Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 31

Usaha Adu Domba Sahabat Lama

19 Agustus 2017, 16: 52: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Usaha Adu Domba Sahabat Lama

Share this          

”Usia kita sudah tinggal hitungan hari, o Tuan Mulia Junjungan hamba, tidak sepatutnya kita dipermainkan orang-orang jahat untuk saling berebut kekuasaan”

Sang Arya Adikara Wiraraja merasa tidak ada guna apa pun berebut kekuasaan dengan Sang Pranaraja Pu Sina, kerabat sekaligus sahabat lama yang sudah kenyang menelan pahit dan getirnya menjadi abdi maharaja sejak mendiang Sri Prabhu Kertanegara.

Sementara Sang Pranaraja Pu Sina sebagai  orang tua yang juga mengabdi kepada kerajaan semenjak jaman Sri Prabhu Kertanegara bersama-sama dengan Sang Arya Adikara Wiraraja, menyadari benar ketidak-beresan keadaan yang membuatnya harus bersaing dengan Sang Arya Adikara Wiraraja.

Itu sebab, saat memasuki tahun pertama mengemban wewenang sebagai Jurutaruna, penguasa wilayah wakil dari maharaja, yang membawa akibat tumpang-tindihnya pemerintahan di Lamajang, ia sadar sedang ada usaha adu domba antara dirinya dengan sahabat lamanya, Arya Adikara Wiraraja.

Akhirnya, saat mengetahui Arya Adikara Wiraraja akan meninggalkan Kutarenon untuk tinggal di Puri Sumenep, Sang Pranaraja Pu Sina pun menemui Juru Lamajang yang sangat dihormati dan dimuliakannya itu.

Dengan airmata bercucuran, Sang Pranaraja Pu Sina bersimpuh di hadapan Arya Adikara Wiraraja sambil berkata pedih, ”Usia kita sudah tinggal hitungan hari, o Tuan Mulia Junjungan hamba, tidak sepatutnya kita dipermainkan orang-orang jahat untuk saling berebut kekuasaan.

Hamba sangat tahu dan dapat merasakan kepedihan yang paduka derita semenjak kepergian puteranda tercinta Sang Arya Adikara Ranggalawe. Itu sebab, wahai junjungan hamba yang mulia, hambab tidak merasa bangga dan bergembira memiliki putera menjadi mahapatih mangkubhumi Wilwatikta yang menjadi penyebab paduka kehilangan putera tercinta.

Itu sebabnya, o paduka yang bijak bestari, hamba menghadap untuk berpamitan meninggalkan Kutarenon untuk tinggal di Puri Pajarakan yang dilindungi kuwu (kubu) sangat kuat. Hamba sadar bahwa tindakan hamba ini akan membuat marah Sri Baginda Maharaja. Tapi apalah arti kemarahan maharaja bagi orang tua yang sedang melangkah ke dewalaya.”

  Arya Adikara Wiraraja diam. Sebentar kemudian, dengan mata basah dan nafas tertahan di dada ia berkata, “Kita sudah lama mengabdikan diri kita kepada manusia bergelar maharaja yang tidak pernah kita fahami jalan pikiran dan kemauannya. Sepanjang waktu, kita diharuskan untuk mematuhi apa pun titah maharaja seolah kita adalah bidak catur di atas papan permainan Caturangga.  (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia