Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 32

Nasib Bidak Caturangga Lebih Baik

20 Agustus 2017, 15: 50: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Nasib Bidak Caturangga Lebih Baik

Share this          

“Untuk pertama dan terakhir kali, hamba akan mengabaikan titah maharaja yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan aturan lazim kehidupan bernegara”

Itu sebabnya, o paduka yang bijak bestari, hamba menghadap untuk berpamitan meninggalkan Kutarenon untuk tinggal di Puri Pajarakan yang dilindungi kuwu (kubu) sangat kuat. Hamba sadar bahwa tindakan hamba ini akan membuat marah Sri Baginda Maharaja. Tapi apalah arti kemarahan maharaja bagi orang tua yang sedang melangkah ke dewalaya.”

  Arya Adikara Wiraraja diam. Sebentar kemudian, dengan mata basah dan nafas tertahan di dada ia berkata, “Kita sudah lama mengabdikan diri kita kepada manusia bergelar maharaja yang tidak pernah kita fahami jalan pikiran dan kemauannya. Sepanjang waktu, kita diharuskan untuk mematuhi apa pun titah maharaja seolah kita adalah bidak catur di atas papan permainan Caturangga. 

Sungguh, bidak caturangga lebih baik nasibnya, karena mereka yang memainkan tidak pernah mengambil langkah dengan kebijakan yang bertentangan dengan aturan bermain dan akal sehat. Sementara kita?”

Sang Pranaraja Pu Sina beringsut merangkul kaki Arya Adikara Wiraraja mencurahkan ungkapan hatinya, “Benarlah ujar Yang Mulia. Maharaja yang kita junjung dan kita muliakan, adalah orang yang tidak seutuhnya dapat kita fahami.

Itu sebab, untuk pertama dan terakhir kali, hamba akan mengabaikan titah maharaja yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan aturan yang lazim dalam kehidupan bernegara. Hamba yakin bahwa tindakan hamba ini akan membawa akibat besar bagi hamba dan keluarga hamba. Tetapi bagi hamba, hal itu sudah tidak ada artinya lagi.”

Arya Adikara Wiraraja menepuk-tepuk bahu Sang Pranaraja Pu Sina dengan airmata bercucuran. Kedua orang tua itu saling bertangisan mengungkapkan kepedihan masing-masing. 

Sementara kabar menguatnya kekuasaan Pranaraja Pu Sina di Lamajang yang perlahan-lahan menggeser kekuasaan Arya Adikara Wiraraja dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Dyah Halayudha untuk mempengaruhi Mahapati Mangkubhumi Arya Nambi. 

Melalui seorang utusan Dyah Halayudha meminta perkenan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi untuk bertemu di Grha Kepatihan pada malam hari tanpa diketahui oleh siapa pun karena ia  akan membawa kabar yang sangat penting.

Dan saat pertemuan empat mata dilakukan dalam keheningan malam, Dyah Halayudha membisikkan kata-kata beracun dengan mengatakan bahwa Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengambil kebijakan sebagai perdana menteri.

Pasalnya, sudah beberapa pekan ini Sri Baginda Maharaja Jayanegara menunjukkan rasa tidak senang terhadap segala sikap dan tindakan Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi. Menurut Dyah Halayudha, ia tidak mengetahui pasti alasan ketidak-senangan maharaja terhadap mahapatih mangkubhumi, tetapi ia menduga bahwa ketidak-sukaan maharaja lebih disebabkan oleh kemasyhuran mahapatih mangkubhumi yang makin lama makin dikenal dan dicintai oleh semua orang mulai kalangan pejabat di kutaraja hingga pejabat di daerah-daerah. (bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia