Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 40

Sangat Setia Mengabdikan Diri

31 Agustus 2017, 15: 46: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

Sangat Setia Mengabdikan Diri

Share this          

“Kekuasaan telah meretak-pecahkan persahabatan dua anak manusia yang sudah puluhan tahun merasakan pahit dan getirnya mengabdi kepada kerajaan”

Tidak ada yang dilakukan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi sepanjang mendengarkan kisah terakhir dari ayahandanya kecuali keharuan sekaligus kegembiraan bahwa ayahandanya telah berdamai dengan sahabat lamanya, Sang Jurupati Lamajang Arya Adikara Wiraraja, yang sejak terjadinya perselisihan antara dia dengan Arya Adikara Ranggalawe telah merenggang jauh.

Kekuasaan. Ya kekuasaan telah meretak-pecahkan persahabatan dua anak manusia yang sudah puluhan tahun merasakan pahit dan getirnya mengabdi kepada kerajaan.

Di hadapan jenazah ayahandanya yang terbujur kaku ditutupi kain putih dengan taburan bunga, serbuk kayu gaharu, kepulan asap kayu cendana, kemenyan, Mahapatih Mangkubhumi Arya Wiraraja menempelkan wajahnya ke dada ayahandanya dengan airmata berlinang-linang.    

Setelah lama menangis terisak-isak di dada ayahandanya, Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi bangkit. Sambil mengusap air mata, ia berteriak memanggil Rakryan Winkas Pu Gadru. Dengan suara bergetar ia memerintahkan agar Pu Gadru pergi menghadap Sri Baginda Maharaja untuk menyampaikan  kabar mangkatnya Sang Pranaraja Pu Sina. Setelah Pu Gadru berangkat, Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi masuk ke dalam kamar dan duduk bersila mengatur nafas. Ia tidak ingin larut terbawa kepedihan akibat kepergian ayahandanya.

Sementara itu, sebelum Rakryan Winkas Pu Gadru sampai ke kutaraja Wilwatikta, kabar mangkatnya Sang Pranaraja Pu Sina telah sampai kepada Sri Baginda Maharaja dari pemberitahuan yang berasal dari Dyah Halayudha. Itu sebab, pada saat Rakryan Winkas Pu Gadru menghadap pada pagi hari – setelah semalaman berkuda menembus kegelapan malam dengan berganti kuda tiga kali --  Sri Baginda Maharaja Jayanegara sudah dihadap para nayaka untuk membincang mangkatnya Sang Pranaraja Pu Sina.

Pertama-tama, Sri Baginda Maharaja Jayanegara menyampaikan dukacita yang mendalam atas mangkatnya Sang Pranaraja Pu Sina, wreddha nayaka yang sangat setia yang telah mengabdikan diri semenjak mendiang Sri Prabhu Kertanegara. Untuk itu, sebagai tanda bela sungkawa Sri Baginda Maharaja Jayanegara mengirim utusan yang merupakan pejabat tinggi kerajaan seperti Mahisa Pawagal, Pamandana, Ra Emban,Ra  Lasem, Jaran Lejong, dan Dyah Halayudha, yang membawa tali-asih dari maharaja berupa tiga peti uang emas, sepuluh gulung kain sutera, satu pedati kayu gaharu dan kayu cendana. Melalui Dyah Halayudha, Sri Baginda Maharaja menyampaikan pesan kepada Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi agar dapat meneladani ayahandanya, Sang Pranaraja Pu Sina, yang menunjukkan kesetiaan sebagai nayakapraja hingga akhir hayatnya. (bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia