Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Cerbung
Mpu Gama 20

Kabar Kematian Cepat Menyebar

08 Agustus 2017, 16: 40: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Kabar Kematian Cepat Menyebar

Share this          

“Kebo Hiju mendongak ke atas melihat bagian dalam atap pendapa. Saat itulah, secepat kilat Panji Samara menikamkan keris pusaka ke perut Kebo Hiju”

Sadar bahwa telah terjadi kesalah-fahaman karena beberapa wajah penyerang dia kenali sebagai perwira Panjalu yang mengawal  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya, Kebo Hiju berteriak-teriak memohon agar serangan dihentikan, “Tunggu dulu! Tunggu! Jangan menyerang! Ini kesalah-fahaman! Tunggu!”

“Kesalah-fahaman apa, maksudmu?” sergah Panji Samara, kerabat  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya dengan mata berkilat-kilat diliputi amarah,”Kau masih mungkir atas kejahatanmu?”

“Apa maksud yang mulia?” sahut Kebo Hiju gemetar ketakutan,”Kejahatan apa yang telah hamba lakukan?”

Panji Samara mendekat diikuti belasan prajurit pengawal  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya dengan keris pusaka terhunus. Saat jarak dengan Kebo Hiju sekitar dua-tiga dpa, Panji Samara menudingkan tangan ke atas sambil berkata dengan suara ditekan tinggi, “Kau lihatlah, apa yang tersembunyi di atap pendapa itu!”

Kebo Hiju mendongak ke atas melihat bagian dalam atap pendapa. Saat itulah, secepat kilat Panji Samara menikamkan keris pusaka yang dipegangnya ke perut Kebo Hiju.

Blesss!

Kebo Hiju terbelalak kaget merasakan kesakitan luar biasa menyengat perutnya. Namun sebelum ia melakukan sesuatu, ia saksikan belasan prajurit pengawal Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya berlompatan ke arahnya sambil menikamkan keris pusaka masing-masing ke perut, dada, bahu, lambung, bahkan leher Kebo Hiju.

Kabar kematian Kebo Hiju menyusul kematian Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru negeri, disambut gembira para kawula Tumapel. 

Lalu di tengah persiapan perabuan jenazah kabar tewasnya Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya yang ditikam di atas peraduannya, bala yang mendukung Ranggah Rajasa bergerak dari Gunung Lejar ke kutaraja untuk menyerang dan menghabisi perwira-perwira Panjalu.

Begitulah, di tengah kemenangan yang diwarnai tumpahnya darah perwira-perwira Panjalu, Ranggah Rajasa dinobatkan sebagai Maharaja Tumapel dengan gelar abhiseka: Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, sekaligus menyunting Dyah  Ardhanareswari Nararya Prajnyaparamitha sebagai permaisuri.(bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia