Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 19

Kebo Hiju Terima Keris Pusaka

08 Agustus 2017, 08: 44: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

Kebo Hiju Terima Keris Pusaka

Share this          

Tetapi dua-tiga hari seiring merebaknya berita pusaka Nagapasa yang luar biasa itu, berkembang pula berita terbunuhnya Mpu Gandring dan tiga bilah  keris pusaka buatannya yang hilang.

Kebo Hiju terkejut bukan alang-kepalang mendengar kabar kematian Mpu Gandring dan hilangnya tiga pusaka buatannya, karena sangat mungkin ia akan menjadi tersangka utama pembunuhan dan pencurian keris tersebut.

Saat itulah Gagak Inget datang dan meminta kembali keris pusaka tersebut.

Gagak Inget memberi Kebo Hiju keris pusaka baru sebagai bukti bahwa keris yang dimilikinya bukanlah keris bikinan Mpu Gandring. Dalam kebingungan, Kebo Hiju menerima keris pusaka baru tanpa mempertanyakan ini dan itu tentang keris tersebut. Ia berharap dengan bukti keris baru itu, ia tidak memiliki keris pusaka bikinan Mpu Gandring yang telah dijadikan bualan itu.

Sementara itu, usai membawa keris pusaka Nagapasa dari Kebo Hiju, Gagak Inget ke Gunung Lejar untuk memberikan keris pusaka itu kepada Ranggah Rajasa yang sudah menunggu dengan persiapan perang. Sewaktu Gagak Inget memasuki kaki Gunung Lejar, ia sudah menyaksikan sekitar seratus orang bersenjata tombak dan pedang  dipimpin oleh Panji Kunal dan Panji Kuncang.

Seratus orang bersenjata panah dan pedang dipimpin Panji Bawuk dan  Panji Kenengkung. Tidak kurang dari tigaratus prajurit berpedang dan pemanah dipimpin oleh Tuwan Tita. Bersiaga perang juga Bala Sinelir yang dipimpin Mapanji Bango Samparan. Gagak Inget tidak mengetahui, kekuatan pendukung darimana lagi yang siap membela Ranggah Rajasa.

Ia mendiga lebih dari seribu orang yang kelihatannya bersiaga tempur untuk membela Ranggah Rajasa. Anehnya, Ranggah Rajasa member perintah agar siapa pun yang berada di Gunung Lejar tidak meninggalkan tempat sampai Ranggah Rajasa kembali.

Sepanjang siang hingga malam, semua orang yang sudah bersiaga tempur menunggu kedatangan Ranggah Rajasa dengan kecamuk pikiran yang mengobarkan kecemasan, kerisauan, kegalauan, kegamangan, dan keresahan yang berujung pada kebingungan dan ketegangan. Semakin larut malam merangkak semakin meningkat ketegangan dirasakan.

Apakah sesungguhnya yang sedang dilakukan Ranggah Rajasa? Apakah ia akan menyerang  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya seorang diri? Untuk apakah ratusan orang pendukung setianya dikumpulkan di Gunung Lejar?

Kecemasan, kerisauan, kebingungan, dan ketegangan itu berubah menjadi kegembiraan dan sukacita manakala fajar merekah di langit timur ditandai teriakan-teriakan yang sambung-menyambung tentang tewasnya  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya, yang disambut hiruk teriakan menggemuruh laksana bukit runtuh.

“Aji Jayakerta mati!”

“Tunggul Ametung tewas!”

“Jaya Yang Mulia Sri Ranggah Rajasa !”

“Hidup Sri Ranggah Rajasa!”

Sementara itu, kabar tewasnya Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya yang ditikam di atas peraduannya itu membuat  Kebo Hiju terkejut bukan alang-kepalang.  Namun sebelum menyadari adanya dugaan hubungan antara kematian  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya dengan dirinya, Kebo Hiju mendapati kediamannya telah dikepung  orang-orang yang sangat bernafsu ingin membunuhnya. Hal itu disadari Kebo Hiju sewaktu ia berjalan ke luar dari kamar menuju ke pendapa disambut sambaran panah-panah yang berdesingan seperti hujan dari arah gerbang dan teras banjar. Beruntung tidak satu pun panah mengenai sasaran dan sebagian panah menancap di tiang pendapa, yang lain berserakan di lantai.

Sadar bahwa telah terjadi kesalah-fahaman karena beberapa wajah penyerang dia kenali sebagai perwira Panjalu yang mengawal  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya, Kebo Hiju berteriak-teriak memohon agar serangan dihentikan, “Tunggu dulu! Tunggu! Jangan menyerang! Ini kesalah-fahaman! Tunggu!”

“Kesalah-fahaman apa, maksudmu?” sergah Panji Samara, kerabat  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya dengan mata berkilat-kilat diliputi amarah,”Kau masih mungkir atas kejahatanmu?”

“Apa maksud yang mulia?” sahut Kebo Hiju gemetar ketakutan,”Kejahatan apa yang telah hamba lakukan?”

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia