Minggu, 19 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal
Biasa Hidup Bebas dan Urakan

Yang Wanita Jadi Korban Pelecehan

08 September 2017, 10: 00: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

BRUTAL: Dua anak punk yang menjadi pelaku pengeroyokan terhadap Imam Subekti, FAF dan KMC, saat keluar dari kantor polisi menuju TKP untuk mengikuti prarekonstruksi (5/9).

BRUTAL: Dua anak punk yang menjadi pelaku pengeroyokan terhadap Imam Subekti, FAF dan KMC, saat keluar dari kantor polisi menuju TKP untuk mengikuti prarekonstruksi (5/9). (YAYI FATEKA - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Ibarat rumput liar, setiap kali dicabut akan kembali tumbuh. Demikian pula dengan anak punk yang menggelandang di jalanan Kota Kediri. Mereka tak pernah ada habisnya. Walaupun sebenarnya Satpol PP tak henti-hentinya menjaring mereka melalui patroli harian.

“Setiap hari kami lakukan sweeping dan mengamankan anak-anak punk dan jalanan,” terang Ali Mukhlis, pelaksana tugas (Plt) kasatpol PP, melalui Nurkhamid, kabid Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Anak-anak jalanan dan punk yang menggelandang di jalan-jalan Kota Kediri berasal dari berbagai kota. Sebagian memang ada yang asli Kota Tahu. Namun, sebagian lagi berasal dari luar kota. Ini yang menyebabkan stok anak punk seperti berlimpah. Setiap kali dirazia nanti akan datang lagi.

Anak-anak punk mengusung kebebasan di segala sisi kehidupan mereka. Mulai dari penampilan yang urakan hingga perilaku yang bebas dan semaunya. Tidak ada yang bisa mengontrol gaya hidup mereka karena memang mereka hidup di jalanan.

Karena itulah Nurkhamid, yang hampir setiap hari menemukan anak-anak punk tidak kaget ketika menciduk mereka dalam kondisi teler berjamaah. Ada pula punk perempuan yang mengaku pernah digilir rekan-rekan laki-lakinya meski tidak sampai hamil.

Ada pula anak-anak punk yang menyimpan pil dobel l ataupun obat keras bermerek yang tidak boleh dikonsumsi sembarangan karena bisa berdampak ketagihan. “Sudah sangat sering kami temui demikian di kalangan anak-anak punk meski ada yang hanya ikut-ikutan temannya,” tandasnya.

Melalui satpol PP, Nurkhamid berupaya melakukan antisipasi adanya tindak-tindak asusila maupun premanisme dari gaya hidup anak-anak punk tersebut. Salah satunya adalah dengan melakukan patroli rutin tiga kali sehari dan melakukan penindakan jika ada temuan di jalan.

“Penindakan kami lebih pada pembinaan. Jika sudah ada unsur pidana akan kami limpahkan ke jajaran samping yakni kepolisian,” bebernya.

Dari berbagai jenis anak punk yang terjaring tersebut, diketahui bahwa sebagian dari mereka terpaksa turun ke jalan karena kondisi ekonomi maupun keluarga yang tidak baik. Makanya ketika mereka ada keinginan untuk menjalani kehidupan normal, satpol PP pun ikut menginisiasi program pembinaan lanjutan anak-anak punk.

“Kami pastinya tidak bisa kerjakan semuanya sendirian. Makanya kami gandeng instansi terkait salah satunya Dinas Pendidikan,” urai pria berlatar belakang guru tersebut.

Tidak serta merta yang terjaring tersebut dilimpahkan ke Rumah Karya. Mereka yang dibina hanya yang memang memiliki keinginan berubah. Sehingga tidak semua yang terjaring pasti mengikuti kegiatan rehabilitasi bentukan Pemkot.

“Sebagian besar kami kembalikan ke orang tua. Kalau sudah seringkali terjaring, kami tawari mau berubah dan bergabung dalam kelompok belajar anak-anak jalanan atau tidak,” tandasnya.

Beberapa kelompok belajar yang dibentuk adalah Suket Teki di Perum Bumi Asri, Kelurahan Kaliombo, dan Rumah Karya di Kelurahan Pojok. Suket Teki sendiri saat ini dikelola oleh Sri Rahayu, staff Dinas Pendidikan Kota Kediri.

“Namanya anak jalanan pastinya liar dan susah dikondisikan. Perlu ketelatenan untuk bisa mengetahui apa sebenarnya keinginan mereka,” terang Yayuk, panggilan akrab Sri Rahayu kepada wartawan koran ini.

Dari Suket Teki sendiri kini sudah ada satu mantan punk yang sudah lulus paket B dan akan melanjutkan ke paket C. Ada pula satu anak yang sudah lulus paket C. Bahkan ada satu mantan anak punk yang sudah bekerja di salah satu instansi dan masih menjalani paket C.

“Ada pula yang sekarang magang kerja,” tandasnya.

Makanya menurut Yayuk, sebenarnya anak punk bukan ancaman selama bisa dikontrol. Memang tidak mudah, namun perlu ketelatenan dan sepenuh hati dalam membina anak-anak punk tersebut.

“Harapannya nanti bisa mengawal dan membina mereka hingga bisa mandiri finansial,” pungkasnya.

(rk/yi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia