Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Berjubel, Lima Jam Baru Dapat Naik Bus

02 September 2017, 21: 26: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

RAMAI: Suasana Maktab 30.

RAMAI: Suasana Maktab 30. (M ARIF HANAFI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Ujian berat dihadapi jamaah haji. Khususnya kloter 2 SUB Kabupaten Kediri. Mereka antre di urutan terakhir untuk mabid di Mudalifah dan perjalanan ke Mina.

Begitu waktu wukuf usai, tepat Kamis (31/8) saat azan Magrib, seluruh jamaah harus bersiap ke Musdalifah. Mereka menjalani salah satu wajib haji. Yakni bermalam atau mabit di sana.

Dalam maktab 30 di Arafah, tempat sebagian jamaah haji Kabupaten Kediri melaksanakan wukuf, dihuni oleh 7 kloter lain dari berbagai daerah Indonesia. Jika per kloter terdiri atas 450 jamaah, maka total ada 3.150 jamaah haji penghuni maktab tersebut.

Bisa dibayangkan ribetnya proses pengangkutan seluruh jamaah itu menuju Musdalifah. Kebetulan kloter 2 SUB Kabupaten Kediri mendapat hasil undian angkutan paling akhir. "Mau gimana lagi. Tidak ada pilihan. Hanya sabar dan pasrah yang bisa kita lakukan. Ini adalah salah satu bentuk ujian berhaji," ujar Sabik Maulana, jamaah asal Putih, Gampengrejo.

Hampir lima jam menunggu. Padahal malam cuaca terasa panas. Bahkan angin yang berembus pun panas. Pendingin ruangan di tenda seakan tak terasa. Baru pukul 23.45 jamaah bisa naik bus. Bus berkapsitas 50-an penumpang itu diisi hampir 100 orang sekali jalan.

"Alhamdulillah. Yang penting terangkut. Nggak masalah harus berdesakan. Memang kita sedang berjihad. Butuh perjuangan dan kesabaran ekstra," kata Yanik Dwi, salah satu jamaah haji.

Sebenarnya tak butuh waktu lama untuk perjalanan menuju Musdalifah. Jaraknya hanya sekitar 7 km dari maktab kami di Arafah. Namun, karena banyaknya kendaraan menuju ke sana perjalanan menjadi lebih lama. Sekitar hampir 45 menit kami sampai.

Ribuan jamaah sudah ada di sana. Tidur dengan alas seadanya. Sebagian lagi mengais tanah mencari kerikil. Waktu menuju Mina dari Musdalifah dimulai pukul 00.00. Kami masih di urutan terakhir. Harus sabar menunggu lagi. Hingga 6 kloter lain terangkut.

Sebagian dari kami berusaha tidur. Namun rasanya sangat sulit. Meski di tempat terbuka, embusan udara terasa panas. Tubuh berkeringat. Selain itu larangan larangan ihram masih mengikat kami. Hanya tafakur dan berzikir yang paling bisa kami lakukan selama menunggu.

Genap enam jam kami menunggu di Musdalifah untuk diberangkatkan ke Mina. Tepat usai salat Subuh baru kami dapat bus. Jalanan masih penuh kendaraan. Bus-bus berlalu-lalang mengangkut jamaah. Bus itu berlomba dengan ratusan ribu jamaah yang berjalan kaki.

Helikopter kerajaan Arab Saudi seakan tak berhenti. Entah apa yang dilakukan. Mungkin berpatroli memantau situasi. Menjelang maktab kami di Mina jalan macet. Bus tak bergerak sama sekali. Untung tak terlalu lama. Sekitar pukul 07.30 kami tiba di Mina.

Kami pun istirahat. Menuggu waktu untuk melempar jumrah aqobah. Kami berencana melempar aqobah bakda Magrib. Karena pagi jamaah haji Indonesia dilarang melempar. Kondisi jamarot sedang sangat ramai. Selain itu, udara sangat terik panas menyengat. Kami tunggu agak dingin demi keselamatan.

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia