Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Sembelih 100-an Kambing Cuma 30 Menit

14 Agustus 2017, 08: 55: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

KURBAN: Suasana penyembelihan hewan di Tanah Suci.

KURBAN: Suasana penyembelihan hewan di Tanah Suci. (M ARIF HANAFI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

Konsekuensi menjalani ibadah haji tamattu membuat jamaah haji Kediri harus membayar dam (denda). Dengan menyembelih kambing. Pasar hewan Muaisin pun jadi ladang ‘perburuan’.

Mayoritas jamaah haji asal Indonesia melaksanakan haji tamattu dalam rangkaian ibadah hajinya. Karena melaksanakan umrah terlebih dulu baru kemudian berhaji, yang melakukan haji tamattu harus membayar dam (denda).

Ada dua jenis dam. Dam nuzuk dan dam isa'ah. Dam nusuk adalah denda yang harus dibayar jamaah yng mengerjakan haji tammatu dan haji qiran bukan karena melanggar. Sedang dam isa'ah adalah denda karena pelanggaran tata cara berhaji.

"Kita sudah dipermudah oleh Allah dalam proses haji kita. Mari kita segerakan membayar dam nusuk. Satu orang wajib menyembelih satu kambing," kata Gus Ahsin, ketua rombongan 8, kloter 2 Kabupaten Kediri.

Sebenarnya, selain menyembelih kambing, dam nusuk bisa diganti dengan berpuasa 10 hari . Tiga hari di Makkah dan tujuh hari setelah pulang haji. Namun jamaah lebih memilih menyembelih kambing.

Karena itulah, para ketua regu, dipimpin ketua rombongan, bersama-sama menuju pasar hewan. Pasar itu bernama Muaisin. Berada di daerah Mina. Di dekat Jamarat. Kira-kira lima kilometer dari maktab kami di Masbajin.

"Nanti jangan bawa uang dulu. Bayarnya kalau sudah disembelih dan berada di hotel saja," ujar Mursidi, mukimin yang membantu kami ke Pasar Muaisin.

Kami bersepuluh. Delapan ketua regu dan dua ketua rombongan. Kami menyewa mobil mirip Mitsubishi L-300 tapi lebih ramping dan panjang. Entah mobil merk apa. Karena tidak ada logo yang menempel di bodi mobil tersebut. Sopirnya warga Arab asli.

Sekitar 30 menit perjalanan kami sampai. Lokasi pasar agak jauh dari pemukiman. Jalan menuju pasar sedikit menurun. Seperti berada di suatu lembah dan padang yang luas.

Bangunan utama pasar tersebut sangat besar. Sekitar 150 x 100-an meter. Ada parkiran luas di depan bangunan tersebut. Disekeliling pasar banyak petak-petak berpagar kayu sebagai kandang hewan. Jumlahnya sangat banyak. Kalau digabung, petak-petak itu lebih luas dibanding bangunan utamanya.

Di sepanjang jalan masuk menuju pasar dipenuhi petak kandang tersebut. Berbagai jenis kambing terlihat di dalamnya. Kami tidak melihat unta sama sekali. Hanya ada kambing.

Setelah memarkir kendaraan, kami langsung masuk ke dalam bangunan utama. Bau anyir darah menyengat kuat. Di dalam terdapat deretan los penyembelihan hewan. Los itu beralas anyaman besi stenlis. Di atasnya dipenuhi deretan cantolan daging. Mirip pasar daging di indonesia. Tapi lebih banyak. Ada juga selang yang terhubung ke kran air.

Kami disambut seseorang dengan pakaian jubah khas arab. Gus Ahsin, Haji Mursidi dan orang tersebut berbicara dalam bahasa Arab. Kemudian orang tersebut memerintahkan anak buahnya untuk memasukkan kambing-kambing yang akan disembelih.

Saat itu kami memesan 111 kambing. Sesuai jumlah rombongan yang ikut dengan kami. Kambing-kambing itu dihargai 400 real per ekor. Tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar. Kira-kira bobotnya 25-30 kilogram.

Dan proses penyembelihan dimulai. Sangat cepat. Seratus sebelas kambing hanya butuh waktu 30 menit. Sang jagal begitu ahli dan terlatih. Dengan pisau yang tidak terlalu besar. Sekali gorok selesai. Pisaunya sangat tajam. Tentu saja diawali dengan basmallah dan takbir. Gus Ahsin membacakan satu-satu nama jamaah untuk setiap kambing yang disembelih.

"Alhamdulillah selesai. Rasanya lega sekali bisa melihat langsung proses penyembelihan. Semoga ini diterima sebagai dam nusuk kami karena melaksanakan haji tamattu," ujar Joko Priono, ketua regu 2, rombongan 8.

Ketua regu lainnya sibuk mengabadikan proses itu dengab kamera handphone. Ada yang sekadar foto atau merekam dalam bentuk video. "Ini saya habis memori 2 giga untuk merekam video. Biar anggota regu bisa menyaksikan juga," ujar Ikhwan Rudianto, ketua regu lainnya.

Usai penyembelihan kami kembali ke hotel. Kami tidak meminta daging kambing tersebut. Kami serahkan semua untuk disalurkan. Sampai di hotel baru kami bayar harga kambing tersebut kepada pedagang yang memang mengikuti sampai hotel. Alhamdulillah, dam nusuk sudah terbayar.

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia