Tidak Ganggu Tamu dari Kutaraja

13 September 2017, 11: 46: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Tidak Ganggu Tamu dari Kutaraja

Share this          

“Datar sekali Dyah Halayudha menanggapi laporan prajurit yang kebingungan. Lalu dengan suara dingin tanpa perasaan Dyah Halayudha menghardik”

===================

Satu-dua penduduk Ganding yang bersembunyi di bawah tumpukan kayu dari rumah yang ambruk tampak kebingungan dan ketakutan menyaksikan sisa-sisa bayangan  para pembinasa itu menuju ke selatan.

Di tengah fajar yang makin terang ketika kabut pagi terangkat dari permukaan bumi, Dyah Halayudha tampak gagah memacu kuda tunggangannya ke arah Pajarakan yang dikelilingi baluwarti (benteng tanah) dengan bangunan kubu batu bata di sudut-sudutnya.

Saat jarak dengan dinding baluwarti sudah selemparan batu, Dyah Halayudha menghentikan laju kuda tunggangannya. Dengan mata dikecilkan, ia menyapukan pandangan ke sekeliling baluwarti yang terlihat sangat kokoh sulit ditembus.

Sekilas, ia sudah bisa mengira-kira bahwa dalam keadaan biasa, selaksa bala pasukan yang dipimpinnya tidak mampu menjatuhkan benteng pertahanan yang begitu kokoh dan dipertahankan oleh prajurit-prajurit yang terlatih.

Setelah berpikir beberapa jenak, Dyah Halayudha memacu kuda tunggangannya ke depan gerbang baluwarti sambil berteriak lantang, “Siapa yang ada di dalam baluwarti?”

Seorang prajurit penjaga kubu yang melihat kibaran panji-panji dan bendera Wilwatikta tampak berlari keluar gerbang menghadap Dyah Halayudha. Dengan takzim prajurit itu memberitahukan namanya dan kedudukannya sebagai kepala pengawal gerbang barat Pajarakan.

Datar sekali Dyah Halayudha menanggapi laporan prajurit yang tampak kebingungan  itu. Lalu dengan suara dingin tanpa perasaan Dyah Halayudha menghardik,

“Biarkan kami bala pasukan dari Wilwatikta masuk ke Pajarakan. Kami utusan Sri Baginda Maharaja akan menghadap Yang Mulia Mahapatih Mangkubhumi.”

“Patik, Yang Mulia,” sahut prajurit itu berlutut. Sebentar kemudian, ia memberi syarat kepada kawan-kawannya yang berada di balik baluwarti untuk tidak mengganggu tamu dari kutaraja.

Melalui  isyarat ayunan tangan ke depan, Dyah Halayudha memimpin seratus pasukan  berkuda yang  bergerak di belakangnya untuk memasuki gerbang barat Pajarakan. Dengan menghela kuda tunggangannya melangkah perlahan,   Dyah Halayudha bersama pasukan berkudanya melewati jalan besar yang membelah Pajarakan, seolah-olah menunggu pasukan pejalan kaki yang bergerak di belakangnya. (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia