Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features
Kisah Asyari, saat Berhaji Tempo Dulu (3-Habis)

Makan Khalawak Oles Sale selama di Makkah

26 Agustus 2017, 20: 56: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

M ARIF HANAFI

M ARIF HANAFI

Share this          

Di Makkah, bagaimana Asyari menjalani harinya? Apa saja yang dilakukan? Berikut kisah lanjutannya selama puncak haji.

Usai menyelesaikan rangkaian arbain di Madinah, Asyari pindah ke Makkah untuk melaksanakan haji. Total 9 hari di Madinah. Naik jenis bus yang sama saat perjalanan dari Jeddah ke Madinah. Saat itu, dia juga langsung umrah. Mengambil miqot di Masjid Bir Ali.

Di tengah perjalanan ke Makkah, bus yang ditumpangi Asyari dihentikan segerombolan orang. Di situ bus berhenti lama. Dia melihat sopir berbicara serius dengan orang itu. Kemudian setelah memberikan uang, bus melaju kembali.

Sampai di tanah Haram Makkah, Asary melanjutkan rangkaian umrah. Tawaf dan Sai di Masjidilharam yang tak semegah sekarang. Pelataran tawaf dekat Kakbah sudah dilapisi plester semen. Namun tidak keseluruhan.

Sumur Zamzam belum ditutup seperti sekarang. Jamaah masih bisa melihat sumber sumur. Ada keran air di sumber itu untuk minum. Bahkan banyak yang mandi di sana. "Orang Indonesia jarang yang ikut mandi. Yang banyak mandi terutama dari Pakistan," cerita Asyari.

Begitu pula kondisi Safa dan Marwa. Masih sangat sederhana, belum bertingkat. Tetapi lantainya sudah tertutup dalam bangunan gedung. Bukit Safa dan Marwanya masih terasa nanjaknya. Masih kelihatan terbuka bebatuannya.

Sekarang tidak bisa lagi menginjak bebatuan bukit Safa. Karena dipagari rapat. Namun si Marwa masih disisakan sedikit bebatuannya yang bisa diinjak. Mirip suasana Madinah, di Makkah juga sudah banyak toko di sekitar masjid. Hal lain yang kini tak dijumpai adalah hilangnya anjing liar berkeliaran. Saat itu, Asyari sering menjumpai di jalanan. Hanya malam saja terdengar lolongan di atas gunung.

Bila menjelang Magrib hingga tengah malam lolongan anjing ramai bersahutan. Tapi tidak sampai berkeliaran di jalan. Di Makkah, Asyari ditemui Kulaini. Dia dalah mutawif (dalam bahasa Arab berarti pemandu perjalanan). Sama seperti Muzawiri di Madinah, Kulaini mahasiswa juga. Asyari diantar ke rumah Shyeik Mohammad bin Nuri. Dia menempati salah satu kamar di lantai atas. Di kamarnya, Asyari tinggal sendiri. Perabot hanya kasur dan kipas angin.

Selama di Makkah, setiap hari Asyari makan khalawak. Semacam roti kering. Kemudian diolesi sale buah yang dibelinya di toko sekitar tempat tinggalnya. Minumnya air Zam-zam. Tiap pagi, tuan rumah sudah menyediakannya sebotol. Ketika bangun, botol itu sudah ada di depan pintu kamar.

Selama menunggu waktu wukuf, Asyari mengaji pada Shyeik Yasin. Beliau adalah ipar Shyeik Mohammad bin Nuri. Asyari menimba ilmu agama darinya. Jika ada waktu luang, ia membantu pekerjaan rumah Shyeik Yasin. Mulai mencuci hingga membersihkan rumah. Tapi tak digaji. Hanya diberi makan. Asyari ikhlas menjalaninya. "Namanya belajar, saya ingin dapat barokah dari shyeik," ujarnya.

Asyari sering dimintai sesama jamaah haji mengantarkan mengambil miqot umrah ke Masjid Tan Im. Dari sini ia menerima uang transpor. "Besarnya tak seberapa Mas. Cukup untuk beli makan. Saya tidak pernah minta. Kalau diberi baru saya terima. Kalaupun tidak ya tidak apa apa," ungkapnya.

Selain uang saku dari ayahnya. Asyari juga mendapat uang tambahan dari hasil menjual sarung. Dia berjualan waktu kapal sandar di Djiobuti. Saat perjalanan menuju Makkah. "Tapi saya lupa berapa hasil penjualan sarung itu," katanya. Kurs real saat itu Rp1.000 per 7 real. Atau Rp 143 per 1 real.

Menurut Asyari, total jamaah haji dari seluruh dunia sekitar 15 sampai 20 ribuan. Dari Indoneisia ada dua kapal. Perkiraan jumlahnya 5 hingga 7 ribuan. "Saya bener-bener takjub dengan kondisi saat ini. Zaman saya dulu tidak berjubel kayak begini. Sekarang masjid sebesar ini jam 08.00 pagi sudah sesak kalau mau Jumatan. Masya Allah...," urainya kagum dengan kondisi sekarang.

Usai proses haji, sekitar tanggal 20-an Zulhijah 1398 Hijriyah, Asyari pulang ke Indonesia. Oleh Shyeik Mohammad bin Nuri, nama Syakroni diganti Asyari. Sejak itulah nama Asyari terus dipakainya. Saat itu dia hanya membawa oleh-oleh kurma dan air zamzam. Asyari naik kapal yang sama seperti saat berangkat.

Saat perjalanan itulah kapal yang ditumpangi Asyari ditangkap di Kolombo, Srilangka. Sebenarnya kapal berhenti untuk mengisi BBM dan perbekalan. Namun ketika hendak berlayar, kapal dihentikan tentara. Tidak bolah berangkat. "Ternyata pemilik kapal belum membayar biaya perbaikan kapal kepada bengkel di Singapura. Perusahaan itu minta bantuan untuk menahan kapal," papar Asyari.

Selama tiga hari kapal ditahan. Namun akirnya dibebaskan karena pemilik kapal mengajukan banding ke pengadilan internasional. Dan menang. Kapal mendapat ganti rugi. Seluruh pengeluaran selama ditahan tiga hari diganti penuh. Kapal pun melanjutkan perjalanan ke Indoneaia.

Perjalanan pulang lebih lama dibanding keberangkatan. Total dia menghabiskan waktu 21 hari perjalanan pulang. Oleh keluarganya, Asyari dijemput di Surabaya. Lalu langsung pulang ke Kepung. Kini Asyari menjadi kiai di kampungnya.

(rk/han/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia