Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Tempe 7 Real, Nasi Pindang 5 Real

18 Agustus 2017, 18: 30: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

Tempe 7 Real, Nasi Pindang 5 Real

Share this          

Hari ini, Jumat (18/8), hari terakhir jamaah haji Kabupaten Kediri mendapat jatah makan. Setelah itu, pemerintah baru member jatah makan saat di Armina (Arafah, Musdalifah, dan Mina). Beruntung, para jamaah sudah mempersiapkan diri.

Sejak dari tanah air, jamaah asal Kediri sudah membawa peralatan memasak. Mulai magic com, panci, atau penggorengan. Demikian pula dengan beras dan bumbu masak.

"Bersyukur sekali maktab (hotel) yang kami tempati fasilitasnya lengkap. Tiap kamar dilengkapi kompor listrik, pemanas air elektrik, dan peralatan makan. Kalau masak nggak perlu repot," ujar Prihatin, jamaah haji asal Branggahan, Ngadiluwih.

Maktab kami, yang ditempati kloter 2 Kabupaten Kediri, hotelnya berfasilitas relatif lengkap. Tersedia mesin cuci. Walaupun satu untuk empat kamar. Dan satu kamar dihuni empat hingga lima orang.

Belanja kebutuhan pun sangat gampang. Di lantai dasar hotel terdapat toko makanan Indonesia. Sayuran, bumbu dapur, hingga buah-buahan tersedia. Aneka sabun, roti, mi instan, krupuk, rempeyek, dan voucher hanphone juga ada. Harganya juga tidak mahal-mahal amat. Telur ayam kampung harganya 1 real. Mi instan 1 real, bawang ukuran segenggaman 1 real. Sayuran seperti terung, buncis, kentang, tahu, tempe harganya berkisar 1 sampai 10 real.

"Alhamdulillah sungguh kami dipermudah. Beda dengan cerita yang saya dengar dari saudara. Ini saya beli tempe dan tahu. Satu pak harganya 7 real" ujar Pak Mat Talil, jamaah asal Turus, Katang.

Sedang bagi jamaah yang tidak mau masak, makanan matang khas Indonesia juga tersedia. Tapi hanya ada di pagi hari. Dijual oleh para pekerja migran asal Indonesia. Tak lewat dari pukul 9 pagi. Setelah itu, mereka harus segera bekerja untuk majikannya.

"Saya sudah kerja di arab sejak 8 tahun lalu. Majikan memberikan izin saya jualan di sini. Rumah majikan juga tidak terlalu jauh dari sini. Asal jam 9 sudah harus pulang," ujar Samsiah, pekerja wanita asal Cirebon yang berjualan bakso, bubur kacang ijo, dan nasi bungkus.

Para pekerja Indonesia itu jualan di dekat hotel-hotel yang dihuni jamaah haji Indonesia. Mereka menggelar dagangannya di pinggir jalan. Jenis makanan yang dijual antara lain nasi bungkus aneka rasa. Mulai nasi kuning, nasi telur, nasi sambel lauk ayam, nasi sambel teri terong, lontong sayur dan lain-lain.

Tak hanya itu, gorengan pun juga ada. Dari tempe, tahu, pindang, begedel, onde-onde, ote-ote, sampai ayam lengkap tersedia. Selain itu ada juga singkong, kentang, dan telur rebus.

Nasi bungkus dijual 5 real, singkong dan kentang rebus 2 real, telur rebus 1 real, gorengan dijual 3 real per paket. Sedangkan bakso seharga 5 real. Kalau ingin bubur kacang hijau siapkan uang 2 real.

Ketika ditanya apakah ada daging unta? Samsiah mengaku sulit mendapatkannya. Tidak semua orang bisa mendapat daging unta. Hanya orang tertentu saja yang bisa beli. Walaupun sebenarnya harganya sama dengan harga daging sapi.

Selain makanan kaki lima yang dijual warga Indonesia, pilihan makanan lainnya adalah restoran khas timur tengah. Paling banyak restoran Turki. Ada juga restoran arab. Tentu harus merogoh real lebih banyak untuk makan di sana. Rata rata perpaket makanan di sana 30 sampai 50 real. Ada juga yang lebih dari itu.

Makan cepat saji, dari gerai waralaba terkenal juga ada. Seperti KFC, McD, dan Starbuck Cafe tinggal pilih. Semua tergantung jumlah real di kantong jamaah.

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia