Jumat, 17 Jan 2020
radarkediri
icon-featured
Features
Laporan Haji 2017 Langsung dari Tanah Suci

Seperti di Depan Tungku Api

09 Agustus 2017, 21: 13: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

JELANG BADAI: Suasana hotel jamaah haji.

JELANG BADAI: Suasana hotel jamaah haji. (M ARIF HANAFI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

 

Wartawan Jawa Pos Radar Kediri M. Arif Hanafi, yang saat ini berada di Tanah Suci, melaporkan jamaah haji Kediri sudah merasakan suhu panas ketika tiba di Medinah 929/7). Saat mendarat di Bandara International Pangeran Mohammad Bin Abdul Azis, kru pesawat sudah member tahu suhu udara 47 derajat celcius. Padahal saat itu lepas maghrib, sekitar pukul 19.30 waktu setempat.

Benar saja, begitu keluar dari pesawat, angin yang berembus pun terasa panas menyengat. “Rasane kados teng ngajeng luweng bong-bongan boto, Mas (rasanya seperti berada di tungku pembakaran batu-bata, Red),” ucap Suparli, jamaah haji Kabupaten Kediri yang juga guru matematika di SMAN 6 Kota Kediri.

Suhu panas menyengat tidak hanya terjadi di siang hari. Ketika malam tiba pun angin masih berembus panas. Suhunya di kisaran 42-45 derajat celcius. "Beberapa jamaah mengaku tiba-tiba mimisan. Setelah saya tanya ternyata beliau tak mau pakai masker. Sehingga udara panas langsung masuk ke sistim pernapasan," terang dr Nanik Kusnani, kepala Tim Kesehatan Kloter 2 Kabupaten Kediri.

Menurut Nanik, dia selalu menyarankan jamaah agar selalu mengikuti petunjuk kesehatan.  Barang-barang seperti masker, penutup kepala, kaca mata hitam, dan semprotan air, menjadi barang wajib yang harus dibawa kalau keluar. “Agar efek cuaca ekstrem tereduksi dengan itu," papar Nanik.

Akibat cuaca ekstrem seperti itu, jamaah haji banyak yang mengalami gangguan saluran pernafasan. Beberapa di antaranya mengalami head stroke. Kondisi di mana tubuh menerima sengatan panas di luar batas. Beberapa jamaah ada yang tiba-tiba pingsan akibat head stroke itu.
"Penanganannya pasien harus segera dibasahi seluruh tubuhnya. Kemudian segera bawa ke bagian kesehatan," lanjut Nanik.

Selain cuaca ekstrem, ketika di Madinah jamaah haji juga mendapat gangguan lain. Yaitu sempat terjadi badai pasir. Untungnya badai tersebut tak berlangsung lama. Namun tetap saja membuat pandangan jadi terbatas. Akibat pasir yang bergulung-gulung di jalanan. Setelah itu diikuti dengan guyuran hujan.

Namun, jangan bayangkan udara langsung sejuk setelah badai pasir disusul hujan itu. Udara tetap saja panas menyengat.

Sementara itu, selama di Madinanh, jamaah haji Kota dan Kabupaten Kediri  mendapat maktab di hotel yang sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Hanya 200 meter dari pintu 7 gerbang Masjid Nabawi. Pintu 7 tersebut lurus dengan pintu Babusssalam, akses menuju makam Rasulullah SAW dan Raudah.

Para jamaah haji ini berada di Madinah selama sedikitnya delapan hari. Selama itu mereka menjalankan ibadah arbain. Yaitu salat berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 kali berturut-turut. Juga ziarah ke tempat bersejarah. Seperti ke Masjid Kuba’, Masjid Kandaq, Masjid Kiblataein, Jabal Uhud, dan tempat penting di sekitar Masjid Nabawi.

(rk/han/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia