Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 22

Dukung Gerakan Melawan Maharaja

10 Agustus 2017, 08: 05: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Dukung Gerakan Melawan Maharaja

Share this          

“Akibat ketegangan dari permusuhan Panjalu dan Tumapel, gunung, lembah, hutan, sungai, dan jalan yang membetang antara Tumapel dan Panjalu tidak aman”

Mengetahui Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dinobatkan sebagai Bhatara Guru titisan Syiwa Mahaguru, Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya menyiagakan 60.000 bala prajurit yang dipimpin Sang Panji Wulung Mahesa Walungan dan Gubar Baleman.

Bahkan 10.000 orang pasukan yang dipimpin Sri Tarunaraja Sang Mapanji Shastrajaya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah keponakan Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya.

Sekalipun pengerahan kekuatan masing-masing pihak dilakukan dengan diwarnai saling menantang satu sama lain untuk membuktikan kegagahan, keperkasaan dan keunggulan, namun belum satu pihak pun yang mengambil prakarsa untuk menyerang.

Akibat ketegangan dari permusuhan Panjalu dan Tumapel, gunung, lembah, perbukitan, hutan, sungai, dan jalan yang membetang antara Tumapel dan Panjalu menjadi tidak aman.

Para pedagang tidak satu orang pun yang berani melintasi daerah itu karena tidak ada yang tahu apakah para begal, penyamun, perampok, pembunuh yang melakukan kejahatan di kawasan itu adalah benar-benar orang jahat ataukah prajurit Panjalu dan Tumapel.

Namun dalam perselisihan yang berlangsung selama bertahun-tahun itu memberikan keuntungan Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, karena raja-raja Janggala di wilayah pesisir diam-diam mendukung gerakannya dalam melawan kekuatan Maharaja Panjalu Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya.

Sri Prabhu Linggapati yang berkedaton di Mahibit (Tuban),  Sri Narapati Wiswanatha di Pamwwatan (Lamongan) dan Sri prabhu Narajaya di Janggala (Sidoarjo) mendukung penuh perjuangan Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi melawan Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya.

          Tahun 1144 Saka bulan Bhadra adalah puncak perselisihan Panjalu dengan Tumapel karena pada saat itu kekuatan kedua belah pihak sudah tidak dapat dikendali. (bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia