Rabu, 27 Jan 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Mengintip Kehidupan Warga di Tengah Hutan Desa Tritik

Makan Tiwul, Penerangan Gunakan Lampu Minyak

02 September 2017, 21: 16: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

APA ADANYA: Ismunandar dan Sariyem istrinya bertahan hidup di tengah hutan selama lebih dari 30 tahun. Mereka berharap bisa mendapat bantuan lampu penerangan agar daerahnya tidak gelap gulita.

APA ADANYA: Ismunandar dan Sariyem istrinya bertahan hidup di tengah hutan selama lebih dari 30 tahun. Mereka berharap bisa mendapat bantuan lampu penerangan agar daerahnya tidak gelap gulita. (REKIAN – RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Di era teknologi informasi seperti sekarang, ternyata masih ada warga Nganjuk yang hidup terasing. Setidaknya ada empat kepala keluarga (KK) yang tinggal di tengah hutan Perhutani Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Brengkok, Kecamatan Rejoso tanpa listrik. Bagaimana keseharian mereka?

REKIAN

Seorang pria tua terlihat sibuk memotong bambu di halaman rumahnya. Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 kemarin, tetapi aktivitas di deretan rumah yang ada di tengah hutan Perhutani di RPH Brengkok, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso itu belum selesai.

          Termasuk yang dilakukan Ismunandar. Bersama Sariyem, sang istri, pria berusia 70 tahun itu terlihat sibuk memotong dan membelah bambu. Tak mau berpangku tangan, Sariyem langsung membersihkan bambu yang baru dipotong dan dibelah oleh suaminya.

          Bambu yang telah terpotong dan dibelah lantas disisihkan setelah dibersihkan. “Bambu ini untuk memperbaiki rangka atap rumah anak saya,” kata Ismunandar saat ditanya tentang peruntukan bambu yang dipotongnya, kemarin.    

          Berbeda dengan kampung lain yang ramai, kampung berisi tujuh rumah itu terlihat sepi. Praktis hanya Ismunandar dan Sariyem yang ada di depan rumahnya. Selebihnya, justru sedang tidak berada di rumah.

          Karenanya, ‘kampung’ itu terlihat sepi. Hanya kokok ayam saja yang beberapa kali berhasil memecah kesunyian sore itu. Ya, di kampung yang terletak di tengah hutan Desa Tritik, Kecamatan Rejoso itu memang tidak ada listrik.

          Maka, jangan harap Anda akan mendengar suara radio atau televisi yang biasanya bersahutan dari satu rumah dengan rumah lainnya. Pun suara ponsel yang biasanya asyik jadi mainan anak-anak hingga orang dewasa.

          Dalam kesehariannya, warga di tengah hutan Dusun Magersari, Desa Tritik itu asyik dengan pekerjaannya masing-masing. Ismunandar yang tidak memiliki kebun atau sawah, setiap harinya rajin keluar masuk hutan untuk mencari temu kuning.

          Tanaman umbi-umbian yang masih banyak ditemui di tengah hutan itu pula yang menjadi tumpuan hidup Ismunandar dan istrinya. Setiap hari, pria bertubuh kurus itu bisa mengumpulkan hingga lima kilogram temu kuning.

          Dengan harga jual di pasar Rp 3 ribu per kilogramnya, Is, demikian Ismunandar biasa disapa, bisa menghasilkan uang Rp 15 ribu. Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Ditanya demikian, Is melempar pandang ke arah Sariyem yang ada di belakangnya. “Ya berusaha dicukup-cukupkan,” sahutnya pendek, kemudian. 

          Karena harga beras yang mahal dan penjualnya yang jauh, Is dan beberapa KK warga yang tinggal di sana memilih untuk sering memakan tiwul yang terbuat dari gaplek. Jika tidak demikian, umbi-umbian lain juga biasa dikonsumsi untuk makan sehari-hari. “Kalau ada beras ya beras. Kalau tidak ada, ya apa yang ada dimakan,” lanjutnya menyiasati keterbatasan yang dialaminya. 

          Saat umat Islam mendapat pembagian daging kurban kemarin, Is dan sejumlah KK lain di sana hanya bisa menelan ludah. Sebab, hingga kemarin sore belum ada orang yang masuk ke kampungnya untuk membagikan daging.

          Sampai kapan Is dan warga lain akan bertahan di sana? Ditanya demikian, bapak dari sembilan anak ini mengaku akan tetap tinggal di sana sampai mati. “Di sini tenang,” lanjut kakek 13 cucu ini.

          Meski demikian, diakui Is ketenangan yang dirasakannya bisa jadi tidak dirasakan oleh warga lain. Setidaknya, dari tujuh KK yang semula tinggal di sana, kini tinggal empat rumah saja yang ditempati.

          Sedangkan tiga rumah lainnya dibiarkan kosong. Makanya, Is sengaja memotong bambu untuk memperbaiki atap rumah kayu itu agar bisa digunakan anaknya.

          Meski selalu hidup dalam keterbatasan, Is bersyukur dirinya bisa membesarkan sembilan anak dan 13 cucunya. “Ya harus bisa bertahan hidup. Masak kalah sama ayam,” lanjut pria asli Ngawi ini lantas tergelak.

          Is dan sejumlah warga mulai tinggal di lingkungan itu sejak 1986 lalu. Tinggal di tanah milik Perhutani, mereka memang hanya boleh membangun rumah nonpermanen.

          Tujuh rumah yang ada di sana semuanya terbuat dari kayu. Lantainya pun tanah. Kebutuhan air didapat dari sumur Perhutani yang ada di dekat perkampungan mereka. Adapun kebutuhan air untuk mandi diambilkan dari sungai yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah mereka.

          Meski bisa menerima keadaan yang serbaterbatas, tak ayal Is mengeluhkan penerangan di lingkungannya. Belum adanya listrik membuat warga hanya bisa menggunakan penerangan dari lampu minyak.

          Tetapi, seiring dengan konversi minyak ke gas, mereka mulai kesulitan menemukan minyak tanah. Untuk keluar kampung dan membeli minyak tanah, mereka harus menempuh jarak sekitar tujuh kilometer.

          Itu pun bukan medan yang mudah. Selain terjal, kondisi jalannya naik turun. “Makanya kami kesulitan mencari penerangan,” keluhnya. Sebenarnya, Is pernah mendapat bantuan lampu tenaga surya.

          Tetapi, lampu yang berbentuk seperti senter itu tidak bisa untuk penerangan. “Ya fungsinya jadi senter. Makanya, kami berharap bisa mendapat bantuan lampu tenaga surya untuk penerangan,” harapnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2021 PT Jawa Pos Group Multimedia