Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Kisah Asyari, saat Berhaji Tempo Dulu (2)

Kelabuhi Imigrasi dengan Kapur Merah

25 Agustus 2017, 15: 45: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

DI MASJID NABI: Haji Asyari (kanan) bersama jamaah asal India.

DI MASJID NABI: Haji Asyari (kanan) bersama jamaah asal India. (M ARIF HANAFI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Selama di kapal, Asyary dan jamaah Indonesia lain melewatkan Idul Fitri. Tak busa bermaaf-maafan dengan keluarga karena terbatasnya sarana komunikasi.

Setelah 18 hari perjalanan naik kapal laut, Asyari dan jamaah haji Indonesia lainnya tiba di Arab Saudi. Tepatnya di pelabuhan Jeddah. Pelabuhan Jeddah merupakan pelabuhan utama di Arab Saudi. Terletak di tepi Laut Merah.

Jeddah berasal dari kata Jaddah dalam bahasa Arab. Yang berarti nenek. Karena di kota itu dimakamkan nenek moyang manusia ibu Hawa, istri Nabi Addam Allaihissalam. Ada juga yang mengartikan Jiddah yang berarti lepas pantai.

Saat itu, kira-kira minggu kedua Syawal 1398 Hijriah. Praktis Asyari berlebaran di atas kapal. Tak ada ucapan selamat Idul Fitri dari keluarga di Indonesia. Pun sebaliknya. Semua karena keterbatasan sarana komunikasi.

Masuk pelabuhan, laiknya masuk negara asing pasti ada pemeriksaan dokumen dan barang bawaan. Asyari pun tak luput dari pemeriksaan. Seluruh jamaah diperiksa. Antrenya lumayan lama. Seluruh barang bawaan dilihat petugas imigrasi. Termasuk peti kayu harus dibuka. Namun Asyari punya trik khusus. Sehingga peti kayunya lolos tanpa dibuka.

"Sebelumnya saya dibilangi sama Masud (jamaah haji lain dari Kediri). Nanti sebelum diperiksa petinya supaya dicoret pakai kapur warna merah. Itu bukti kalau peti aman dan sudah dilihat petugas," cerita Asyari. Dan benar. Petinya lolos tanpa diperiksa. Pemeriksaannya pun busa lebih cepat.

Pertanyaan saat pemeriksaan adalah di mana nanti tinggal di Makkah. Sebelum berangkat, Asyari sudah mendapat pesan dari gurunya, KH Zamroji. Jika ditanya begitu, bilang ke Shyeik Mohammad bin Nuri.

Menurut dia, ada tiga pilihan tempat tinggal selama di Makkah. Satu di Shyeik Mohammad bin Nuri, Shyeik Amin Jabir, dan Shyeik Muhtar Sedayu. "Saya ikuti saran kiai saya. Begitu ditanya langsung saya jawab ke Shyeik Mohammad bin Nuri" ujar Asary.

Usai pemeriksaan, Asyari dan jamaah haji Indonesia tidak langsung ke Makkah. Namun menuju Kota Nabi, Madinah al Munawaroh. Menempuh jarak hampir 500 km perjalanan memakan waktu 10 jam lebih. Dua kali lipat dari perjalanan yang sama saat ini. Bus yang dikendarai masih yang lama. Di bemper depan ada moncongnya. “Jauh kalau dibanding bus yang kita tumpangi kemarin. Jangakan AC, kipas angin pun tidak ada,” kenang Asyari.

Dalan perjalanan ke Madinah tidak ada berhenti untuk makan. Bus hanya istirahat di pinggir jalan. Di sepanjang jalan hanya padang dan gunung batu. Tidak ditemui bangunan sama sekali. Jalannya tidak selebar saat ini. Banyak debu berterbangan. Sampai di Madinah, Asyari dan jamaah haji lain disambut oleh Muzawiri. Dia mahasiswa Indonesia yang ditugaskan mengoordinasi jamaah haji Indonesia. Setelah mendapatkan hotel sesuai arahan Muzawiri, Asyari istirahat.

Kondisi Madinah saat itu sangat jauh beda. Hotel ada tapi tak sebagus dan sebanyak saat ini. Hotelnya dulu juga bertingkat, namun tak semewah dan setinggi sekarang. Di sekitar masjid juga seperti itu. Pedagang sudah banyak, tapi tak seramai sekarang. Jika azan tiba, semua langsung menuju masjid. Lapaknya ditinggal begitu saja.

Kala itu, Asyari banyak menemui orang merokok dengan selang yang terhubung benda mirip 'torong' kaca tinggi. Mungkin yang dimaksud adalah shisha khas Timur Tengah. "Di pinggir jalan hampir seluruh pedagangnya pakai rokok itu. Tapi sekarang saya belum menjumpai satu pun," katanya.

Bangunan masjid tidak semegah dan seluas saat ini. Saat itu masih bangunan lama yang dekat makam nabi. Belum ada pendingin ruangan, tetapi sudah ada kipas angin hanya di bagian tertentu. Dari halaman masjid masih bisa melihat padang di kejauhan. Kini semua tertutup gedung bertingkat. Hanya dari depan gerbang utama saja masih bisa melihat gunung.

Luas Masjid Nabawi sekarang ini diperkirakan seluas Kota Madinah zaman Rasulallah. Karena saat itu makam al-Baqi berada di pinggiran kota. Kini sudah menyatu dengan masjid. Di kuburan Baqi dimakamkan istri-istri, keluarga, dan sahabat nabi. Kecuali Siti Hadijah al Kubro. Istri pertama nabi ini dimakamkan di Ma'la. "Meski sudah dipagari, tapi saat itu saya masih bisa melihat makam Rasulullah. Belum ditutup serapat sekarang. Makamnya hanya ditandai nisan batu. Termasuk makam Saiyidina Abu Bakar dan Saiyidina Umar," urainya.

Jamaah di masjid pun tidak seramai sekarang. Kalau mau salat di raudah pun bisa sewaktu-waktu. Beda dengan sekarang. Jika ingin ke raudah harus antre dan berdesakan. Di dalam pun tak bisa lama karena bergantiaan dengan jamaah lain. Kalaupun ngotot lama harus bersiap dikeluarkan laskar penjaga.

Yang sama dengan sekarang adalah lamanya tinggal dan kegiatan selama di Madinah. Asyari tingal di Madinah selama 9 hari untuk salat Arbain. Tentu juga ziarah ke tempat sejarah lainnya. Masjid Quba, Masjid Kondaq, Jabal Uhud dan lainnya. (han/ndr/bersambung)  

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia