Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 30

Terjadi Tumpang-tindih Pemerintahan

18 Agustus 2017, 05: 56: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Terjadi Tumpang-tindih Pemerintahan

Share this          

“Sang Arya Adikara Wiraraja merasa tidak ada guna berebut kekuasaan dengan Sang Pranaraja Pu Sina yang sudah kenyang menjadi abdi maharaja”

Sejak memperoleh bagian wilayah Lamajang Tigang Juru dari Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana, Sang Arya Adhikara Arya Wiraraja -- dengan tanpa semangat akibat kematian putera kebanggaannya Arya Adhikara Ranggalawe – memerintah Lamajang tigang Juru dibantu puteranya dari selir asal Wirabhumi,  Arya Wangbang Menak Koncar, yang mengasuh putera Arya Adikara Ranggalawe yang belum dewasa, Kuda Anjampiani.

Sejak Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana mangkat, atas usulan Dyah Halayudha, Sri Baginda Maharaja Jayanegara memberikan kewenangan kepada Sang Pranaraja i Lamajang Pu Sina untuk menjadi wakil maharaja Wilwatikta di Lamajang.

Akibat kebijakan itu, terjadi tumpang tindih antara pemerintahan Sang Arya Adikara Wiraraja yang disahkan Sri Maharaja Kertarajasa Jayawarddhana dengan pemerintahan Sang Pranaraja Pu Sina yang ditetapkan Sri Maharaja Jayanegara.

Arya Wangbang Menak koncar tidak dilahirkan di dalam keluarga kerajaan Lamajang yang beribukota di Kutorenon, melainkan di wilayah Wirabhumi tepatnya di kutha Ktah karena ibundanya puteri Raja Wirabhumi, namun demikian Arya Wangbang Menak Koncar adalah putera Arya Adikara Wiraraja pewaris Lamajang Tigang Juru.

Sementara Mahapatih Mangkubhumi Arya Nambi adalah putera Sang Pranaraja Pu Sina, yang lahir dan tumbuh dewasa di bumi Lamajang. Itu sebabnya, Arya Nambi memiliki lebih banyak kerabat dan kawan dekat di Lamajang dibanding Arya Wangbang Menak Koncar.

Sehingga tidak sampai setahun Sang Pranaraja Pu Sina diberi kekuasaan di Kajuruan Lamajang, membuat Arya Adikara Wiraraja bersiap-siap meninggalkan Kutarenon untuk tinggal di puri kediamannya di Sumenep yang terletak di selatan kutaraja.

Sang Arya Adikara Wiraraja merasa tidak ada guna apa pun berebut kekuasaan dengan Sang Pranaraja Pu Sina, kerabat sekaligus sahabat lama yang sudah kenyang menelan pahit dan getirnya menjadi abdi maharaja sejak mendiang Sri Prabhu Kertanegara.

Sementara Sang Pranaraja Pu Sina sebagai  orang tua yang juga mengabdi kepada kerajaan semenjak jaman Sri Prabhu Kertanegara bersama-sama dengan Sang Arya Adikara Wiraraja, menyadari benar ketidak-beresan keadaan yang membuatnya harus bersaing dengan Sang Arya Adikara Wiraraja. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia