Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Motret Boleh, Berlebihan Jangan

16 Agustus 2017, 05: 26: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

Motret Boleh, Berlebihan Jangan

Share this          

Renovasi Masjidilharam memang belum rampung 100 persen. Namun bagian-bagian penting sudah selesai. Hampir keseluruhan lantai bisa difungsikan untuk salat berjamaah. Hanya di salah satu sudut saja yang bangunan utamanya masih dikerjakan.

Berbeda dengan 2013 lalu. Saat itu Jawa Pos Radar Kediri juga berkesempatan ke sini. Saat itu hampir separo bagian dalam proses pembangunan. Saat itu masih ada trek tambahan untuk tawaf. Berupa bangunan rangka besi bertingkat mengelilingi kakbah. Kini trek itu sudah dibongkar.

Halaman tawaf disekitar kakbah menjadi semakin lebar. Dilengkapi tempat wudlu di setiap anak tangga menuju pelataran tawaf. Yang untuk perempuan diberi penutup.

"Sebelum ini kalau batal harus keluar masjid untuk wudlu. Kerena tempat wudlunya di halaman masjid. Alhamdulillah sekarang bisa dekat," ujar Ahmad, jamaah asal Ngadiluwih yang mengaku ini kunjungan keduanya ke Makkah.

Akses menuju ke pelataran tawaf dari lantai atas juga semakin mudah. Baik dari lantai satu, dua, atau tiga dilengkapi dengan tangga bergerak alias eskalator. Entah berapa jumlahnya. Mungkin ratusan, atau bahkan ribuan. Ada juga lift elevator untuk naik tiap lantai hingga atap. Tapi belum difungsikan.

Di beberapa sudut, dekat pintu masuk disediakan buku-buku agama dalam berbagai bahasa. Boleh diambil gratis. Mulai buku-buku panduan ibadah sehari hari hingga buku tafsir Alquran dan panduan doa-doa.

Tedapat juga ruang perpustakaan dengan koleksi buku dan kitab-kitab. Koleksinya sangat banyak. Tertata rapi. Ada jajaran komputer untuk mencari buku. Tinggal ketik jenis buku. Akan keluar posisi buku. Atau bisa juga mengakses buku dan kitab digital di sana.

"Saya ngambil ini. Panduan ibadah haji dan umrah. Buat nambah wawasan. Agar lebih mantab nanti saat berhaji," terang Fakruddin, jamaah asal Malaysia dengan bahasa melayu kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Bagian yang kelihatan masih dalam perbaikan adalah atap di setiap lantai. Hampir di keseluruhan atap masih terbuka. Instalasi kabel dan jaringan pendingin udara atau Air conditioner (AC) bergantungan. Termasuk jaringan sound system. Semuanya terlihat terbuka. Belum tertutup plafon.

Ornamen-ornamen hiasan dinding dan kaligrafi di bagian tertentu saja. Sebagian besar masih dinding polosan. Di bagian sudut tertentu masih ada tower crane berdiri. Para pekerja pun masih ada di bagian itu. Suara benturan palu terdengar di antara dengung doa para jamaah. Hanya ketika adzan dan waktu salat para pekerja berhenti .

Di bagian pintu utama, atau pintu King Abdul Azis tampak baru selesai. Masih berupa cor semen. Belum dilapisi batu marmer putih bercorak seperti pintu lainnya. Di bagian paling atas pintu itu, besi tulangan beton masih terlihat semburat.

Pintu King Abdul Azis ini berhadapan langsung dengan pintu utama Zamzam Tower. Salah satu hotel terdekat dengab Masjidilharam. Lantai bawah Zamzam Tower adalah pusat perbelanjaan. Mall itu kira-kira terdiri dari lima lantai. Lantai di atas mall adalah kamar hotel.

Kamar hotel di Zamzam Tower langsung menghadap kakbah. Hingga penghuni bisa salat jamaah di kamar hotel. Di samping Zamzam Tower ada mall lain yang familiar di Arab. Bin Dawood Mall. Sama seperti Zamzam Tower, di atas Bin Dawood juga hotel yang kamarnya menghadap Kakbah.

Di bagian yang lain juga dipenuhi hotel. Lengkap dengan pertokoan. Sebagian  masih dalam proses. Tower crane terlihat menjulang di hotel-hotel itu. Juga ada helipad.

"Masya Allah. Saya bener-bener takjub dengan bangunan di sini. Tak ada bangunan yang saya kenali lagi. Dulu masih dikelilingi gunung dan padang luas. Sekarang dikelilingi gedung bertingkat," ujar KH Asyaryi, salah satu jamaah haji asal Kandangan yang sudah berhaji 40 tahun lalu. Menurut KH Asyaryi, saat itu 1977, dia berhaji dengan naik kapal laut.

Yang juga baru, penjagaannya. Lebih ketat di setiap gerbang masjid. Setiap jamaah tak luput dari pengawasn.  Tas diperiksa. Baik laki-laki maupun perempuan. Kamera besar tak boleh dibawa masuk. Tapi ponsel masih diperbolehkan.

Dahulu dilarang memotret di dalam masjid. Tapi kini terlihat dibolehkan. Bahkan di sekitar Kakbah banyak jamaah yang memotret dengab kamera ponsel. Atau ber-video call dengan keluarganya di rumah. Hanya yang berlebihan dan dianggap mengganggu jamaah lain baru ditegur laskar berseragam yang berjaga.

"Silakan berfoto sewajarnya. Jangan berlebihan. Ingat tujuan kita kesini adalah beribadah. Jangan sampai nilai ibadah kita kurang sempurna karena hal-hal seperti itu. Selalu jaga keiklasan niat ibadah kita," ujar Gus Ahsin, ketua rombongan, mengingatkan kami.

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia