Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Jalan 5 Kilometer Tunaikan Jumrah

03 September 2017, 11: 15: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

MENUJU JAMAROT: Jamaah haji Kabupaten Kediri berjalan di Mina menuju Jamarot untuk melempar jumrah.

MENUJU JAMAROT: Jamaah haji Kabupaten Kediri berjalan di Mina menuju Jamarot untuk melempar jumrah. (M ARIF HANAFI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Sejak tiba di Mina pagi kemarin (2/9). Jamaah fokus istirahat di tenda hingga sore. Perjalanan sebelumnya begitu menguras tenaga. Hampir semua jamaah terlelap kepayahan. Kami konsentrasi memulihkan tenaga untuk persiapan Jumrah Aqobah sorenya.

"Masya Allah... saya yang masih muda saja begitu capek luar biasa. Apalagi bapak dan ibu yang sudah sepuh dan kondisi fisiknya tidak prima. Pasti merasakan kelelahan yang sangat luar biasa," ujar Mufid, jamaah asal Desa Joho, Kecamatan Wates.

Meski hari Jumat kami tidak melaksanakan salat Jumat. Kami ganti salat Duhur sekaligus dijamak dengan Ashar. Pun begitu saat salat Id. Kami tidak melaksanakannya. Saat itu kami masih di bus. Perjalanan ke maktab di Mina.

Sorenya, tepat pukul 18.00 waktu Arab, kami berangkat ke Jamarot. Diantar petugas maktab, tidak semua ikut melempar Jumrah Aqobah ini. Jamaah yang kondisi fisiknya tidak kuat kami tinggal di maktab. Lemparan mereka diwakilkan kepada jamaah lain yang fisiknya lebih prima.

Karena untuk ke Jamarot harus ditempuh jalan kaki. Jarak dari maktab ke Jamarot lebih dari 2,5 km. Total pulang pergi 5 km. Tak sekadar jalan, tapi kadang berdesakan. Untung saat melempar, kondisi di Jumrah Aqobah sedang sepi. Bertepatan dengan salat Magrib. Sedang kami menjamak takhir salat Magrib dengan Isya. Sehingga waktu kami bisa leluasa.

Saat itu kami melempar di lantai satu. Ada empat lantai tempat untuk melempar jumrah. Lantai dasar, lantai 1 hingga 3. Pintu masuk dan pintu keluar tiap lantai berbeda-beda. Punya jalur sendiri-sendiri. Inilah yang sering membuat jamaah tersesat. Karena salah memilih jalur saat kelur dari Jamarot.

Selesai melaksanakan lemparan aqobah, kami langsung kembali ke maktab. Saat itu pukul 20.36, kami pun langsung melakukan tahalul awal. Sebagian jamaah merasa sangat lega dan haru. Ditandai dengan memotong rambut, terlepas sudah larangan ihram. Kecuali berhubungan suami istri, masih belum boleh hingga tawaf dan sai dijalankan nanti.

"Alhamdulillah, sungguh lega rasanya. Kemarin benar-benar hari yang berat. Semua telah kami lewati. Semoga semuanya diterima. Dan menjadi haji mabrur. Saya mau potong rambut gundul," kata Ahmad, jamaah asal Ngadiluwih.

Sabtu (2/9) pukul 08.00 kami kembali melempar jumrah. Kali ini kami tidak lewat jalur kemarin. Tetapi lewat terowongan. Untuk menuju dan pulang dari jamarot, kami melewati dua terowongan. Terowongan untuk pergi dan pulang berbeda. Sehingga jamaah bebas berjalan searah.

Bahkan di terowongan itu dilengkapi eskalator. Namun saat kami lewati, tangga berjalan itu banyak yang dimatikan. Hanya ada dua jalaur eskalator yang difungsikan. Di dalam terowongan itu dilengkapi blower besar mirip mesin pesawat. Berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara. Meski yang jalan ada ribuan orang, anginnya terasa 'semriwing' sejuk.

Saat itu, kami melempar tiga jumrah, wula, wusto, dan aqobah. Kondisi jamarot tidak terlalu ramai. Kami melempar di lantai tiga. Alhamdulillah berjalan lancar. Total dua jam lebih sedikit waktu yang kami butuhkan untuk melaksanakan lempar jumrah. Usai berdoa kami pun kembali pulang ke maktab. Untuk melanjutkann mabit atau bermalam di Mina.

Besok (hari ini) kami akan melempar tiga jumrah lagi. Rencananya kami akan berangkat bakda Subuh. Karena mengambil nafar awal, kami harus segera kembali ke Makkah sebelum waktu Ashar.

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia