Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 42

Bahan Utama Menebar Kekacauan

03 September 2017, 06: 28: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

Bahan Utama Menebar Kekacauan

Share this          

“Dyah Halayudha menyampaikan rasa takjubnya atas keramaian di Lamajang yang diakibatkan oleh hadirnya semua orang dari berbagai penjuru negeri”

Warung-warung dan kedai-kedai makan yang muncul dadakan untuk menyediakan kebutuhan pendatang dari luar daerah memenuhi kanan dan kiri jalan masuk ke Ganding hingga Pajarakan.

Bahkan memasuki jalan utama ke kutha Lamajang, hingar kesemarakan sangat menakjubkan karena para pelayat yang datang dari berbagai negeri untuk menyampaikan ungkapan dukacita, melimpah di jalan-jalan hingga terkesan seperti perayaan kegembiraan sebuah hajat besar kerajaan.

Semarak keramaian yang sejatinya berhubungan dengan mangkatnya Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja yang disambung berurutan dengan wafatnya Sang Pranaraja Pu Sina, dengan sangat baik ditangkap oleh Dyah Halayudha untuk dimanfaatkan sebagai bahan utama menebar badai kekacauan bagi Lamajang yang akan menyeret Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi ke pusaran masalah besar yang akan menenggelamkannya ke samudera kebinasaan.

Menurut cerita: sewaktu menghadap Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi bersama utusan maharaja yang lain, Dyah Halayudha menyampaikan rasa takjubnya atas keramaian di Lamajang yang diakibatkan oleh hadirnya semua orang dari berbagai penjuru negeri untuk menyampaikan dukacita dan bela sungkawa.

“Hamba yakin, tamu-tamu dari negeri-negeri sakawat-bhumi masih akan berdatangan sampai sebulan mendatang,” kata Dyah Halayudha menyelipkan  pujian dan sanjungan.

Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi yang merasa tersanjung menimpali, “Sudah berhari-hari aku tidak dapat tidur nyenyak karena harus menemui tamu dari pagi hingga malam.”

“Yang mulia tidak boleh terlalu lelah,” kata Dyah Halayudha penuh perhatian,”Yang mulia harus beristirahat yang cukup.”

“Tapi aku harus menemui semua tamu, termasuk para  utusan dari wilayah sakawat-bhumi, sebab waktuku tinggal sedikit di Lamajang. Aku harus segera kembali ke Wilwatikta,” kata Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi menegaskan.

“Mohon ampun seribu ampun, Yang Mulia,” kata Dyah Halayudha dengan suara rendah, “Menurut hemat hamba, seyogyanya Yang Mulia mengambil cuti sampai semua urusan di Lamajang selesai. Hamba merasa, Sri Baginda Maharaja tidak akan berkeberatan untuk mengijinkannya.” (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia