Rabu, 11 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Jaya Hartono, Gelandang ‘Pengangkut Air’ Persik Kediri

Kangen saat si Kecil Manggil ‘Bapak...Bapaaak!’

24 Agustus 2017, 09: 50: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

CEPAT ADAPTASI: Jaya Hartono saat melawan PSBI Blitar.

CEPAT ADAPTASI: Jaya Hartono saat melawan PSBI Blitar. (RINO HAYYU SETYO - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Perannya sentral di lini tengah. Apalagi saat tim sedang menghadapi serangan lawan. Sebagai gelandang bertahan, ia dituntut punya mobilitas dan disiplin tinggi. Dialah roh determinasi Persik Kediri musim ini. Apa kaitannya dengan Jaya Hartono, mantan pelatih Macan Putih?

ADI NUGROHO

“Jaya Hartono...Jaya Hartono..Iwan Budianto...Aku Ingin, Persik Juara...!” Sebagian besar Persikmania, pasti masih mengingat chant ini. Dua nama itu adalah duet pelatih dan manajer Persik kala itu. Saat Persik berada di kasta tertinggi dan sangat disegani di dunia persepakbolaan negeri ini. Tahun 2003, Bang Jaya, sapaan Jaya Hartono, bahkan membawa Persik menjadi kampium Liga Indonesia. Sebuah prestasi yang meninggalkan momen penuh kenangan. Melegenda hingga sekarang.

Musim ini, nama Jaya Hartono kembali hadir di Persik Kediri. Namun bukan sebagai pelatih. Jaya hadir sebagai pemain. Tentu saja nukan Bang Jaya yang sudah berusia 53 tahun dan mantan pemain Niac Mitra itu, tetapi Jaya Hartono yang lain.

Jaya Hartono ini adalah pemain asli Sidoarjo. Usianya masih muda. Pria kelahiran 20 Juli 1989 ini direkrut untuk mengisi posisi gelandang bertahan. Posisi ‘tukang angkut air’ yang sangat dibutuhkan Persik di masa seleksi.

Saat itu, stok gelandang bertahan memang minim. Hanya ada Eka Sama Adi yang biasa bermain di posisi jangkar permainan. Selebihnya, gelandang seperti Sendy Pratama hingga Ady Eko Jayanto lebih berposisi menyerang. Sedangkan Maldini, masih berusia 19 tahun dan belum banyak pengalaman. “Waktu itu saya sedang di Jakarta, di PS TNI AD. Tahu ada seleksi di Persik akhirnya ikut,” ujar penggemar gelandang Real Madrid, Casemiro ini.

Jaya memang terbilang telat bergabung. Setidaknya dibanding pemain lain, ia baru direkrut belakangan. Namun proses adaptasi tak menjadi masalah baginya. Apalagi keinginan bergabung dengan Persik memang begitu kuat. “Siapa yang tidak ingin gabung di sini. Persik tim besar. Jadi saya senang akhirnya bisa lolos dan masuk tim ini,” paparnya.

Di sektor tengah, Jaya memang paling banyak pengalaman. Jika pemain lainnya, baru bergabung dengan 2-3 klub. Jaya sudah menjelajah ke sejumlah klub. Berawal dari klub pertamanya Deltras Sidoarjo, PSMS Medan, hingga klub terakhirnya PS TNI AD.

Pengalamannya bermain dan berlatih bersama pemain seperti Hilton Moreira dan Cladio Pronetto di Deltras membuatnya tak kesulitan beradaptasi dengan tim Macan Putih musim ini.

Menurut Jaya, tim Persik musim ini sangat kompak. Tak ada jarak antara pemain senior-junior, pelatih, hingga official team. Semua akur baik di dalam maupun di luar lapangan. “Adaptasi di sini mudah. Semua orang supel,” ungkapnya.

Jaya memang mudah dikenali. Apalagi, kalau bukan namanya yang sama plek dengan mantan pelatih legendaris Persik, Jaya Hartono. Meski tak pernah dibandingkan karena beda jauh generasi, namun nama itu ternyata memang punya cerita yang terkait dengan seniornya di sepak bola itu.

Menurut pemain bernomor punggung 6 ini, nama itu adalah pemberian Suwarno, almarhum kakeknya. Kebetulan kakeknya adalah fans Niac Mitra dan pemain favoritnya adalah Jaya Hartono. “Ya nama itu memang terinspirasi dari Jaya Hartono,” paparnya.

Menurut Jaya, banyak anggota keluarganya, baik sepupu hingga pamannya, yang mendapat ‘pesanan’ nama dari sang kakek. Semuanya adalah nama pemain bola di era 80-90an. Seperti Andik Setiyono, Syamsul Arifin, hingga Putu Yasa.

Namun dari semua itu, hanya dirinya yang nyemplung di sepak bola. “Yang lain jadi polsuska (polisi khusus kereta api), polisi, hingga sopir. Saya saja yang ndableg jadi pemain bola,” paparnya lantas tertawa.

Jaya kecil yang hidup di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo memang hidup di lingkungan dimana banyak anak main bola. Namun ketika anak-anak lain hanya sekedarnya bermain, ia justru masuk ke SSB Sinar Harapan.
Dari sanalah ia lantas menggeluti dunia si kulit bundar hingga masuk Deltras Sidoarjo, di level junior maupun senior. Ia pun sempat dilatih Jaya Hartono di tahun 2007 saat Deltras tembus babak 8 besar Divisi Utama Liga Indonesia. “Tapi nggak pernah main waktu itu. Hehee....,” ujarnya. 

Di Persik, Jaya yang sudah punya seorang putra berusia 17 bulan ini memang harus terpisah dari keluarga kecilnya. Ia tinggal di mes bersama pemain lainnya. Setiap hari, ia pun harus berlatih dan baru bisa pulang seminggu sekali.

Makanya untuk melepas kangen, putra pasangan Aji dan Miswati ini kerap mencurahkannya lewat whatsapp (WA). “Setiap hari video call, WA-nan  sama istri dan anak. Kangen. Apalagi kalau anaknya sudah manggil bapaak...bapaak. Wah, kudu pengen muleh (jadi ingin pulang, Red),” bebernya tentang El Xavi si kecil yang mulai belajar bicara.

Di Persik, Jaya mengaku punya target tinggi. Baginya, Persik harus bisa berprestasi lagi seperti di era Jaya Hartono (2003). Setidaknya, meski cukup berat ia optimistis skuad ungu-ungu lolos ke babak 16 besar Liga 2 Indonesia musim ini.

Menurutnya, dengan semangat HUT Kemerdekaan RI saat ini, Persik harus menang di dua laga terakhir. Yakni, melawan Kalteng Putra (29/8) dan Persewangi (9/9). “Harus lolos 16 besar biar merdeka,” ujarnya bersemangat.

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia