Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Suharno Melawan Kelumpuhan dan Dekubitus

Dikenal Suka Bergaul dan Berani Coba Segala Usaha

30 Agustus 2017, 11: 28: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

BUTUH BANTUAN: Khodijah membantu suaminya, Suharno, saat hendak minum di ruang tamu rumahnya, Dusun/Desa Keniten, Mojo (26/8).

BUTUH BANTUAN: Khodijah membantu suaminya, Suharno, saat hendak minum di ruang tamu rumahnya, Dusun/Desa Keniten, Mojo (26/8). (YAYI FATEKA – RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Suharno tak pernah menyangka niatnya mencari makan kambing berujung kelumpuhan. Pria 66 tahun tersebut terjatuh dari pohon randu setinggi 9 meter. Sejak kejadian 9 bulan lalu itu kakinya lumpuh. Dia juga menderita dekubitus.

YAYI FATEKA DP

Ruang tamu di rumah Suharno, Dusun/Desa Keniten, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri berfungsi ganda menjadi kamar tidurnya. Ada dipan kasur diletakkan di ruang berukuran 3x3 meter itu. Sabtu lalu (26/8) ketika Jawa Pos Radar Kediri bertandang, Suharno tampak telentang di dipan berlapis kasur tipis tersebut.

Sarung motif kotak-kotak menyelimutinya. Di dekatnya terdapat meja dengan beberapa obat-obatan serta segelas minuman di atasnya. Satu meter dekat dipan ada televisi sedang menayangkan acara entertainment.

Suharno dan istri, Khodijah, melihat acara tersebut. “Wah silakan masuk,” ujarnya menyambut ramah wartawan koran ini. Khodijah lantas menyilakan duduk. Di ruang itu terdapat dua kursi tamu dari kayu.

Sejenak berbincang, Khodijah lalu menunjukkan luka di bagian belakang tubuh suaminya. Perlu sedikit usaha karena Suharno harus dijunjung dan dimiringkan. “Ini lho Mbak, alhamdulilah pinggirannya sudah mongering. Ini setiap hari saya bersihkan,” terang perempuan 51 tahun tersebut.

Panjang luka di atas pantat itu sekitar 15 cm. Sedangkan lebarnya 7 cm. Kulitnya mengelupas sehingga dagingnya terlihat “Dulu nggak selebar ini Mbak, awalnya kecil sekali,” paparnya.

Keadaan seperti ini telah dialami Suharno sekitar sembilan bulan. Awalnya, Desember 2016 dia berniat mencari daun di pohon randu. Daun itu untuk pakan kambing tetangga yang dipeliharanya. “Disuruh tetangga gitu lho Mbak, suruh ngopeni (kambing), nanti kalau beranak hasilnya dibagi dua,” jelas anak ketiga dari lima bersaudara itu.

Nahas, sampai di atas cabang pohon yang dipijak tak kuat menahan tubuh Suharno. Akibatnya, dia terjatuh. Tulang ekornya patah. Kakinya tak bisa digerakkan. Suharno hanya bisa berteriak minta tolong. Sampai akhirnya ada tetangga menolong. Dia langsung di bawa ke RS Bhayangkara Kediri.

“Kata dokter harus dioperasi. Biayanya Rp 15 juta,” kenang Khodijah. Bagi Suharno, biaya itu terlalu besar. Apalagi, petugas rumah sakit mengatakan, operasi juga belum tentu bisa menyembuhkannya. Suharno pun mundur. Ia tak mau merepotkan orang-orang terdekatnya.

Sejak itu, Suharno lumpuh. Ia hanya terbaring di tempat tidur. Karena lamanya terbaring muncul luka di bagian atas pantatnya. Dalam istilah medis, luka ini dikenal dengan dekubitus (luka akibat penekanan terus-menerus di suatu titik tubuh dalam jangka panjang).

Demi kesembuhan, Suharno dan istri menjual rumahnya untuk biaya rumah sakit. Rumah dijual kepada saudaranya sendiri. Makanya kini mereka masih bisa menempati.

Lebih dari satu bulan dirawat, Suharno kemudian diminta pulang. “Katanya sudah kasep (telat) Mbak, rumah sakitnya angkat tangan,” papar Khodijah yang belum pernah menyentuh bangku sekolah itu.

Makanya sampai kini, Suharno hanya dirawat di rumah dengan perawatan seadanya. Yang paling dikeluhkan bukan luka dekubitusnya. Melainkan bagian perutnya yang selalu terasa panas.

Suharno hanya dirawat Khodijah. Pasangan suami istri (pasutri) ini lebih dari 30 tahun menikah. Namun tak dikaruniai anak. Beberapa waktu lalu Khodijah bekerja sebagai buruh pabrik tahu dengan upah Rp 20 ribu per hari. “Tapi akhir-akhir ini bapak sudah tidak bisa ditinggal sama sekali Mbak. Jadi saya juga sudah nggak kerja, makan dari saudara-saudara,” terangnya.

Suharno yang sebelumnya sangat aktif kini tak bisa melakukan aktivitas produktif. Tapi meski lumpuh dari perut ke atas sampai kepala, dia masih bisa bergerak dan berbicara. “Ya gimana lagi Mbak, maunya ya gerak, cari uang, tapi ini sudah nggak bisa,” keluh Suharno.

Sebelum kena musibah, Suharno terkenal gesit dan punya banyak usaha. Di antaranya menjual petai, ayam, usaha lele, sampai mencetak batu bata. “Yang paling saya jagokan ya batu bata itu Mbak,” ungkapnya. Selain gesit, Suharno tak kenal takut. Dia berani mencoba segala usaha. “Nggak penting untung rugi, yang penting coba dulu,” ujarnya.

Itulah mengapa dia sampai berani mengeluarkan uang meskipun bermodalkan utang. Sebelum lumpuh, Suharno sudah membeli salah satu pohon petai milik warga Desa/Kecamatan Grogol. Namun karena jatuh, pohon tersebut pun tak jadi dipanen olehnya, sedangkan uangnya hangus. Usahanya yang diharapkan, yakni cetak boto pun harus berakhir tragis.

Dalam usaha ini, Suharno menyewa tanah tetangganya. Dia sewa seharga Rp 50 ribu per seribu bata. Sedangkan seribu bata ia jual Rp 500 ribu. Untungnya tak seberapa karena harus membeli kayu dan membayar karyawan dalam proses membuat bata. “Yang penting punya kegiatan dan uang buat makan Mbak,” imbuh pria asal Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo tersebut.

Untuk mengembangkan usaha batu bata, Suharno sempat meminjam uang Rp 10 juta. Namun apa daya, karena lumpuh ia tak dapat melanjutkan usahanya. Selain pekerja keras, Suharno dikenal mudah bergaul dan banyak teman. Saat ini, ia berharap, bantuan untuk kelangsungan hidupnya.

(rk/yi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia