Sabtu, 29 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Mursalina Nur Buana, Siswi MTsN Grogol Raih Emas dalam KSM Nasional 2017

Suka Iseng Bikin Eksperimen Sendiri di Rumah

16 Agustus 2017, 06: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

PRESTASI: Mursalina Nur Buana bersama Kepala MTsN Grogol Agus Gunawan dan gurunya, Dina Agustianingsih.

PRESTASI: Mursalina Nur Buana bersama Kepala MTsN Grogol Agus Gunawan dan gurunya, Dina Agustianingsih. (M FIKRI ZULFIKAR – RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Ketekunan Mursalina Nur Buana belajar biologi berbuah prestasi membanggakan. Lolos seleksi di kabupaten dan provinsi, siswi MTsN Grogol ini akhirnya berlaga di tingkat nasional. Hasilnya, prestasi tertinggi diraih.

MOH. FIKRI ZULFIKAR  

CERDAS: Dina Agustianingsih saat diundang Bupati Haryanti.

CERDAS: Dina Agustianingsih saat diundang Bupati Haryanti.

Wajah polos dan semringah terpancar di wajah gadis berperawakan kurus ini. Mengenakan jaket hijau bertuliskan kontingen Jawa Timur, dia tersipu malu-malu. Berada di dekatnya, semerbak wangi bunga melati menyeruak hingga memenuhi ruangan kepala MTsN Grogol.

Senin pagi itu (14/8), si gadis tersebut, Mursalina Nur Buana, menerima kalungan bunga melati. Dia mendapat penyambutan di sekolahnya karena baru saja memboyong medali emas dalam Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Mata Pelajaran (Mapel) Biologi 2017 di Jogjakarta.

Namun prestasi itu tak mudah diraih siswi MTsN Grogol ini. Ajang bergengsi tersebut telah dilaksanakan 6-12 Agustus di Jogjakarta. Awalnya Lina lolos seleksi dari sekolah. Lantas dia mewakili MTsN Grogol dalam seleksi tingkat kecamatan.

“Di tingkat kecamatan, Lina harus mengalahkan perwakilan 8 sekolah swasta lain,” terang Kepala MTsN Grogol Agus Gunawan.

Begitu lolos seleksi tingkat kecamatan, Lina dikirim bertanding KSM di tingkat Kabupaten Kediri. Kali ini, dia kembali menang dan mendapatkan piala Juara I Biologi sekabupaten. Maka ia berhak bertanding di tingkat provinsi di Surabaya.

Di KSM tingkat Jawa Timur (Jatim), anak pasangan Eko Budi Yuhono dan Muawanah ini kembali mendapatkan piala juara satu. “Setelah itu Lina mewakili ke tingkat nasional di Jogja,” ungkap Agus.

Di KSM tingkat nasional, Lina harus menghadapi tes tulis mencakup pelajaran biologi. Kemudian praktikum. Namun ada yang berbeda dalam olimpiade ini. Karena diikuti madrasah se-Indonesia, ada pula tes pelajaran agama. Lina menjalaninya dengan tekun dan serius. Hingga ia mendapatkan nilai terbaik dan meraih medali emas. “Menurutnya (Lina, Red) yang sulit adalah saat tes praktikum,” terang Dina Agustianingsih, guru pembina Lina.

Terlebih saat hendak berangkat ke Jogjakarta, tantangan yang akan diteskan tidak disebutkan. Panitia hanya memberi informasi, peserta bidang sains wajib membawa penggaris dan kalkulator. “Awalnya saya dan Lina menganggap tesnya berhubungan dengan pertumbuhan. Makanya kami mengukur pertumbuhan tanaman hingga hewan,” ujar Dina.

Namun, ketika kompetisi ternyata tesnya disuruh mengamati preparat. Penggaris dan kalkulator malah tak digunakan. Peralatan itu rupanya hanya digunakan peserta mapel fisika.

Karena mengamati preparat, alat yang digunakan adalah mikroskop. Itu sudah disediakan panitia. “Beruntung Lina sudah pernah belajar memakai mikroskop untuk mengamati sel saat pelajaran biologi,” ungkap Dina.

Saat itu, Lina mengamati preparat serangga dan preparat batang tumbuhan. Yang paling sulit adalah menyebutkan bagian-bagian sel dalam dua hal yang diamatinya. Sebab butuh kemampuan menghafal nama ilmiah yang kebanyakan dari bahasa latin. “Alhamdulillah saya hafal bentuk bagian dan namanya sekaligus,” ungkap gadis kelahiran 4 Agustus 2002 ini.

Kemampuan menghafal inilah yang membawa Lina meraih medali emas. Dia sempat kaget mengetahui banyak peserta dari Indonesia Timur yang belum bisa mengoperasikan mikroskop. Sehingga mereka kerap bertanya ke panitia cara kerjanya.

Ketika berlomba, bagi Lina, lawan terberatnya adalah dari tuan rumah Jogjakarta. “Ya mereka terlihat sangat PD (percaya diri). Mungkin karena di rumah mereka sendiri jadi semakin siap mereka,” papar gadis asal Desa Bakalan, Kecamatan Grogol ini.

Lina mengaku, sejak dari SD memang sudah menggemari pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA), khususnya tentang biologi. Terlebih, dia juga suka iseng-iseng melakukan percobaan di rumah.

Seperti setelah mendapatkan materi tentang pertumbuhan pohon. Lina kerap mencobanya di rumah menggunakan kapas yang diberi air untuk ditanami kacang. “Iya Mas suka iseng-iseng coba di rumah. Seperti percobaan kacang itu,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Karena prestasinya yang mendapatkan medali emas di KSM 2017 ini, Selasa siang kemarin (15/8), Lina diundang ke Wisma Tamu di Kantor Pemkab Kediri. Siswi MTsN Grogol ini diundang menemui Bupati Haryanti Sutrisno.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Haryanti sangat apresiatif mendapati anak muda dari Kabupaten Kediri mampu meraih prestasi bergengsi tingkat nasional. Berkat ketekunan, disiplin, dan kerja kerasnya hingga bisa mendapatkan prestasi yang membanggakan kabupaten.

Memotivasi siswi ini, bupati pun memberikan hadiah sebuah laptop. Harapannya peranti elektronik tersebut dapat menunjang prestasinya di masa depan.

“Saya cukup apresiasi terhadap prestasi Lina. Semoga bisa dipertahankan. Lebih-lebih bisa ditingkatkan lagi,” tutur Haryanti.

(rk/fiz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia