Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Kisah Asyari, saat Berhaji Tempo Dulu (1)

Arungi Lautan, 4 Meninggal di Kapal

24 Agustus 2017, 19: 15: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

SIMBOL KASIH SAYAH: Haji Asyari (tengah) saat di Jabal Rahmah.

SIMBOL KASIH SAYAH: Haji Asyari (tengah) saat di Jabal Rahmah. (M ARIF HANAFI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Di dalam rombongan jamaah haji asal Kabupaten Kediri ada nama Asyari. Dia bukan sekali ini menunaikan rukun Islam kelima. Empat puluh tahun silam, lelaki ini juga ke Tanah Suci. Lewat jalur laut. Berikut kisahnya, seperti yang diceritakan kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Dulu, Asyari bernama Sya’roni. Ayahnya  H Usman bin Hasan. Selain tokoh agama di Gadungan, Puncu, saat itu, Usman tergolong orang berada. Sawahnya sangat luas.

Sebagai anak tokoh agama, menuntut ilmu agama adalah fardhu ain bagi Asyari. Sang ayah memasukkannya ke Ponpes Roudlotul Ulum, Kencong.  Saat itu di bawah asuhan almarhum KH Zamroji.

Saat menginjak usia 20-an tahun, Asyari diangkat sebagai ustad di ponpes tersebut. Dua tahun kemudian, sang ayah memanggilnya. "Kowe tahun iki budalo kaji. Saiki ndang siap-siapo (Kamu tahun ini berangkat haji. Sekarang segera bersiap-siap)," kata Asyari menirukan perkataan ayahnya kala itu.

Hanya kata ya dalam bahasa Jawa halus yang keluar dari mulut Asyari. Wujud dari birrul walidain, berbakti pada orang tua.

Besoknya, Roni-sapaan Asary waktu muda, menyiapkan rencana hajinya. Ketika ditanya sang ayah apakah berhaji lewat lau atau udara, Roni memilih laut. Bukan karena takut naik pesawat tapi ingin mencari tantangan dan pengalaman.

“Saya pilih jalur laut karena ayah saya dulu juga lewat laut. Menurutnya ilmu yang didapat bisa lebih banyak,” terang Asyari.

Saat itu, biaya berhaji tak sampai Rp 1 juta. Bila lewat laut Rp 915 ribu. Bila lewat udara, lebih murah. Hanya Rp 815 ribu.

Usai membayar biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) ke Kantor Departemen Agama Kabupaten Kediri, Asyari mengurus paspor. Saat itu masih di Surabaya. Saat itu, kira-kira bulan Rabiulawal 1398 Hijriah. Lima bulan sebelum berangkat. Jadwal keberangkatannya adalah akhir Ramadan. Ashary tidak ingat tanggal masehinya.

Saat keberangkatan, kapal yang dinaiki Asyari bernama Arafat. Berdasarkan penelusuran Jawa Pos Radar Kediri, Arafat sebenarnya bukan nama kapal. Tapi Nama PT yang mengoperasikan kapal yang mengangkut jamaah haji Indonesia di era 60-an hingga akhir 70-an. Saat itu PT Arafat mengoperasikan lima kapal besar. Yaitu KM Gunung Djati, Tjut Njak Dhien, Pasific Abeto, Mei Abeto, dan Le Havre Abeto.

Entah mana kapal yang dinaiki Asyari. Berdasar ingatan Asyari, nahkodanya orang asing. Penumpangnya sekitar 2.500 orang. Bisa jadi lebih. Kapalnya bertingkat empat. Tingkat paling atas diisi orang-orang penting dan pejabat. Di bawahnya diisi orang kaya. Di bawahnya untuk orang penting. Dan, lantai terbawah ditempati jamaah dari kalangan kebanyakan. Dan di situlah Asyari berada.

Di dek ituAsary tinggal di ruangan terbuka. Tidur di hall luas bersama jamaah lainnya. Seratusan orang lebih. Setiap orang mendapat kasur sendiri. Di dekat tempat tidur ada jendela kaca. Bisa untuk melihat ke luar. Di bagian depan dek ada semacam balkon. Bisa melihat laut.

"Jika ombak besar kami tak bisa tidur. Rasanya seperti diaduk-aduk. Jika sudah seperti itu pasti banyak yang mabuk," kenang Asyari.  

Perbekalannya ditempatkan di peti kayu. Ukurannya 70 x 50 x 50 sentimeter. Plus satu tas tenteng. Selain baju, juga membawa bekal. Kecap dan lombok kering. Juga ada 10 lembar sarung yang hendak dia jual. Uang saku dari sang ayah sekitar Rp 200 ribu. Persisnya dia lupa.

Kapal yang ditumpanginya tak langsung ke Makkah. Tapi singgah dulu di Jakarta. Kemudian kembali ke timur, ke Ujungpandang (Makassar). Di tiap pemberhentian itu kapal selalu menaikkan jamaah haji.

Dari Makassar kapal langsung ke Arab Saudi. Tujuan akhirnya pelabuhan Jeddah. Mengarungi samudra hampir 10 ribu kilometer. Menurut ingatan Asyari, kapal sempat singgah di Jiputi untuk isi bahan bakar dan perbekalan. Tapi dia tak tahu di negara mana itu. Kemungkinan yang dia maksud adalah Djibouti. Negara di Afrika Timur. Tepatnya di Teluk  Aden. Pintu masuk menuju Laut  Tengah, jalur yang harus dilewati sebelum ke Jeddah.

Total, 18 hari lamanya Asyari berada di kapal laut. Selama itu dia mendapat jatah makan tiga kali sehari. Menunya berganti-ganti. Kadang sayur, daging, atau ikan laut. Saat makan harus antre.

Tak sedikit jamaah haji yang mabuk laut. Bahkan empat jamaah meninggal selama perjalanan. Mayatnya ditempatkan di ruangan khusus. Saat sampai di Jeddah, jenazah jamaah itu dimakamkan.

"Banyak kegiatan yang dilakukan awak kapal untuk mengisi waktu. Di kapal diselenggarakan pertandingam bulu tangkis, kemudian lomba adzan, dan juga lomba qiroah. Setiap habis salat juga ada ceramaah agama dan bimbingan ibadah," ujar Asyari.

Dari Kediri, saat itu hanya dua orang yang berangkat haji. Asyari dan Masud. Nama terakhir itu asalnya dari Kelutan, Papar. "Saya saat itu punya tiga kenalan, Ilyas dari Nganjuk, Mukson dari Gunung Pring Sumatra, dan Masud dari kelutan papar. Ke mana-mana bersama tiga orang itu. Sekarang tiga kawan saya itu menjadi kiai semua," ujar Asary.  (han/fud/bersambung)

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia