Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 50

Berpacu dengan Pasukan Berkuda

11 September 2017, 08: 45: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Berpacu dengan Pasukan Berkuda

Share this          

“Terkejut akan kabar yang tidak disangka-sangka, Mada segera memutuskan untuk menahan kurir utusan Pu Jalu agar tidak kembali ke kutaraja”

Perwira muda asal Daha itu berharap Pu Mada segera  mempersiapkan diri untuk kembali ke kutaraja karena dipastikan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi dan para pejabat tinggi yang mengabdi sejak masa Sri Prabhu Kertanegara akan habis tidak bersisa terkena amarah Sri Baginda Maharaja.

Terkejut akan kabar yang tidak disangka-sangka itu, Mada segera memutuskan untuk menahan kurir utusan Pu Jalu agar tidak kembali ke kutaraja. Setelah itu, ia menghadap Bhre Tumapel Nararya Cakradhara untuk melaporkan peristiwa yang tidak tersangka-sangka itu.

Sama terkejutnya dengan Mada, Bhre Tumapel Nararya Cakradhara tersudut pada kedudukan sulit dengan tidak memiliki pilihan lain kecuali harus berangkat ke Lamajang secepatnya untuk menyelamatkan keluarganya di Paguhan dan Kuta Renon, termasuk putera dan cucu Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja.

Dengan dikawal duapuluh orang pasukan berkuda, Bhre Tumapel Nararya Cakradhara dan Mada memacu kuda mereka untuk melewati jalur terjal ke Lamajang dengan melintasi Jayaghu naik ke jurusan Gunung Pundak Lembu terus ke arah Alas Remeng.

Sekalipun bergerak pada jalan yang berbeda, iring-iringan bala pasukan Wilwatikta yang dipimpin Sri Baginda Maharaja seperti berpacu dengan iring-iringan pasukan berkuda yang mengawal Bhre Tumapel Nararya Cakradhara dan Mada dalam melintasi waktu untuk mencapai kutaraja  Lamajang meski yang satu melewati jalur utara dan yang lain melewati jalur barat.

Namun  berbeda dengan iring-iringan bala pasukan Wilwatikta yang bergerak lamban seolah mengikuti langkah gajah tunggangan maharaja dan langkah prajurit pejalan kaki, iring-iringan pasukan berkuda yang mengawal Bhre Tumapel Nararya Cakradhara dan Mada melesat seperti bayangan setan di tengah kegelapan malam.

Tidak sekalipun para penunggang kuda itu berhenti untuk beristirahat kecuali mengganti kuda tunggangan baru yang sudah disiapkan di pos-pos pemberhentian. Itu sebabnya, menjelang fajar iring-iringan pasukan berkuda yang mengawal Bhre Tumapel Nararya Cakradhara dan Mada telah sampai di perbatasan barat Lamajang.

“Aku ke Paguhan,” seru Bhre Tumapel Nararya Cakradhara menunjuk arah timur, “Kau ke Kutha Renon, Kakang Mada! Bawa ke Tumapel semua keluarga eyang Jurupati!”

“Patik Yang Mulia,” seru Mada takzim, menghela kuda tunggangannya ke arah utara diikuti lima orang penunggang kuda yang mengawalnya.(bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia